Renovasi Hidup

RENOVASI - Biaya yang dibutuhkan untuk merenovasi akan jauh lebih besar ketimbang biaya yang digunakan membangun dari awal. Keliatannya akan lebih murah ketika kita menambahkan satu per satu item pekerjaan pada bangunan impian kita. Awalnya mungkin bangunan satu lantai yang sudah cantik lengkap dengan perabotnya.

Selang beberapa waktu, ketika ada rezeki berlebih mulai ditambah beberapa ruangan untuk anak anak di masa depan. Lalu karena kebutuhan lain, beberapa tahun lagi mulai dirancang untuk penambahan lantai dua, dan seterusnya. Yang otomatis akan berpengaruh signifikan terhadap apa yang harus ‘dibayar’ untuk mewujudkannya. Tika, menambah kamar lagi, otomatis halaman cantik tempat biasa berkebun hilang, beberapa dinding diruntukan, kuda-kuda di desain ulang guna mengcover ruang baru yang dihadirkan. Ini berarti biaya, waktu, dan beberapa bagian yang lantas terbuang sebagai harga untuk perubahan yang lebih baik itu. Belum lagi ketika menambah lantai dua. Jauh akan lebih banyak hal yang mesti dibayar.

Begitu juga dalam merenovasi hidup ini kawan. Ketika kita berusaha menjadi lebih baik lagi dan lagi, akan banyak hal hal yang akan kita korbankan sebagai modal tuk pencapaian lebih baik kedepannya. Kadang tak sedikit konstruksi lama hidup kita yang mesti di buang, waktu yang panjang untuk kembali membangun bangunan hidup kita yang lebih baik, dan menyiapkan pondasi yang lebih kokoh untuk elevasi hidup yang lebih tinggi. Jadi jangan menyerah dalam merenovasi hidup kita, meski biayanya tentu lebih besar 🙂

Perjuanganmu masih belum berjuang !

16583501_263879324042620_7010838832824188928_n1GHUROBA’ – Ustadz Syafiq Riza Basalamah Rahimahullah Ta’ala bercerita, jika beliau pernah bersitegang dengan keluarga kala pulang ke pesantren dengan jenggot yang begitu panjang. Dikatakan ikut aliran tertentu, tidak pantas, dan hanya orang-orang tua yang berjenggot oleh keluarga. Sampai paman Beliau pernah akan memotong jenggot Beliau saat Beliau sedang tidur .
Begitulah sejatinya keadaan yang didapati bagi mereka mencoba menegakkan Sunnah Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam. Karena Rasulullah sendiri pun dianggap asing kala mendakwah Islam di tengah-tengah kaum Beliau sendiri.
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻃُﻮﺑَﻰ ﻟِﻠْﻐُﺮَﺑَﺎﺀِ ﻓَﻘِﻴﻞَ ﻣَﻦِ ﺍﻟْﻐُﺮَﺑَﺎﺀُ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻗَﺎﻝَ ﺃُﻧَﺎﺱٌ ﺻَﺎﻟِﺤُﻮﻥَ ﻓِﻰ ﺃُﻧَﺎﺱِ ﺳَﻮْﺀٍ ﻛَﺜِﻴﺮٍ ﻣَﻦْ ﻳَﻌْﺼِﻴﻬِﻢْ ﺃَﻛْﺜَﺮُ ﻣِﻤَّﻦْ ﻳُﻄِﻴﻌُﻬُﻢْ

“Beruntunglah orang-orang yang terasing”. “Lalu siapa orang yang terasing wahai Rasulullah”, tanya sahabat. Jawab beliau, “Orang-orang yang shalih yang berada di tengah banyaknya orang-orang yang jelek, lalu orang yang mendurhakainya lebih banyak daripada yang mentaatinya” (HR. Ahmad 2: 177. Hadits ini hasan lighoirihi , kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth)

Jadi jangan gusar dan bersedih dengan penolakan, ejeken, cacian, bahkan kebencian dari lingkungan yang belun paham. Bukankah Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam menolak menghukum kaumnya kala malaikat menawarkan menjatuhkan gunung pada mereka ?
Jadi doakan, bersabar, tetap istiqomah. Dan mesti diingat, perjuangan ini jauh lebih sederhana ketimbang apa yang orang lain perjuangkan. Tak sesulit apa yang dirasakan. jadi tetaplah tegar dalam malangkah. Bismillah…

Pelangi yang (tak lagi) dirindukan

titipannya

TIKAMAN – Tak lagi sekedar luka yang ku torehkan. Tak lagi hanya perih yang kuberikan. Namun tikaman, tepat di hati yang di dalamnya engkau jaga segala kepercayaan. Aku sadar, aku bukan lelaki baik yang pantas engkau pertahankan berkali-kali. Setelah engkau putuskan untuk pergi tanpa menoleh ke belakang lagi, langkah ku makin tak jelas dan tak ada arti. Sungguh ! Telah kucoba namun selalu gagal. Entah karena dosa yang mesti ku tanggung atau karena dari awal aku terlalu hina tuk jadi pangeran berkudamu.


Dan, telah engkau beri maaf itu dari bibirmu, tak ada lagi dendam ujarmu. Namun aku sadar sepenuhnya, tak kan pernah kaca yang pecah kan kembali utuh meski diperbaiki oleh maestronya sekalipun. Apalagi hati jauh lebih rapuh dari kaca bukan ? Dan pintu itu tak kan terbuka untuk kedua kalinya, benarkan ?

Namun, karena naifku sampai detik ini harapanku masih kan selalu sama. Aku masih nengharapkan pelangi yang sama yang menaungi langit redup setelah hujan lebat dalam hidupku. Meski langkah ku kini kian tertatih, harapku masih tetap kan sama. Meski kata pasti kian memudar, tapi harapku masih tak kan berubah. Sampai benar-benar ada langit lain yang ingin engkau naungi pelangi… Dariku untuk para lelaki yang salah dalam mengambil langkah…