SAYA KECEWA AKHI..!!!

dikutip dari tullisan Yusran, ST

“Akh, dulu ana merasa sangat semangat dan aktif dalam dakwah ini. Tapi belakangan ini kok rasanya semakin hambar ya. Liqo’at hanyalah sekedar Rutinitas mingguan yang tidak lagi punya arah dan konsep yang jelas untuk berkembangnya dakwah ini, nggak ada peningkatan ruhiyah, fikriyah, jasadiyah, apalagi maaliyah sama sekali, kalau dulu ketika berjumpa ikhwah ceritanya lebih banyak tentang ruhiyah tapi sekarang lebih banyak cerita tentang rupiah. Ukhuwah terasa semakin kering.

Banyak sekali kader yang aktivitas & kontribusinya dalam dakwah ini tidak sesuai dengan level keanggotaannya, apa mungkin karena program akselerasi yang terlampau tinggi, sehingga tidak terevaluasi lagi dengan sangat mendalam dalam hal pengrekrutan. Bahkan akh, ana melihat kenyataan hari ini banyak sekali ikhwah kita sekarang kok aneh-aneh ya sikap dan gaya hidupnya. ” Begitulah keluh kesah seorang kader kepada sahabatnya di suatu senja di bawah rindangnya pohon cemara.

Sang sahabat ini menyimak dengan seksama setiap kata yang keluar dari mulut rekannya ini, ia mencoba memahami curahan hati ini dan terus menggali semua kecamuk yang membuncah dalam jiwa rekannya ini. “Jadi…, ini tujuan antum mengajak ana untuk datang kemari, Lalu…, apa yang ingin antum lakukan akhi setelah merasakan semua kondisi seperti ini?” sahut sang sahabat setelah sesaat memperhatikan kegundahan dan kegelisahan hati rekannya ini.

“Ana sangat kecewa dengan perilaku beberapa ikhwah yang justru tidak lagi Islami, sibuk dengan dunianya, sibuk dakwah kesana kemari tapi kurang maksimal dalam melakukan dakwah keluarga, nggak seperti dulu waktu masanya Partai Keadilan yang semua kadernya All Out, berlomba-lomba berkontribusi dan memberikan yang terbaik untuk dakwah ini, seharusnya akhi, dengan fasilitas yang kita miliki saat ini, akan lebih mudah bagi kita untuk melakukan rekrutmen kader-kader baru, padahal seingat ana dulu, dengan hanya bermodal honda astrea tua, setiap lorong mampu dijelajahi untuk mencari kader-kader baru, uuuh..begitu menyebalkan melihat kondisi mental dan semangat dakwah ikhwah kita hari ini. Kemana hilangnya ruh-ruh perubahan itu…???, Juga dengan organisasi dakwah yang ana geluti saat ini, begitu kaku dan sering mematikan potensi para anggotanya. Bila begini terus kondisinya, ana mendingan sendiri ajalah berdakwahnya…” jawab rekannya ini.

Sang sahabat ini kembali terdiam namun tidak tampak raut terkejut sedikitpun pada roman wajahnya yang begitu lembut. Sorot matanya tetap terlihat tenang, tajam dan berwibawa, seakan jawaban tentang hal itu memang sudah diketahuinya sejak awal.

“Akh, bila suatu ketika antum naik sebuah kapal mengarungi lautan yang begitu luas. Kapal itu ternyata sudah amat rusak dan bobrok. Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu, apa yang akan antum lakukan akh untuk tetap sampai pada tujuan?”, tanya sang sahabat dengan kiasan yang bermakna begitu dalam. Rekannya ini terdiam dan berpikir sejenak. Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam melalui kiasan yang amat tepat ini.

“Apakah antum memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai tujuan?”, sang sahabat mencoba memberi opsi.

“Andaikan antum akhi terjun ke laut lepas, sesaat antum bisa saja akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan ikan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat akhi, Berapa sih kekuatan antum untuk berenang hingga mencapai tujuan? Bagaimana bila ikan hiu datang menyergap? Darimana antum mendapat makan dan minum? Bila malam datang, bagaimana antum bisa mengatasi hawa dinginnya?” serentetan pertanyaan dihamparkan di hadapan rekannya ini.

Tak ayal lagi, rekannya ini menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan yang sedemikian rupa. Kekecewaannya terhadap dakwah ini sudah sangat memuncak, namun sahabatnya ini justru tidak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya.

“Akh, apakah antum masih merasa bahwa jalan dakwah ini adalah jalan yang paling utama menuju ridho Allah?” Pertanyaan menohok ini menghujam jiwa rekannya ini. Ia hanya bisa mengangguk.

“Bagaimana bila ternyata mobil yang antum kendarai dalam menempuh jalan itu temyata mogok? Antum akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu tergeletak di jalan, atau mencoba memperbaikinya?” tanya sahabatnya ini lagi.

Rekannya ini tertunduk lesu dan terdiam dalam sesenggukan tangis perlahannya.

Tiba-tiba ia mengangkat tangannya, “Cukup Akh, cukup..!!! Ana sadar. Maafkan ana akh atas curahan hati ana ini. Ana akan tetap istiqamah akh, Ana berdakwah bukan untuk mendapat medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata dan amal ana diperhatikan dan dipuji oleh semua kader.

“Biarlah yang lain dengan urusan pribadinya masing-masing. Biarlah ana tetap berjalan dalam dakwah ini. Dan hanya Allah saja yang akan membahagiakan ana kelak dengan Janji-Janji-Nya. Biarlah segala kepedihan yang ana rasakan saat ini menjadi pelebur dosa-dosa ana”, rekannya ini mulai berazzam untuk menikmati segala dinamika yang ada dalam dakwah ini dengan lapang dada dan fikiran yang positif.

Sang sahabat ini tersenyum. “Akhi fillah…, Camkanlah baik-baik…,fahamilah bahwa jama’ah ini adalah jama’ah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan dan kekurangan. Tapi dibalik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribadi yang telah menyambut seruan Allah untuk berdakwah. Dengan begitu, mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan Allah, tentulah dengan segala dinamikanya selama proses itu berlangsung, adakalanya iman itu naik dan adakala iman itu juga akan turun, yang terpenting akh, selalu azzamkan dalam diri antum untuk senantiasa berdoa kepada Allah yang Maha membolak-balikkan hati manusia, agar hati kita tetap teguh dan istiqamah dijalan -Nya ”

“Akh, Bila ada satu dua kelemahan dan kekeliruan mereka dalam menjalani manhaj dakwah dan dalam hal menikmati bunga-bunga kemenangan dakwah ini, sadarilah bahwa itu merupakan kekeliruan individu, tidaklah tepat jika antum menyalahkan Institusi Tarbiyah ini, janganlah hal itu mendominasi perasaan antum dengan cara menyebarkan kelemahan mereka pada semua orang, kitalah yang seharusnya menutupi kelemahan ikhwah kita. Andaikan antum melihat bahwa kesalahan atau kekurangan mereka sudah melenceng jauh dari manhaj dakwah, nasehatilah ikhwah kita itu dengan penuh kesantunan dan kecintaan. Sebagaimana Allah ta’ala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka di mata antum dengan mengingat kebaikan-kebaikan mereka terhadap dakwah sejak dulu sampai saat ini. Karena di mata Allah SWT, belum tentu antum lebih baik dari mereka.”

“Akh, Kita bukanlah sekedar pengamat yang hanya bisa berkomentar. Atau hanya pandai menuding-nuding sebuah kesalahan dan bercerita tentang keburukan ikhwah kita kepada semua orang. Kalau hanya itu, orang kafirpun bisa melakukannya. Tapi kita adalah Da’i. Kita adalah Khalifah. Kitalah yang diserahi Amanah oleh Allah untuk membenahi masalah-masalah di muka bumi ini. Sadarilah bahwa berdakwah secara berjamaah itu lebih baik daripada berdakwah secara sendirian”

“Jangan sampai, kita seperti menyiram bensin ke sebuah bara api. Bara yang tadinya kecil tak bernilai, bisa menjelma menjadi nyala api yang membakar apa saja. Termasuk kita sendiri…!,kalau saja setiap hari kita tidak disibukkan oleh hal-hal besar, maka pasti setiap harinya kita akan disibukkan oleh hal-hal yang kecil, contohnya kalau andaikan kita berazzam untuk menghapal Al-Qur’an 30 Juz, menghapal Al-Ma’tsurat Kubra seluruhnya, menghapal Hadist Arba’in dengan sanad dan terjemahannya dll, tentulah kita tidak ada waktu lagi untuk menggunjing dan menceritakan kekurangan orang lain ”.

“Tetapi Akh, ana juga sangat faham akan kerisauan antum tentang kondisi para juru dakwah hari ini, yang menurut antum sudah banyak melenceng, memang sudah selayaknya kita semua kembali ke Asholah, jangan sampai karena Manuver dan Tuntutan Politik Dakwah yang begitu tinggi, kita bisa-bisa nanti kehilangan Orientasi dalam dakwah, kita lupa bahwa kita adalah Partai Dakwah, kita lupa bahwa Tarbiyah adalah awal dari segalanya, oleh karenanya Tarbiyah tidak boleh dilupakan hanya karena kesibukan kita di dalam Dunia Politik, seandainya saja semua kader faham posisi mereka akhi, apakah mereka itu sebagai Qiyadah ataupun sebagai Jundiyah, entah ia sebagai murabbi ataupun sebagai mutarabbi, apa hak dan kewajiban mereka, tingkat pemahaman yg harus mereka miliki dan tingkat kontribusi yang harus mereka berikan untuk dakwah ini, bisa jadi mungkin tidak akan ada lagi curahan hati seperti yang antum sampaikan pada hari ini. “. Sambung Sahabatnya ini panjang lebar.

Rekannya ini termenung merenungi setiap kalimat yang keluar dari mulut sahabatnya ini. Ia menyadari bahwa begitu banyak yang harus dibenahi secara bersama-sama dalam dakwah ini, bukan malah lari dari Ladang Amal ini seperti sikapnya pada awal tadi, Azzamnya kembali menguat, Semangat Dakwahnya kembali menggeliat dan ia telah mendapatkan begitu banyak PENCERAHAN dari sahabatnya ini.

Akhirnya, rekannya ini menyadari kekhilafan dan kekeliruannya dalam menyingkapi dinamika dalam dakwah ini. Ia bertekad untuk terus berputar bersama jama’ah ini dalam mengarungi jalan dakwah yang masih begitu panjangnya.

Wallahu a’lam

Ditulis pada Bingkai Pelangi, pelangi syiar | Tinggalkan Komentar

dimana ada pertemuan akan ada perpisahan….

kenangan  di akhir kepengurusan….

Rasanya begitu cepat 1 tahun berlalu bersama antum antuna semua di KPSDM. Dan begitu banyak hal yang telah kita perbuat. Ada begitu banyak kenangan manis yang ana ukir bersama antum/na sekalian. Walaupun ada yang hari ini tidak bersama kita lagi, ada yang harus dipisahkan jarak karena tuntukan perkuliahan. Tapi ingatlah, ta’liful khuluq itu akan selalu ada di hati ini. Sahabatku sekalian masih banyak tugas-tugas yang harus kita kerjakan. Mintalah punggung yang kuat agar bisa menahan beban amanah yang di titipkan kepada kita. Jangan sekali kali terbersit untuk jauh dari amanah, karena sesungguhnya amanah itu adalah representasi dari bagaimana kulitas diri kita, semakin banyak amanah maka antum/na masih dianggap kader yang bermanfaat di jalan dakwah ini. Dan juga keluar dari barisan ini bukanlah solusi permasalahan, sesekali langkah kita terpuruk itu wajar. Sesekali iman kita jatuh ke lembah maksiat itu normal, sesekali ada kegalauan dunia hadir di diri itu biasa, dan sesekali ada kesalahan yang hadir di dalam diri itu sudah Sunnatullah nya. Hanya saja yang menjadi hal luar biasa dalam diri kita ketika kita mampu bangkit dari itu semua. Semoga kita termasuk orang-orang yang allah beri kekuatan dan keistiqamahan dalam setiap mengarungi medan da’wah ini. Aamiin.

Ikhwan wal akhwatifillah,

Sungguh luar biasa perjuangan yang ana rasakan bersama antum/na sekalian. Melihat agenda-agenda kita yang Insya Allah telah terlaksana, melihat perbedaan pendapat dalam rapat dan bekerja, melihat banyak perselisihan yang jika di kenang kembali membuat diri kembali tersenyum sendiri, dan melihat semangat juang antum/na yang luar biasa. Di balik itu semua, ada banyak hal yang menjadi sebuah nilai lebih kita selama ini, dengan sedikit mengenyampingkan kekurangan yang kita miliki. Namun, kita tidak boleh puas hanya sampai disana saja. Dibelakang itu semua banyak hal yang terkadang diluar dugaan ketika yang ana fikirkan hanya keberhasilan suatu agenda, ana tidak memikirkan bagaimana perasaan antum/na sekalian. Tidak peduli dengan apa yang antum/na rasakan. Bisanya cuma menyalahkan sepihak antum/na sekalian. Kata kata ana yang sarkas, ditambah lagi egoisme dan sifat buruk ana yang mungkin telah membuat antum/na cukup kuat dalam menahan sabar dan amarah. Afwan

Ada sebuah tulisan dalam grup Ijtihad yang isinya benar benar membuat ana tak ada artinya sebagai koordinator :

“wahai pemimpin, pernahkah engkau merasakan perasaan orang-orang yang bekerja untuk menjalankan tugas darimu, pernahkah engkau mengintip bilik hati mereka, ketika engkau dengan sombongnya menyuruh mereka untuk bekerja, pernahkah engkau tahu ketika segala urusan mereka harus diundur demi tugas yang engkau berikan bahkan rasa laparpun mereka tahan untuk melaksanakan perintah darimu, andai kau tahu bahwa mereka takkan mengeluh didepan mu, takan pernah mengeluh didepan mu, sekali-kali takkan pernah mengeluh didepan mu.
Tapi ingat, suatu saat semua itu akan ditagih.”

 

Sungguh dzalim benar diri ini. Oleh karena itu maafkanlah ana. sungguh diri yang dhoif ini tidak terlepas dari rasa khilaf. Ana tau kata kata afwan atau maaf bukanlah sebuah hal mudah untuk diterima. Ana sadar hati antum/na yang terkoyak tak akan kembali hanya dengan kata afwan. Tapi ana harap ada kelapangan hatimu wahai sahabatku.
Satu hal lagi yang membuat hati ini bersedih dan merasakan kecewa terhadap diri ana sendiri dikala semakin banyak ikhwah yang harus berpisah dengan KPSDM. Dari total 15 orang anggota tidak seberapa yang bertahan di akhir kepengurusan. Memang benar antum/na pergi karena ada amanah yang mungkin jauh lebih berat dan itu yang mungkin ana tidak ketahui. Namun di hati ini ada sebersit rindu agar bisa berkumpul lagi, lengkap tanpa ada kekurangan.

Ikhwan wa akhwatifillah
Syukran Jazakumullah. Dengan antum/na sekalian berada di sisi ana ketika bergerak itu adalah sebuah anugrah terbesar yang ana dapatkan selama di KPSDM ini. Ana belajar banyak dari antum/na semua. Ana belajar arti ukhuwah dari diri Naldi, ana belajar ketegasan dari Isrohli. Ana belajar berlembut lisan dari arni, ana belajar manajemen galau dari amel, ana belajar kebijaksanaan dari dika, dan ana mengerti makna ketenangan dari ningsih, ana belajar banyak hal agama dari sardi, ana belajar beretorika dari muslim, dan ana belajar arti perjuangan hidup dari feri dan resta. Ada banyak pelajar yang ana dapatkan dari antum/na sekalian. Karena sejatinya ana bukanlah apa apa tanpa antum di samping ana. Dan ketika ana PKL ana yakin tanpa ana sekalipun antum/na sekalian akan bisa menjalankan fungsi KPSDM dengan baik. Namun ketika antum/na pergi PKL, ana gamang. Dalam waktu yang singkat itu ana takut akan menghancurkan KPSDM.

Ana terkadang sering menbandingkan dan dibandingkan dengan koordinator KPSDM sebelum ana. Ah, ana tidak bisa mengelak bahwa ana bukanlah apa apa dibandingkan mereka. Namun, dibalik bayang bayang itu ada berusaha untuk bisa meningkatkan kapasitas diri, walau terkadang tak sesuai dengan antum/na harapkan.

Syukran jazakumullahu khair wahai sahabatku yang ana cintai karena Allah. Untuk semua kinerja antum/na sekalian, untuk semua keringat antum, untuk setiap rupiah yang antum keluarkan demi berjalannya agenda kita, untuk semua luka yang antum tahan dalam hati, untuk semua letih yang antum tutupi dengan manis senyum, untuk semua untuk semua ide dan pemikiran dahsyat yang menjadi jantung pergerakan. Dan untuk semua kenangan yang engkau rajut indah dalam hati ini, dengan benang ukhuwah sebagai bahan utamanya, sekali syukran untuk semua memori manis ini, sejauh ana bisa berjalan di atas muka bumi Allah ini, ana akan terus mengingat antum selalu. Hanya allah yang bisa membalas setiap keikhlasan dan ketulusan hati antum/na sekalian.

Afwan jiddan mungkin diri ini lebih banyak mendzalimi dari pada mengayomi. Sungguh diri yang lemah ini tidaklah lebih baik dari antum/na sekalian. Sosok yang juga sama-sama ingin mencari keridhoan dari tuhan-NYA. ana mohon maafkanlah kekurangan dalam diri ini.  Mari kita berlomba-lomba dalam kebaikan.

“Sungguh perjuangan bersama antum/na takkan pernah ana lupakan. Biarkanlah menjadi kenangan terindah dan teringat selalu dalam memori ini.”

Syukron jazakallah kepada presidium (fauzan, sembari, fahmi elektro, fahmi sipil, nurfi, jalinurfia, dan wirma) yang telah memberikan motivasi serta membantu ana dalam setiap agenda yang diangkatkan KPSDM.

Mungkin ini saja yang bisa tersampaikan……

Syukron jazakallah atas semua pihak yang telah berkontribusi dalam setiap agenda yang diangkatkan KPSDM, hanya Allah Azza wa Jalla lah yang tahu balasan yang tepat buat orang-yang berjuang dijalan-NYA…..

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”

Wassalamu’ala!kum…

Ditulis pada hanya pelangi | Tinggalkan Komentar

Bukan Aku Tak Peka Akan Rasa

“Bukan aku tak peka akan rasa”

Sungguh, sejak awal aku tahu bahwa memang aku yang engengkau tuju. Tak muluk aku berkata begitu, karena memang jauh berbeda sikapmu padaku berbanding terbalik kepada para ikhwan lain. Bukan aku terlalu percaya diri atau merasa aku yang luar biasa, pun naïf rasanya jika ku nafikan caramu mengenalku. Padahal diriku, apalah yang ada di diriku ini, tak ada yang bisa di banggakan. Berbeda dengan ikhwan lain yang mungkin sudah mengharapkanmu sejak dahulu. Mereka punya hal yang bisa membuat derajat mereka lebih dari diriku, ketampanan mereka, kekayaan mereka, ruhiyah dan ibadah mereka, serta posisi mereka yang jauh dari kata bisa saja. Aku tak punya semua itu, tapi kenapa harus aku?

“Bukan aku tak mengerti akan hati”

Teringat, betapa perhatiannya dirimu padaku. Disaat aku khilaf engkau mengingatkan ku, walau dengan sindiran pedih. Disaat aku belum makan karena kesibukan agenda engkau memberitahuku ada nasi sisa peserta yang bisa aku nikmati. Disaat aku salah dalam bertindak, engkau menohok ku dengan kata kata tajam saat rapat. Atau saat engkau harus menelponku pukul 11 malam hanya untuk marah marah karena tidak becus mengurusi anggota. Dan masih banyak lagi memori aneh tentang sikapmu padaku yang tersimpan rapi dibenakku. Aku tak tahu, apakah memang begini sikap mu pada seluruh ikhwan? Karena memang bukan pekerjaanku memperhatikan tingkah lakumu. Aku juga tak tahu seberapa tinggikah hijab hatimu sehingga semua itu tak menjadi gejolak dijiwamu. Tapi yang aku sadari, itu semua cukup mengusikku. Aku hanya pemuda yang masih lemah hatinya, masih rapuh ruhiyahnya, masih rendah ibadahnya. Dan sindiranmu, kata tajammu, atau kemarahanmu tak lebih dari sebuah perhatian bagiku. Jika hanya sesekali tak masalah, seperti yang biasa dilakukan saudaramu yang lain. Namun berbeda jika acap kali engkau melakukan itu. Dengan momen dan waktu yang kadang ku rasa kurang tepat. Tegakah engkau membuat saudara mu terjatuh pada lembah yang di nistai Allah ?

“Bukan aku tak ingin akan dimengerti”

 Terlalu rasanya jika hanya dirimu yang kusalahkan. Sesekali diriku juga serta memberi celah celah untuk syaitan beraksi. Terlalu rasanya jika aku menafikan gejolak diri ini. Ya, hatiku bergejolak kuat menahan segala takut akan murka dari Dzat yang nyawaku ada dalam genggamanNya. Dan juga gejolak akan hati yang ingin merasa hangat rasa yang datang.

Ukhti, bukankah sudah terlalu sering kita dengar dalam tiap daurah yang engkau hadir didalamnya. Urusan hati memang bukan hal mudah untuk lari darinya. Karena fitrahnya manusia memang merasakannya. Namun dalam menjalaninya pernahkah terlintas bahwa yang terkadang kita tempuh bukanlah jalan yang benar? Bukanlah jejak yang di Ridhoi Allah?

Cobalah untuk memahami, rasa tak harus engkau sampaikan dengan fakta dan bentuk nyata. Karena diammu lebih jauh mulia ketimbang kau beri aku celah celah rasa yang berujung nestapa.

Maaf, bukan aku tak peka akan rasa…

Ditulis pada hanya pelangi, Syair dan Cerpen | Tinggalkan Komentar

pengen surga dan takut neraka ? berarti beribadah tidak ikhlas dong ?

Bismillah…
saya pernah memberi sebuah statement di facebook yang isinya kurang lebih seperti dibawah ini :

Yang menjadi salah satu motivasi kita adalah, tentang bonus yang akan kita peroleh setelah ibadah tersebut. Sehingga perasaan berat itu bisa kita minimalisir.

Begini maksud saya, jika kemarin kita lemas saat menjalankan puasa sunnah, misalnya. Maka bayangkanlah bahwa di surga sana, ada seorang bidadari cantik jelita yang akan Allah hadiahkan bagi siapa saja yang ikhlas dalam beribadah. :D

lantas salah seorang sahabat saya bertanya : berarti beribadah tidak ikhlas dong?

“tidak ikhlas nya dimana ya ? “, saya jadi bertanya tanya

“mengharapkan bonus. bagaimana kondisi jikalau kata lagu “jika surga dan neraka tak pernah ada? masihkah kau tunduk kepada-Nya?” , itulah definisi ikhlas bro, kita melaksanakan ibadah dengan niatan tulus semata-mata mengagungkan-Nya. apakah nanti ada ganjaran surga atau neraka kuasa Yang Maha Esa, yang terpenting kita melakukan ibadah dengan niatan suci,ikhlas,tanpa mengharapkan imbalan. kahlil gibran said “jika aku beribadah karena takut akan Neraka-Mu, maka campakkan aku kedalamnya. dan jika aku beribadah karena mengharapkan surga-Mu, kirim aku ke neraka-Mu.”

benar … ikhlas itu memang semata mata mengharapkan ridho Allah Azza wa Jalla, diberi atau tidak itu hak nya Allah… yang jelas kita beribadah sebaik mungkin…
tapi ada yang saya sayangkan… hujjah atau landasan yang di pakai tu ndak kuat, masa lagu dan syair yang menjadi dasar statement dalam menyikapi masalah keikhlasan…

mari kita bahas…
baik kita belum membahas dari Al-Qur’an dulu lah…
dari syair lagunya dulu..
“jika surga dan neraka tak pernah ada?” hmmmm, ini hanya pertanyaan orang orang yang ragu dalam beragama, karena apa ? sudah jelas tugas manusia diciptakan sebagai hamba yang wajib tunduk pada Dzat penciptanya, bukan karena apa apa… lantas kenapa harus di banding bandingkan dengan surga dan neraka yang jelas jelas ciptaan NYA juga ?

seolah olah, Allah ditakuti hanya karena keberadaan surga dan neraka nya saja, lirik lirik lagu yang jelas tidak mendidik, apalagi kita juga sudah tahu jelas siapa pencipta dan penyanyi nya. Allahu’alam apakah ada maksud terselubung dari kandungan liriknya atau gimana…

mengenai syair yang di kutip… itu syair bukan perkataan ulama, bukan perkataan sahabat, bukan perkataan khalifah, bukan sabda Rasulullah apalagi Qalamullah,untuk yang satu ini saya harus sandingkan dengan perkataan ulama,

para Ulama ada yang berpendapat, “Jika aku beribadah pada Allah karena mengharap surga-Nya dan karena takut akan siksa neraka-Nya, maka aku adalah pekerja yang jelek. Tetapi aku hanya ingin beribadah karena cinta dan rindu pada-Nya.” Perkataan ini juga dikemukakan oleh Robi’ah Al ‘Adawiyah, Imam Al Ghozali dan Syaikhul Islam Ismail Al Harowi.1 Di antara perkataan Robi’ah Al Adawiyah dalam bait syairnya, “Aku sama sekali tidak mengharap surga dan takut pada neraka (sebagai balasan ibadah). Dan aku tidak mengharap rasa cintaku ini sebagai pengganti.”

ini senada dengan syair khalil gibran, tapi ini PERKATAAN ULAMA yang jauh lebih baik…
wajar mereka berpendapat seperti itu, karena mereka ULAMA yang keimanan nya telah jauh dari masyarakat awam…

lagi pula mengharapkan surga dan takut akan neraka bukan lah dosa, karena Allah berfirman :

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. ” (QS. Al Israa’: 57)

dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya… rahmat ini disini bisa berupa surga Allah karena memang ada banyak nikmat dan rahmat di surga dan takut akan azab… neraka itu adalah tempat pengazaban paling pedih bang…

lantas salah kah kita mengharap surga dan takut akan neraka ?

Ditulis pada pelangi syiar | Tinggalkan Komentar

Dialog selepas Zhuhur

siang ini, ba’da zhuhur, aku melepas penat dengan bersantai di depan halaman mesjid Nurul Iman, Pondok,
lalu, salah seorang sahabat yang menyertaiku perjalananku menuju jembatan siti nurbaya, turut duduk di sampingku, ia pun entah kenapa bertanya, sebuah pertanyaan yang tak terhitung lagi jumlahnya, hampir bosan ku dengar belakangan ini, “kenapa kamu tidak mencoba seperti mereka?”
“mereka siapa?”, jawabku
“ya… mereka yang sama seperti mu, katanya sedang memperdalam agama Islam, aktif di organisasi Islam di kampus, tapi…”, ia menggantung kalimat terakhirnya
“tapi apa?”, aku penasaran
“tapi mereka tetap begitu lincah dalam pergaulan, hmmm… maksudnya begini, mereka bisa pegang pegangan tangan dengan lawan jenisnya, ketawa ketawa, hang out bareng… sedangkan kamu?”, ia menghela napas panjang
aku hanya tersenyum, bukan sebuah pertanyaan asing lagi mengejutkan, aku sudah terlalu sering ditanyai begitu…
“apa salah?”, aku membuka jawaban
“ya gak sih, tapi aneh saja”, ia menjawab seadanya

aku terdiam, ku alihkan pandanganku pada jejak jejak sepatu di keramik mesjid nurul iman, aku jadi teringat sebuah hadist Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.”

ah, aku tak takut di anggap aneh, walaupun di dalam jamaah ku sendiri, yang entah kenapa telah begitu cair dalam berekspresi. Wallahu’alam, apa aku yang terlalu kolot, atau memang mereka yang kurang memahami,
aku hanya bisa memohon pada Rabb ku,agar aku selalu dikuatkan, terkadang godaan syahwat juga tak luput dari benakku, maksiat juga masih sering hadir dalam hari hariku, karena aku hanya hamba yang lemah, yang masih merasakan gejolak cinta, masih merasakan gejolak rindu, dan masih ingin mendapat perhatian dari seorang wanita yang menjadi pujaan hati, Naudzubillah…

“hey ! kok bengong? ayo jawab pertanyaan ku”, aku terkaget. ternyata aku melamun cukup lama. aku pun tetap diam, tak menjawab. hanya senyum yang kulemparkan padanya, lantas aku berdiri dan berkata, “suatu saat engkau akan tau alasannya mengapa. yuk kita ke jembatan lagi, aku tak sabar ingin mengambil gambar gambar terbaikku”, sembari menggenggam kamera Canon EOS 550D ku. aku pun berlalu

Ditulis pada hanya pelangi, pelangi syiar, Syair dan Cerpen | 4 Komentar

Panda 2012 ! cemungud !

Assalamu’alaikum wr wb
Ya ayyuhaL ikhwah wa akhwatifillah, sahabat sahabat yang di cintai Allah Subhanahu wa ta’ala…
InsyaAllah akan hadir PANDA (Pesantren Iman dan Akidah) dari Forsipol Pnp yang akan di adakan tanggal 23,24,25 November di Politeknik…
bagi yang mau ikutan tafadhal segera mendaftar… don’t miss it !

Ditulis pada Bingkai Pelangi, pelangi syiar | Tinggalkan Komentar

ayo menulis ^_^

jika kata yang bisa kita untai, maka saksikanlah bahwa kata itu adalah dakwah ^^

Ditulis pada Bingkai Pelangi | Tinggalkan Komentar