Untukmu yang Mengejar Segala Kebaikan

hingar bingar tak kan ada mengabadi
pun sepi tak kan hadir kekal menghiasi
tak ada kepedulian yang setengah hati
tak ada yang benar-benar tak acuh disini
jangan harap simpati
jangan inginkan empati
cari saja kebaikan dalam harimu
bongkar di antara gedung gedung pencakar langit itu
dari seribu paling tidak kan engkau temui satu
yang akan mengarahkan langkahmu
menuju rajutan kisah indah dahulu
ingat jua, tak ada awal yang mudah terlaksana
ketika harus mengulang semua kisah bahagia
ingat jua, tak kan pernah ada yang berbeda
ketika diri terus meratapi kesepian jiwa
dan bahkan tenggelam dalam lobang nestapa

buka jendela itu, buka pintu itu, langkahkan kakimu, tatap matahari terik dilangit sana, kejar segala cita, berikan senyum terindah, dan berlarilah menggapai kebaikan yang menyebar di kota ilusi

~sajak pagi

Sajadah Merah Maroon

umurnya mungkin baru sekitar 6 atau 7 tahun, tapi ia sudah lebih dulu dariku berdiri di jajaran syaf jamaah shalat isya. sewaktu aku masuk ke dalam mesjid ia sedang kesulitan mengembangkan sajadah merah maroon nya yang berukuran cukup besar dan kurang seimbang dengan badan kecilnya. aku lalu berdiri di sampingnya. ia pun menatapku dan tersenyum. ia kembali mengembangkan sajadahnya. tidak lagi vertikal yang cukup untuk satu orang, kali ini ia kembangkan dengan cara yang berbeda. sajadah itu dikembangkannya secara horizontal, sehingga bisa muat berdua denganku.

takbiratul ihram shalat isya kali ini sedikit berbeda. dadaku sesak oleh sikap dan akhlak luar biasa dari seorang anak yang masih berumur belia. tak perlu tua untuk bisa berbagi. tak perlu kaya untuk bisa berbagi. dan tak perlu momen yang luar biasa untuk bisa berbagi. beruntung dan sungguh luar biasa orang tua yang telah mendidiknya.

nasehat itu bisa datang dari siapa saja dan kapan saja

Shubuh Yang Istimewa

Jangan-Tidur-Selepas-Solat-Subuh

pukul 04.10 WIB adzhan shubuh berkumandang di langit Surabaya. Yah, awalnya tak ada hal yang unik. Hanya semangat pagi ini begitu menggebu-gebu. bahkan tak lupa ku lontarkan senyuman pada purnama yang menemani langkahku menuju masjid. Tiap shalat shubuh adalah hal istimewa. karena tidak semua orang bisa menikmatinya. Alhamdulillah, Allah Azza Wa Jalla masih memilihku untuk mencicipi nikmat diawal hari ini. Dari awal takbir shubuh hingga ditutup dengan salam dengan ditemani surat Al-A’la pada rakaat pertama dan tiga surat terakhir Al-Baqorah pada rakaat kedua.

Ada hal yang lebih luar biasa lagi yang kutemui ba’da shubuh ini. ketika semua jama’ah kusyuk berdzikir dan melafadzkan doa, ada seorang pemuda yang duduk di sampingku juga tak kalah kusyuknya. Aku tak kenal siapa dia. Yang mengusik rasa penasaran diriku adalah ketika ia mulai menangis dan tersedu-sedu. Tangannya menengadah ke langit, begitu pasrah. air mata tak henti mengalir dari kedua matanya. penuh isak ia begitu dalam meminta. Aku jadi terdiam melihatnya. Beberapa detik mungkin, mataku tak henti memandang wajahnya. Dan tiba-tiba juga ada air mata yang mengalir di pipiku. Seolah aku tahu apa yang ia minta pada Allah. Seolah aku paham makna di balik air matanya. Ada sebuah pinta yang ku sampaikan dalam doaku pagi ini, karena teringat akan sebuah Hadits,

Dari Abu Ad-Darda’ dia berkata Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.” (HR. Muslim no. 4912)

Dan, pagi ini begitu Istimewa. Karena air mata yang tumpah tak selalu tanda kelemahaan. air mata ukhuwah ataukah air mata yang menguatkan langkah di hari ini.

Sungguh, pagi ini ada shubuh yang istimewa.