Love Back to Asholah

cinta Allah

Mengembalikan keoriginalitasan cinta? Sangat sederhana. Bukan perkara muluk. Tidak bicara perasaan. Apalagi sekedar ucapan sayang.

Ya, sangat sederhana. Sesederhana engkau menikmati tetesan hujan pagi ini. Sesederhana engkau mensyukuri tiap udara dihelaan nafasmu. Sesederhana ucapan Hamdalah ketika lambungmu terisi.

Mengembalikan keoriginalitasan cinta? Kembalikan saja ia pada yang Maha Mencinta. Seperti sifat yang tersemat pada Nya, al-Waduud. Yang menurut tafsir  syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di bahwasanya asal kata nama ini berarti al-mahabbah ash-shaafiyah atau kecintaan yang murni.

Cinta yang murni itu sederhana. Sesederhana seorang hamba yang ingin dicinta Rabb nya dan mencinta Rabb nya

{وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ}

“Dan mohonlah ampun kepada Rabb-mu (Allah ‘Azza wa Jalla) kemudian bertaubatlah kepada-Nya, sesengguhnya Rabb-ku Maha Mencintai hamba-hamba-Nya lagi Maha Pengasih” (QS Hud : 90).

 

Diamku atau Jawabku

Imam Asy-Syafi’i pernah ditanya suatu soalan, beliau hanya menjawab dengan diam. lantas ditanyakanlah, “Tidakkah engkau menjawab, semoga Allah menyayangimu ?”. Lalu ujar Beliau Rahimullah, “Aku belum akan menjawab hingga kuketahui di mana hal yang lebih utama : dalam diamku ataukah jawabku”

Ulama Sekaliber Imam Asy-Syafi’i Rahimullah pun tak berani menjawab apa yang di dalamnya ada keraguan. Nah, saya ? Nau’dzubillah, kadang tanpa kapasitas yang cukup lidah ini dengan mudahnya memberikan fatwa (nunjuk batang hidung dikaca ! ente siapa sih lang ?!)

kawan, lidah ini nanti akan dipertanggung jawabkan tiap huruf yang mengalir darinya akan menjadi nilai amalan kita. Ah, tapi tak mudah memang menjadikan tiap kata yang terucap bak mutiara. Di coba terus di coba >.<

Ruhiyah Recharging

sesekali mata melirik ke sudut kanan bawah LCD laptop merah maron itu
siap siaga, jika daya pada baterai sampai pada titik kritis
takutnya ia mati seketika
biasanya ada peringatan, ketika tenaga yang tersisa sudah tak seberapa
agar segera charger tercolok pada port yang seharusnya

baterai jiwa

begitu juga jiwa ini, ruh ini
ia bagai baterai pada tubuh ringkih kita
lihat jika ia penuh akan energi positif, banyak kebaikan bisa terlaksanakan
perhatikan jika sudah kosong, alih-alih melakukan sesuatu, hidup pun tidak tenang rasanya

tentu butuh adaptor untuk me recharge kembali baterai yang kosong
kita ini lemah tak ada daya, hanya sebuah hardware ringkih
yang tanpa kekuatan Yang Maha Daya, tak lebih dari sesuatu yang tiada guna
maka kita butuh adaptor yang menghubungkan energi maha dahsyat dari sisi Sang Pemilik ‘Arsy
bagai adaptor untuk menghubungkan energi listrik sekian ratus volt menjadi energi siap pakai yang hanya puluhan atau belasan volt
lantas untuk diri ini apakah adapter itu ?
bukan benda elektronik pastinya, tapi segala amalan-amalan kebaikan kita di dunia
shalat, tilawah, shadaqoh, atau bahkan hanya memberi senyum yang tulus pada mereka disekililing kita
itu adapter untuk meraih tenaga maha dahsyat dari sisi Allah Subhanahu Wata’ala
agar baterai jiwa kita selalu pada level terbaiknya…

1 : 11 WIB

selasa, 4 februari 2014

1 : 11 WIB
sebenarnya saya juga tak tahu harus menulis apa, namun nurani berbisik, menulislah. Ini sudah sangat larut malam. Namun mata saya tak kunjung mampu tuk di lelapkan. Ada begitu banyak tanya yang tak terjawab. tentang diri, tentang mimpi, tentang langkah langkah yang ingin ku jejaki.

Sejauh ini yang terjadi masih cukup jauh dari yang dikehendaki, kehendak saya tentunya. justru terlalu banyak kegagalan yang hadir baik itu dipenghujung perjuangan, datang tanpa diundang, ataupun terencana dari awal. Kegagalan dari sudut pandang dan kacamata seorang saya tentunya.

1 : 26 WIB
Mata ini tak kunjung bersahabat. bertambah menjengkelkan ketika tiba tiba air mata mengalir tanpa disengaja. Ada banyak sekali pertanyaan yang tak terjawab selama ini. Malam ini pun begitu. tak banyak juga yang terjawab. justru semakin banyak dan semakin dalam pertanyaan yang hadir. meratapi diri, mengutuki sambil menunjuk-nunjuk batang hidung saya sendiri. Intinya, saya masih tak tahu mesti melangkah kemana dalam hidup ini. Saya sadar, bahwa ada Ar-Rahman, Sang Maha Pengasih yang telah menuliskan skenario drama kehidupan saya. namun sebagai aktor yang handal, mesti ada improvisasi yang mesti saya tonjolkan dan ini yang tetap tak mampu dilakukan. Baca lebih lanjut

pagi itu di lorong kampus (sang gadis berkerudung merah muda)

pagi itu di lorong kampus,

“Bro liat cewek yang jilbab pink, eh merah muda itu gak? ntu, yang lagi jalan di lorong”

“liat, mang napa?”

“kebetulan kemaren kita sekelas, ada satu mata kuliah yang sama kelasnya ma dia. waktu ngobrol ma dia asik banget bro, supel banget, beda ma cewek cewek jilbab dalem lain yang, jutek banget”

“oh”

“kok oh doang?”

“lantas saya ma jawab apa?”

“eh bro, elu satu organisasikan sama dia? anak forum kan dia?”

“iya, napa?”

“mintain nomor hapenya dong”

saya nyengir, “dapet mimpi apa lu semalam mau minta nomor dia?”

“yeee, sapa tau jodoh bro”

“ah kalo jodoh mah napa gak lu lamar aja langsung”

“ah, elu main lamar langsung aja, kemaren kita baru ngbrol asik masak langsung lamar aja, Pe De Ka Te dulu napa”

“ah, elu gak jantan dong kalo gitu, jodoh itu nikah bro, temuin noh bapaknya”

“biarin dah gak jodoh gak napa, yang penting nomor hapenya dulu, minimal bisa jadi temen ngobrol dan berbagi rasa gua aja dah, sumpah kemaren gua kerasan ngobrol ma dia”

“bodo dah, elu cari aja ndiri, oh iya by the way lu ada sholat shubuh gak tadi?”

“eh kok tiba-tiba nanya gituan?”

“jawab aja napa, mau nomor kagak?”

“hehe, gua ketiduran semalam bro, kemaren liga Inggris yang main tim kesayangan gua bro, jam 7 baru bangun, langsung siap-siap ngampus”

saya lagi lagi nyengir, “sholat shubuh lu aja lewat, pake mo deketin tu cewek jilbab tadi, dah sekarang lu lurusin dulu dah shalat lo, sapa tau setelah lo bener, Allah mempertemukan elu di jalan yang lebih baik, inget bro, cewek baik cuma buat cowok baik, elu dah baik pa kagak coy?”

dianya cuma garuk-garuk kepala, “tapi bukan begitu bro”

“bukan begitu gimana?”

Baca lebih lanjut

Tak hanya sekedar Toga dan ceremonial belaka

togaini hari hari yang ditunggu tiap umat yang mengabdikan dirinya sebagai mahasiswa, serasa jadi raja atau ratu sehari. momen dimana ia dinobatkan menjadi sarjana sesuai bidang masing-masing. pahitnya perjuangan perkuliahan, sidang akhir, kompre dan segala kegetiran semasa kuliah bagaikan sirna di hari itu.

Alhamdulillah, 7 september ini aku juga berkesempatan mengecap pengalawan diwisuda. ah, ternyata tak senikmat kata orang kebanyakan. lebih banyak capeknya bagiku. berpakaian semi formal, kemeja berdasi, ditambah baju kebesaran para wisudawan, pakaian toga. dengan topi yang memiliki topi jambul yang bergelayutan. yang akan dipindahkan pimpinan kampus dari kiri ke kanan sebagai pengesahan sebagai seorang sarjana, klise.

Baca lebih lanjut

hanya karena sebuah nasehat kecil lantas disindir habis habisan ?

cropped-p9114967-copy.jpgbegini lah tabiat jalan ini, tak selamanya kata kata kebaikan akan di terima dengan lapang dada,
tak selamanya niat baik akan ditanggapi dengan ikhlas dan tanpa su’udzhan
tak selamanya pendapat pendapat kan di dengar dengan kepala dingin

kadang kala, kebaikan dibalas dengan sindiran pedih
kadang kala, kebaikan hati dibalas dengan cacian tak terperi
kadang kala, pendapat hanya akan masuk dan keluar dari lubang telinga yang sama
dan kadang kala, prasangka selalu dikemukakan kedepan tanpa menilik kenyataan sebenarnya

Baca lebih lanjut