Pelangi yang (tak lagi) dirindukan

titipannya

TIKAMAN – Tak lagi sekedar luka yang ku torehkan. Tak lagi hanya perih yang kuberikan. Namun tikaman, tepat di hati yang di dalamnya engkau jaga segala kepercayaan. Aku sadar, aku bukan lelaki baik yang pantas engkau pertahankan berkali-kali. Setelah engkau putuskan untuk pergi tanpa menoleh ke belakang lagi, langkah ku makin tak jelas dan tak ada arti. Sungguh ! Telah kucoba namun selalu gagal. Entah karena dosa yang mesti ku tanggung atau karena dari awal aku terlalu hina tuk jadi pangeran berkudamu.


Dan, telah engkau beri maaf itu dari bibirmu, tak ada lagi dendam ujarmu. Namun aku sadar sepenuhnya, tak kan pernah kaca yang pecah kan kembali utuh meski diperbaiki oleh maestronya sekalipun. Apalagi hati jauh lebih rapuh dari kaca bukan ? Dan pintu itu tak kan terbuka untuk kedua kalinya, benarkan ?

Namun, karena naifku sampai detik ini harapanku masih kan selalu sama. Aku masih nengharapkan pelangi yang sama yang menaungi langit redup setelah hujan lebat dalam hidupku. Meski langkah ku kini kian tertatih, harapku masih tetap kan sama. Meski kata pasti kian memudar, tapi harapku masih tak kan berubah. Sampai benar-benar ada langit lain yang ingin engkau naungi pelangi… Dariku untuk para lelaki yang salah dalam mengambil langkah…

Iklan

Inilah kami FSI Smansa Bukittinggi !!

upgrading harau

Upgrading FSI Smansa (SMAN 1) Bukittinggi, bertempat di Lembah Harau, Lima Puluh Kota dan diteruskan di Kelok Sambilang menuju Riau. Sebenarnya agenda nya sudah cukup lama terselesaikan, pertengahan 2013 silam. Hanya saja hari ini kesempatan itu datang untuk berbagi.

Pinta dan harap, mereka yang dengan senyumnya hadir di sini, selalu diberi Hidayah oleh Allah Subhanahu Wata’ala. dan yang lebih utama, mereka tetap menjadi mujahid mujahidah yang akan menegakkan kalimat Tauhid di muka Bumi ini….

karena kami “FSI SMANSA BUKITTINGGI”

keadilan tak selalu menyetarakan timbangan yang berat sebelah

di luar sana masih hujan, tidak terlalu lebat namun cukup untuk membuatmu menukar pakaianmu yang basah olehnya. oleh tetesan-tetesan kecil yang kupandangi dari balik visor helm putihku. aku masih mengejar jarak, agar bisa segera sampai di tempatku biasa berteduh dan melelapkan mata. agar tak terlalu lama bercengkrama bersama tetesan-tetesan kecil yang sewaktu-waktu dapat membuncah bagai air bah dari langit.

entah kenapa aku teringat sesuatu hal. ada ikhwan yang kini terbaring sakit di kostnya, dan besok juga ada wisuda, beberapa ikhwan, Alhamdulillah turut dalam agenda itu. aku teringat haruskah aku datang ke kostnya dengan buah tangan memantau keadaan dan sakitnya ? haruskah aku datang pada wisuda mereka ?

pertanyaan itu tak lantas hadir begitu saja. itu pertanyaan konyol yang harusnya tak perlu dipertanyakan. saudara sakit kenapa harus ditanya untuk membesuknya. saudara wisuda mestikan di tanya apakah akan hadir jua. ada suatu hal yang melatarbelakangi kenapa pertanyaan macam itu mesti terlontarkan. beberapa hari yang lalu aku sakit. berjuang hampir 4 minggu menahan rasa sakit. tak ada dari mereka yang hadir melihat kondisiku. hanya cukup dari sms dan telpon. dan aku juga sudah melakukan hal yang sama. kenapa mesti aku kunjungi mereka ?tak kala aku wisuda, hampir 2 bulan yang lalu. tak sempet mereka hadir dengan segala kesibukan mereka. lantas kenapa mesti aku hadir ?

sungguh, egoisme keakuanku pun mencapai titik jenuhnya. fahamku tak terima dengan hal yang timpang ini. timbangan berat sebelah, maka sudah sewajarnya untuk di sejajarkan. dengan tidak hadir ? dengan tidak menemani mereka disaat mereka butuh senyuman saudaranya ? hati kini berontak. ia tak terima juga apa yang ia terima harus dirasakan oleh yang lain juga. ini bukan keadilan, tapi balas dendam !

terkadang keadilan tak selalu menyetarakan timbangan yang berat sebelah, adakalanya di satu sisi ia tetap berat namun ada kelapangan hati yang membuat sisi yang kekurangan dapat menerima bahkan melebihkan sisi yang sudah berlebih. segala usai dengan indah. kini apakah adil jika mereka tidak hadir lantas aku tidak hadir ? apakah adil jika mereka tidak datang membesuk lalu aku pun begitu ? jika dilihat dari sisi timbangan maka hal itu adil. namun hidup tak hanya menimbang dari apa yang tampak dan apa yang dapat dihitung. masih ada sisi hati yang menjadi juri dalam penilaian keadilan ini. masih ada nilai dan norma yang menjadi landasannya. dan masih ada Ad-din yang menjadi pengaturnya. tak hanya berkiblat pada egoisme yang tak terima di diperlakukan tak sesuai dengan pinta.

terasa betapa pedihnya jika berada pada posisi yang mengharapkan kehadiran, kesepian, dan butuh bahu untuk menyandarkan keluh, lalu tak menemukan itu dengan segala alasan yang terkadang ada kesan mengada-ada. lalu cukuplah hanya segelintir orang yang merasa. tak perlu menambah daftar panjang mereka yang tertoreh luka berharap. apalagi sebelumnya mereka belum pernah merasa. kini akan jauh lebih adil jika kita melapangkan hati dan menerima sikap selayaknya pemenang yang berjiwa besar. jadikan pedih yang pernah dirasa sebagai sebuah pembelajaran bahwa hal-hal menyakitkan ini cukuplah hanya segelintir orang yang merasakan. ini jauh lebih adil daripada semakin memperpanjang rantai kekecewaan itu. maka tak ada alasan untuk melanjutkan balas dendam berkedok keadilan.

hujan masih sama, tak terlalu lebat, namun cukup rapat. dan aku masih melaju menuju peraduanku. ada janji yang mesti ku tepati esok.

Memori Daun Bambu

Subhanallah, pagi ini  dea ngamuk-ngamuk depan kamar tidurku di lantai 2, minta di antarkan ke sekolah… agak lebay juga sih bilang dea ngamuk-ngamuk, padahal cuma teriak-teriak minta cepar cepat di antar. tapi tak apalah dea gak tau isi blog ini. jangankan membaca isi blog saya, me-akses ke sini saja belum tentu dia tau… dea agak gaptek ketimbang abang-abangnya… (afwan adikku)

pukul 06.45 pagi, setelah rintik rintik shubuh tadi mulai berhenti, aku dan dea melaju dengan motor biru yang selalu setia menemaniku ke mana saja selama in. misinya satu, ngantar dea ke sekolahnya di daerah panorama. ah, tiap jengkal roda-roda menjejak aspal, kembali mengingatkanku diriku akan masa-masa beberapa tahun yang lalu. selama di dalam perjalanan, kenangan kenangan itu kembali terngiang dengan jelas.  rasanya baru kemarin aku berdiri menunuggu angkutan umum tiap pagi di tepian jalan garegeh ini… sekarang sudah tamat kuliah pula…

tak kan hilang semua kenangan di kota nan sejuk ini, meski begitu banyak kisah baru yang menimpanya di dalam pikiran ini.

seperti dedaunan bambu di depan rumahku… walau banyak tunas tunas kisah baru yang muncul, namun sang bambu tua tetap akan tegar berdiri menaungi kenangan-kenangan lalu itu…

dimana ada pertemuan akan ada perpisahan….

kenangan  di akhir kepengurusan….

Rasanya begitu cepat 1 tahun berlalu bersama antum antuna semua di KPSDM. Dan begitu banyak hal yang telah kita perbuat. Ada begitu banyak kenangan manis yang ana ukir bersama antum/na sekalian. Walaupun ada yang hari ini tidak bersama kita lagi, ada yang harus dipisahkan jarak karena tuntukan perkuliahan. Tapi ingatlah, ta’liful khuluq itu akan selalu ada di hati ini. Sahabatku sekalian masih banyak tugas-tugas yang harus kita kerjakan. Mintalah punggung yang kuat agar bisa menahan beban amanah yang di titipkan kepada kita. Jangan sekali kali terbersit untuk jauh dari amanah, karena sesungguhnya amanah itu adalah representasi dari bagaimana kulitas diri kita, semakin banyak amanah maka antum/na masih dianggap kader yang bermanfaat di jalan dakwah ini. Dan juga keluar dari barisan ini bukanlah solusi permasalahan, sesekali langkah kita terpuruk itu wajar. Sesekali iman kita jatuh ke lembah maksiat itu normal, sesekali ada kegalauan dunia hadir di diri itu biasa, dan sesekali ada kesalahan yang hadir di dalam diri itu sudah Sunnatullah nya. Hanya saja yang menjadi hal luar biasa dalam diri kita ketika kita mampu bangkit dari itu semua. Semoga kita termasuk orang-orang yang allah beri kekuatan dan keistiqamahan dalam setiap mengarungi medan da’wah ini. Aamiin.

Baca lebih lanjut

Sepucuk surat, catatan hati (teruntuk saudaraku yang jauh disana)

by : gilang Ansharullah

Assalamu’alaikum wr wb

Ba’da tahlil, tahmid, dan shalawat juga disertai dengan pembaharuan niat…

Kaifa haluk akhi? Seperti biasa, senyummu merekah pada setiap saudara yang menyapa mu, semoga saja Allah selalu melindungimu. Aku rindu padamu akhi, rindu pada taujih taujih mu, rindu ketika aku curhat dengan mu sambil berjalan sore mengitari kota Bukittinggi, dan ingatkah engkau malam malam ramadhan itu? Kita berlari mengejar shalat magrib berjamaah di mesjid raya yang sudah memasuki rakaat akhir dan ujungnya memang tidak dapat jamaah pertama, karena terlalu lama mendapatkan makanan untuk perbukaan, ingatkah engkau akh? Setelah jauh, hati ini makin mengerti apa itu ukhuwah, aku menyesal juga belum bisa meng-itsar-kan kepentinganku diatas dirimu ketika dirimu masih ada disampingku, dan kini aku ingin sedikit berbagi denganmu akh, sedikit kisah ku yang telah diberi hidayah oleh Allah Azza Wa Jalla.

Pukul 23.11 wib tanggal 4 oktober 2011, di sebuah ruangan kecil yang biasa kujadikan tempat perisitirahatan setelah penat menghampiri tubuh seharian berkaktifitas. Di rumah kecil yang biasa aku panggil wisma dari pada rumah kontrakan. Wisma ini juga punya panggilan, azzam nama nya. Lebih tepat nya Wisma Azzam. Seperti namanya akh, aku berharap azzam di hati ini juga semakin kuat untuk menjadi muslim yang kaffah.

Ditemani lantunan nasyid dari speaker laptop ku. Aku mulai menulis. Hmmm… lebih tepatnya mengetik apa yang ada di hatiku ini untuk mu akh… setelah sekian lama alfa dari dunia tulis menulis dan pengetikan ^^

Tidak terasa sudah lebih satu tahun aku berada disini, di kampus ini, di wisma ini, di jamaah ini, di forum ini, dan di dalam ukhuwah ini. Tidak terasa sudah sangat banyak juga pelajaran, kenangan, kejadian, yang indah maupun yang menyakitkan hati… Subhanallah… rasanya baru kemaren aku terjerumus dalam jalan yang benar ini akh… sekarang ternyata aku sudah harus jadi senior… sudah punya adik junior… dan otomatis harus jadi qudwah wal  uswatun hasanah… Masyaallah beratnya kalo itu semua tidak di barengi dengan ruhiyah yang kuat, jasadiyah yang sehat, fikrah yang mantap, dan harus ada juga maaliyah nya yang dahsyat… hehe. Tapi selama hal itu masih seimbang dan masih di tarbiyah… Insyaallah semua akan terasa ringan, mudah, dan selalu ada kemudahan. Amin Ya Rabb…

Aku ingin bernostalgia sedikit akh, malam ini entah kenapa aku teringat akan masa masa pertama kenal dengan jamaah ini, forum kerohanian di SMA kita akh. Disana lah awal nya diriku terjerumus. hehe… terjerumus ke jalan yang Insyaallah di ridhai oleh Allah SWT. Awal nya di paksa oleh senior senior ketika masa orientasi awal masuk sekolah, awal kelas 10 diriku mencoba bergabung, walau ogah ogahan dan langsung mendapat posisi dalam sebuah kepanitiaan perlombaan tingkat Sumatera Barat yang rutin diadakan forum tiap tahunnya, LCTKK. Exiting nya tidak ketulungan… sibuk sini sibuk sana… sebenarnya jikalau di tinjau gak perlu segitunya kali… Cuma ya wajarlah anak baru gede yang baru dipercayakan sebuah amanah… selalu berlebihan dalam bertindak… namun ada suatu hal yang disayangkan pada diriku saat itu, seharusnya euphoria kesenangan ku dalam berkontribusi juga harus didukung dengan pemahaman Islam yang tinggi. Namun sayangnya tidak, Mentoring atau istilah keren nya Forum Arrijal sangat jarang sekali aku ikuti. Itu membuat ruh dan qolbu ku terasa kering dan tandus.

Naik kelas 11,  jiwa dan sikap hidup hedonisme malah semakin merajai diri ini, semakin jauh dengan Allah SWT, semakin lemah juga ruhiyah ini, kepribadianku juga menjadi imbasnya, makin buruk kata teman teman ku, Naudzubillah. Ah,  jikalau aku teruskan hanya ada aib saja yang akan terbongkar, walaupun aku masih berstatus anggota aktif FSI, tidak membawa dampak apa apa pada diri ini, karena aku tidak menjalani secara kaffah, setengah setengah dan abu abu. Masih ingat di benakku, ingin tersenyum jikalau aku mengingatnya, ceritanya seperti ini. Pada waktu itu, ada rapat seluruh anggota Forum. Aku juga diundang untuk mengikutinya, cuman dahsyat nya aku datang dengan pakaian yang sungguh luar biasa bin mencengangkan. Celana jeans belel yang robek robek di bagian lutut dan paha, cuman aku memakai celana batik di dalam nya, jadi yang keliatan dari robekan itu adalah batik. Ditambah baju kaus oblong, seperti itu saja. dan tanpa ada rasa bersalah dan tidak nyaman. Tipikal anak muda sekarang, easy going dan anti dengan lingkungan dan tanggapan orang lain. Naudzubillah. selama rapat aku tak henti hentinya ditatapi oleh peserta rapat. Dan besoknya aku dipanggil oleh guru pembina forum karena ulah nekat ku itu,

            “cukup sekali ini ibu lihat kamu memakai pakaian seperti itu ke sekolah, walaupun bukan pada hari sekolah”, kata sang guru. Aku Cuma tertunduk. Jangan diketawain ya akhi, pasti dirimu sudah geleng geleng kepala sekarang ^^ Baca lebih lanjut