Fokus

Tatap saja yang lebih penting. Tak usah pusingkan diri dengan melirik sana dan sini. Tak juga berarti mengenyampingkan hal lainnya. Justru dengan itu berusaha proporsional dan adil dalam membagi peran dan perhatian. Karena adil tak selalu sama rata, bisa saja mengedepankan suatu hal yang lebih banyak manfaatnya. Toh, jika memang benar dia, siapa yang bisa berkata tidak oleh jalan takdir-Nya?

Jika suar pikiran telah lurus ke depan, namun hati bersikap bak perahu di atas samudera? Itu wajar, karena hati tak sepenuhnya kita yang pegang kendali. Ada Yang Maha Membolak-balikkan segumpal daging ini, yang olehnya jadi tolak ukur baik buruknya pribadi. Jadi, pintakanlah atas Nya agar hati selaras dengan pikiran, agar konsentrasi tak lagi bercabang. Agar fokus bisa terealisasi, dan segala hal baik dalam mimpi bisa kan didapati.

Pada titik ini segalanya kan lebih berat lagi. Pada langkah yang di awali awan gelap masa lalu. Pada gerak yang ditemani segala haru. Pada niat yang terhenti, tak pernah bertemu dengan sang amal yang diam terpaku. Dan pada hati yang selalu terbias akan wajahmu.

Olehnya, seperti memutuskan rantai baja yang mengikat raga. Olehnya, seperti menghancurkan gunung, jelmaan sang hawa nafsu. Olehnya, seperti menarik keluar diri yang terhisap lumpur maksiat kelabu.

Maka fokus seolah keniscayaan belaka, seolah fana tak kan mungkin tercipta. Tapi apa daya? Jika diri tak kau paksa, siapa lagi yang bisa melakukannya semua? Ah, diakah? Yang telah pergi atau yang tak tau kan kembali, atau yang sama sekali tak sempat dikenali?

Aaaargh ! Tak usah ada banyak tanya lagi. Cukup kembali fokus dan melangkah lagi. Walau darah dan air mata yang kan menemani…

Perjalanan

Sepanjang perjalanan banyak yang datang menghampiri dan tak sedikit yang akhirnya pergi dari sisi.
Begitupun dengan diri, hari ini datang pada satu hati dan esok atau lusa bisa kembali berjalan meninggalkan kenangan dalam sanubari.
Bisa saja melekat erat dalam ingatan atau seperti angin yang hadirnya kadang terlupakan.
Kadang menjadi sumber energi dan gelak canda atau justru jadi musibah dan tangisan menghiba.
Bisa saja kehadiran kita dinantikan atau justru kepergian kita begitu diharapkan

Disepanjang perjalanan. Akankah seperti dedaunan yang berserak di sepanjang jalan? Banyak namun tak diindahkan?
Akankah seperti kerikil tajam? Yang menggores tungkai dan memperlambat langkah?
Atau seperti bongkah batu besar? Yang diam tak bergeming memaksa memutar haluan?
Atau laksana telaga kecil ditepi setapak? Yang hadirnya dinanti tempat melepaskan penat di hati?

Tapi satu hal yang tak kan pernah berubah dalam perjalanan ini, Bagaimana mencintai Allah Rabbul Alamin..

Yang mana perjalananmu kawan? Tentang mimpi, pengorbanan, atau cinta di hati?

Untukmu yang Mengejar Segala Kebaikan

hingar bingar tak kan ada mengabadi
pun sepi tak kan hadir kekal menghiasi
tak ada kepedulian yang setengah hati
tak ada yang benar-benar tak acuh disini
jangan harap simpati
jangan inginkan empati
cari saja kebaikan dalam harimu
bongkar di antara gedung gedung pencakar langit itu
dari seribu paling tidak kan engkau temui satu
yang akan mengarahkan langkahmu
menuju rajutan kisah indah dahulu
ingat jua, tak ada awal yang mudah terlaksana
ketika harus mengulang semua kisah bahagia
ingat jua, tak kan pernah ada yang berbeda
ketika diri terus meratapi kesepian jiwa
dan bahkan tenggelam dalam lobang nestapa

buka jendela itu, buka pintu itu, langkahkan kakimu, tatap matahari terik dilangit sana, kejar segala cita, berikan senyum terindah, dan berlarilah menggapai kebaikan yang menyebar di kota ilusi

~sajak pagi

LIHATLAH BAMBU ITU


Lihatlah bambu itu, beberapa lama aku perhatikan rerumpun pohon bambu di depan rumah. ketika angin berhembus begitu kencang tak ada dari mereka yang turut serta jatuh bersama dedaunannya. tidak dengan batang buat pokat di samping rumah. yang justru rubuh dihembus angin kencang dan hampir menimpa diriku, padahal angin saat itu tak jua bisa disebut badai.

Lihatlah bambu itu, derik suara nya yang mencekam mengalun seirama gerakan lembutnya tak kala diterpa angin. begitu rendah ia menunduk seolah berbisik pada angin, “aku tak kan melawanmu, pun ku tak kan kalah darimu”. dan benar, ia kembali berdiri kokoh kala tiupan angin mereda. kembali mengayun mesra tak kala angin membelainya manja.

Lihatlah bambu itu, ia menatapku nanar yang berdiri di bawahnya. “nak, aku dicipta Tuhan juga untuk jadi pelajaran bagimu”, ia berkata pelan. aku tertegun. benar, selama ini aku bak pelaut yang selalu menantang badai. sesekali mungkin kita juga ikut masuk dan berhimpun bersama pusaran badai itu sendiri. seperti bambu yang tak pernah melawan angin dan tak pula mengalah lemah hingga terpatah. “terima kasih”, bisikku padanya.

Lihatlah bambu itu, ia yang kokoh berdiri di depan rumah sederhana ini. tapi mengajarkan begitu banyak arti.

‪#‎AmpekAngkek‬, Agam ( 25 juli 2015)
menghitung hari kembali melangkah ke tanah rantau

Sajadah Merah Maroon

umurnya mungkin baru sekitar 6 atau 7 tahun, tapi ia sudah lebih dulu dariku berdiri di jajaran syaf jamaah shalat isya. sewaktu aku masuk ke dalam mesjid ia sedang kesulitan mengembangkan sajadah merah maroon nya yang berukuran cukup besar dan kurang seimbang dengan badan kecilnya. aku lalu berdiri di sampingnya. ia pun menatapku dan tersenyum. ia kembali mengembangkan sajadahnya. tidak lagi vertikal yang cukup untuk satu orang, kali ini ia kembangkan dengan cara yang berbeda. sajadah itu dikembangkannya secara horizontal, sehingga bisa muat berdua denganku.

takbiratul ihram shalat isya kali ini sedikit berbeda. dadaku sesak oleh sikap dan akhlak luar biasa dari seorang anak yang masih berumur belia. tak perlu tua untuk bisa berbagi. tak perlu kaya untuk bisa berbagi. dan tak perlu momen yang luar biasa untuk bisa berbagi. beruntung dan sungguh luar biasa orang tua yang telah mendidiknya.

nasehat itu bisa datang dari siapa saja dan kapan saja

selamat datang di ruang hati (lagi !)

DSC_2879

kelam, pengap, berdebu, sarang laba-laba dimana-mana. bahkan di langit-langitnya bergelantungan mata-mata merah yang menghambur keluar ketika pintu ruangan ini kubuka. yaaa… begitulah kira-kira keadaan blog ini. saking lamanya tak pernah singgah di ruang ini lagi, aku bahkan hampir tak mengenali interface dari blog ku sendiri. benar-benar beda. andai ruang ini mampu berkata, mungkin ia sudah mengeluarkan sumpah serapahnya.

“untuk apa kau kesini lagi? bukannya kau tak butuh lagi aku? bukannya kau tak lagi peduli denganku? sana ! kembali dengan dunia busukmu. sana ! kembali dengan gundahmu”.

untung saja ia tak mampu berkata, tapi rasa bersalah itu tetap menelusuk ke dada. ruang yang dulu ku hampiri kala kepala penuh masalah, ruang yang dulu jadi tempat berbagi kisah kala tubuh tak lagi ada gairah, ruang yang dulu jadi tempat berbagi rasa, kala hati gundah gulana. lalu, ku menjauh darinya. atau lebih adil jika aku katakan, aku yang membuang dan meminggirkannya.

maafkan aku. kali ini aku kembali. dan janji aku tak kan pergi lagi. berat mungkin untukmu terimaku lagi. tapi lihatlah, aku disini. kembali berjuang menggores bait bait kata penuh cinta disini, tepat di ruang hati. perlahan-lahan kau juga akan sadar betapa kesungguhanku memperjuangkan tiap kata ini.

selamat datang kembali di ruang hati. selamat datang lagi goresan kata yang membias warna pelangi mengukir dibalik gerimis kehidupan ini

Bukittinggi : Rindu yang Menggebu

antara payakumbuh-bukittinggi-padang

antara payakumbuh-bukittinggi-padang

Ketika dari kejauhan Bandara Internasional Minangkabau muncul dan membayang di balik jendela pesawat. Ada perasaan yang tak mampu di ucap oleh kata. Darah seolah berdesir kencang mengisi tiap ruang pembuluh darah dalam tubuh. Bak seseorang yang menemukan mata air di tengah padang pasir. Ya, padang pasir kerinduan lebih tepatnya. Memang tak lama, baru juga tujuh bulan tak menginjakkan kaki di nagari pinggir barat Pulau Sumatera ini, tapi sungguh ada berjuta rasa yang tersimpang olehnya. Bahkan tak ada lagi kata-kata yang bisa di eja untuk mencurahkan betapa rindu itu menggebu dalam hati.

Apalagi setelah kaki menginjak tanah kota Bukittinggi. Ah, segala rasa bergejolak dalam dada seolah ingin terlontar kelangit bagai kembang api di malam-malam ramadhan ini. Kota kecil yang penuh kenangan. Kota kecil yang penuh cerita panjang. Rekaman dari sekian panjang perjalanan. Andai berwujud sudah tentu ia kupeluk. Tapi Bukittinggi terlalu indah untuk ku dekap sendiri.

Sejauh-jauhnya melangkah, sejauh-jauhnya mengejar cita akhirnya akan selalu kembali ke kota kecil ini. Tak lebih mewah memang, tapi jauh lebih menenangkan. Selalu mampu mencuri rindu, selalu mampu membuat untuk kembali lagi, dan bahkan menahan tuk lebih lama lagi disini.

Dan kini, ketika kesibukan dan rutinitas kembali mengisi hari, rindu ini akan tetap menggebu. Untuk terus kembali ke Bukittinggi. Terus hingga nanti.