Standarisasi Kebaikanmu

IMG_5753

Standarisasi baik itu sebenarnya simpel. Tak perlu tanyakan pada orang lain seberapa baiknya dirimu. Cukup selami nuranimu. Apakah yang dilakukan diri itu benar atau mesti direvisi lagi ?

Sayangnya, nurani pun serasa tak mampu dijadikan hakim paling bijak. Ia terlalu lemah terhadap kerlingan dunia. Yang jadikan ia benarkan segala perbuatan asalkan jiwa puas dan bahagia.

Lantas, kemana jiwa mesti berkaca ? sekali lagi standarisasi baik itu simpel. Toh, ada SOP bagaimana diri mesti bersikap dari Penciptamu yang telah teruji dan terkakreditasi. Simpel bukan ? ikuti apa yang Tuhanmu perintahkan, dan jauhi apa yang Tuhanmu larang. maka selamat, dirimu sudah masuk dalam kategori orang-orang baik. dan nurani sejatinya bersinergi dengan perintah Ilahi. sehingga akan lebih mudah tuk dipahami. So simple !

Hanya saja, syahwat dalam diri seringkali meracuni nurani. dan nurani yang terkorupsi kadang tak lagi sehati dengan perintah Rab-nya. Ia lakukan apa yang ia benarkan dan ia benarkan apapun yang ia lakukan. Seolah ia hanya benar sendiri. Seolah kebenaran hanya ada pada standarnya sendiri dan yang lain selalu salah… Standarisasi baik itu simpel, sesimpel engkau dengan mudahnya mengabaikan semua kebaikan itu sendiri…

Iklan

Sajadah Merah Maroon

umurnya mungkin baru sekitar 6 atau 7 tahun, tapi ia sudah lebih dulu dariku berdiri di jajaran syaf jamaah shalat isya. sewaktu aku masuk ke dalam mesjid ia sedang kesulitan mengembangkan sajadah merah maroon nya yang berukuran cukup besar dan kurang seimbang dengan badan kecilnya. aku lalu berdiri di sampingnya. ia pun menatapku dan tersenyum. ia kembali mengembangkan sajadahnya. tidak lagi vertikal yang cukup untuk satu orang, kali ini ia kembangkan dengan cara yang berbeda. sajadah itu dikembangkannya secara horizontal, sehingga bisa muat berdua denganku.

takbiratul ihram shalat isya kali ini sedikit berbeda. dadaku sesak oleh sikap dan akhlak luar biasa dari seorang anak yang masih berumur belia. tak perlu tua untuk bisa berbagi. tak perlu kaya untuk bisa berbagi. dan tak perlu momen yang luar biasa untuk bisa berbagi. beruntung dan sungguh luar biasa orang tua yang telah mendidiknya.

nasehat itu bisa datang dari siapa saja dan kapan saja

Ini Dunia Mereka

Adzan dzuhur berkumandang siang ini dan seperti biasa para jama’ah pun bersiap-siap. Para peserta kajian yang telah berwudhu langsung mengambil posisi di shaf terdepan. Sebagian lagi yang ingin berwhudu bergegas menuju tempatnya. ada kejadian yang cukup lucu ketika mengantri di depan kran air. antrian sebelah saya tiba-tiba diserobot oleh anak kecil kira-kira umur 5 tahunan. Ia langsung berdiri di depan kran air dan memotong giliran bapak di belakangnya.
“Whudu whudu…”, itu saja yang ia ucapkan. Saya dan Bapak tersebut hanya beradu pandang dan tersenyum. tingkahnya tak henti disana saja. Pertama ia membasuh wajahnya, lalu kepala, dan telinga, lalu tangan, dan kembali membasuh telinga dan terakhir membasuh kaki. Saya hanya tersenyum melihatnya. Ditambah lagi ketika membasuh telinga, airnya terbang kemana-mana dan membasahi orang yang di belakang. Setelah itu ia langsung berlari menuju shaf shalat. Melihat adiknya yang berumur 3 tahun juga menuju tempat berwhudu, ia segera menahannya.
“adik gak usah whudu, ntar basah. Sini-sini”, kata sang anak pada adiknya. Ternyata ia tidak langsung menuju shaf shalat, namun berlari-lari dengan sang adik di teras mesjid sembari tertawa lepas. Sedang ayah mereka sudah kusyuk menjalankan perintah shalat.

Ini dunia mereka, maka perlakukan mereka sesuai yang mereka butuhkan.

Baca lebih lanjut