Fokus

Tatap saja yang lebih penting. Tak usah pusingkan diri dengan melirik sana dan sini. Tak juga berarti mengenyampingkan hal lainnya. Justru dengan itu berusaha proporsional dan adil dalam membagi peran dan perhatian. Karena adil tak selalu sama rata, bisa saja mengedepankan suatu hal yang lebih banyak manfaatnya. Toh, jika memang benar dia, siapa yang bisa berkata tidak oleh jalan takdir-Nya?

Jika suar pikiran telah lurus ke depan, namun hati bersikap bak perahu di atas samudera? Itu wajar, karena hati tak sepenuhnya kita yang pegang kendali. Ada Yang Maha Membolak-balikkan segumpal daging ini, yang olehnya jadi tolak ukur baik buruknya pribadi. Jadi, pintakanlah atas Nya agar hati selaras dengan pikiran, agar konsentrasi tak lagi bercabang. Agar fokus bisa terealisasi, dan segala hal baik dalam mimpi bisa kan didapati.

Pada titik ini segalanya kan lebih berat lagi. Pada langkah yang di awali awan gelap masa lalu. Pada gerak yang ditemani segala haru. Pada niat yang terhenti, tak pernah bertemu dengan sang amal yang diam terpaku. Dan pada hati yang selalu terbias akan wajahmu.

Olehnya, seperti memutuskan rantai baja yang mengikat raga. Olehnya, seperti menghancurkan gunung, jelmaan sang hawa nafsu. Olehnya, seperti menarik keluar diri yang terhisap lumpur maksiat kelabu.

Maka fokus seolah keniscayaan belaka, seolah fana tak kan mungkin tercipta. Tapi apa daya? Jika diri tak kau paksa, siapa lagi yang bisa melakukannya semua? Ah, diakah? Yang telah pergi atau yang tak tau kan kembali, atau yang sama sekali tak sempat dikenali?

Aaaargh ! Tak usah ada banyak tanya lagi. Cukup kembali fokus dan melangkah lagi. Walau darah dan air mata yang kan menemani…

1 : 11 WIB

selasa, 4 februari 2014

1 : 11 WIB
sebenarnya saya juga tak tahu harus menulis apa, namun nurani berbisik, menulislah. Ini sudah sangat larut malam. Namun mata saya tak kunjung mampu tuk di lelapkan. Ada begitu banyak tanya yang tak terjawab. tentang diri, tentang mimpi, tentang langkah langkah yang ingin ku jejaki.

Sejauh ini yang terjadi masih cukup jauh dari yang dikehendaki, kehendak saya tentunya. justru terlalu banyak kegagalan yang hadir baik itu dipenghujung perjuangan, datang tanpa diundang, ataupun terencana dari awal. Kegagalan dari sudut pandang dan kacamata seorang saya tentunya.

1 : 26 WIB
Mata ini tak kunjung bersahabat. bertambah menjengkelkan ketika tiba tiba air mata mengalir tanpa disengaja. Ada banyak sekali pertanyaan yang tak terjawab selama ini. Malam ini pun begitu. tak banyak juga yang terjawab. justru semakin banyak dan semakin dalam pertanyaan yang hadir. meratapi diri, mengutuki sambil menunjuk-nunjuk batang hidung saya sendiri. Intinya, saya masih tak tahu mesti melangkah kemana dalam hidup ini. Saya sadar, bahwa ada Ar-Rahman, Sang Maha Pengasih yang telah menuliskan skenario drama kehidupan saya. namun sebagai aktor yang handal, mesti ada improvisasi yang mesti saya tonjolkan dan ini yang tetap tak mampu dilakukan. Baca lebih lanjut

Inilah kami FSI Smansa Bukittinggi !!

upgrading harau

Upgrading FSI Smansa (SMAN 1) Bukittinggi, bertempat di Lembah Harau, Lima Puluh Kota dan diteruskan di Kelok Sambilang menuju Riau. Sebenarnya agenda nya sudah cukup lama terselesaikan, pertengahan 2013 silam. Hanya saja hari ini kesempatan itu datang untuk berbagi.

Pinta dan harap, mereka yang dengan senyumnya hadir di sini, selalu diberi Hidayah oleh Allah Subhanahu Wata’ala. dan yang lebih utama, mereka tetap menjadi mujahid mujahidah yang akan menegakkan kalimat Tauhid di muka Bumi ini….

karena kami “FSI SMANSA BUKITTINGGI”

melangkah ke lain dunia

19 september lalu,

sebuah awal dari langkah ku di dunia nyata. ketika status pengangguran ku sirna, di saat itu pulalah tantangan yang menghadang tak lagi sekedar bayang-bayang. dunia yang dulu di nanti-nanti, dunia yang dulu di tunggu-tunggu

dunia kerja adalah dunia keras yang tak kan menyisakan siapa saja yang lemah. lemah pada diri dan juga terhadap rohani. tak jarang akhirat tergadaikan oleh dunia ini. baik langsung maupun tidak, dunia ini akan menguji hingga titik mana keistiqomahan mu bertahan. ini lah pandangan awalku terhadap dunia yang baru dan akan kugeluti kedepannya. tiga hari, tak lebih dari tiga hari aku memulai kisah ku sebagai salah satu karyawan di salah satu perusahaan manufacture and trading di kota Padang. dalam tiga hari ini pula aku benar-benar galau, mengeluh tiap waktu, dan merasa ketakutan yang sangat. takut, kalau-kalau iman harus terjual untuk sesuatu yang nilainya fana. tak jadi soal jika hanya masalah jumlah gaji. namun lebih dari itu. prinsip pun juga di uji disini.

mental, ya sikap mental juga serta di tempa. tiga hari bekerja. aku sudah di cari “orang bagak” sekitar lokasi proyek yang ku awasi buat ditagih masalah pembagian kerja di lokasi proyek. tak main-main, bahkan sampai mencari ke rumah kontrakkan  (wisma tercinta). Alhamdulillah atau malah patut disayangkan aku tak berada di rumah. cuma, untuk anak ingusan yang baru menerjunkan diri di sini, bukan sebuah hal yang cukup aman bagiku. maksudnya, hei ! siapa yang tak panik dan berkeringat dingin dengan tatapan mata yang oleh sungguh, sangat kurang bersahabat. Alhamdulillah Allah masih sedia menemani dan menguatkan aku, hamba-Nya yang benar-benar lemah dan rendah ini. sehingga aku tetap bisa tenang dalam menghadapi mereka. Alahmdulillah

ini, padahal baru awal dari semua jalan yang kutempuh. belum apa-apa aku sudah menyerah. ralat ! bukan menyerah hanya saja posisi yang tak menguntungkan ini nampaknya terus akan berlanjut. Allahu’alam

This My Choise #1

aku tak tahu harus mulai dari mana,
lidah ini terlalu kelu, bahkan sekedar untuk berkata ya dan tidak
sudah terlalu lama gumpalan perasaan ini aku pendam
mungkin sudah menggunung, beranak pinak di ruang hati yang kian sempit
tiap kali ingin berucap, bibir ini membisu
dan sesekali diselingi oleh senyum palsu

ini pilihanku,
bukan bermaksud tak menghargai
apalagi jadi anak tak berbakti
hanya saja, ini pilihanku
dengan jenggot tipis menggelayuti wajah
dengan celana yang menggantung tepat di mata kaki
atau dengan semua ilmu syar’i yang serba menanggung itu

ternyata benar, berkata benar pada keluarga jauh lebih sulit daripada menyampaikan pada mereka yang hidupnya carut marut bahkan jika keluargamu orang yang berpendidikan tinggi sekalipun.

kata ini, masih membeku dalam qalbu,
aku butuh lebih dari sekedar mampu berkata-kata
agar segala rasa ini bisa berpindah ruang
agar mereka bisa mengerti

INI PILIHANKU !!

Aku Pulang

“ Bandara Soekarno Hatta… “, batinku. Dari kejauhan tampak jelas bandara tujuanku. Betapa bahagianya aku ketika bayangan bandara terbias dibola mataku. Menembus retina, menjalar ke tiap syaraf otakku.

Akhirnya SUV pabrikan jepang yang kutumpangi masuk ke area bandara setelah hampir lima jam berkendara dari Depok. Melelahkan, karena harus terjebak macet beberapa kali. Tapi tak lama lelah itu merasuk. Semua hilang berganti dengan euphoria kebahagian.

“Kita sudah sampai Raf”, ucapan Om Rahman mmbuyarkan lamunanku. “Oh… Ya Om”, jawabku sedikit terbata. “Kamu melamun ya Raf ?”, Tante Salwa menimpali. Spontan  ku menatap wajah Tante Salwa yang begitu tenang. Baca lebih lanjut