Bagi Mereka yang Bernama “Haters”

saya sudah sering melihat mereka mereka yang pada dirinya kini, melekat julukan “haters”. tidak lain tidak bukan mereka yang juga turut serta berdiri pada garda depan pergerakan jamaah Hizb ini. karna suatu hal ihwal kehilangan kemesraan dengan wajihah dakwahnya. mundur dari jama’ah. menepi dari lapangan perjuangan dan memberikan kritik dari tribun penonton. tidak salah jika mereka mimilih berjalan di luar dan memberikan kritikan ke dalam. yang saya anggap lucu adalah efek timbal balik dari kedua kubu ini. dari kubu yang masih di jamaah merasa mereka yang siapapun yang keluar dari jamaah dianggap tidak loyal dengan dakwah — dalam kasus ini saya tidak berbicara keseluruhan namun ada beberapa oknum yang bertindak begitu. yang di luar pun merasa mereka yang masih teguh sudah melenceng dari qur’an dan sunnah. nah lo ? lingkaran setan ini yang tetap terjaga hingga kini.

mereka yang dulu konsisten menjadi kritikus jamaah, lama lama menjadi panas bagaimana tidak, tanggapan dari mereka yang di dalam begitu menyakitkan. pun yang di dalam, menanggapi kritikan dari alumni jamaah seperti serangan yang tidak memahami gerakan dakwah itu sendiri. padahal lihat kan faktanya? yang memberikan kritik terkadang mereka yang sudah pernah jadi asatidz dakwah ini. pada akhirnya karena roda ini selalu berputar dan menimbulkan gesekan. dimana kita tahu gesekan antar dua bidang yang keras akan menimbulkan panas. nah, lama lama kritikus menjurus menjadi haters, sibuk memberikan kritik tanpa solusi pasti dan terkesan menjatuhkan bukan membangun sedangkan jamaah sibuk mencounter diri tanpa melihat cacat yang dimiliki

Baca lebih lanjut

Bahagia itu Sederhana

Bahagia itu sederhana, sesederhana helaan nafas pagi ini, udara yang mengisi penuh dada

Bahagia itu sederhana, sesederhana jejak langkah menuju panggilan muadzin di corong-corong Toa

Bahagia itu sederhana, sesederhana ketika memjabat tangan para jama’ah shubuh sembari bertukar senyum

Bahagia itu sederhana, sesederhana ketakjuban yang menghampiri hati, sembari menatap sisa sisa purnama di langit jingga

Bahagia itu sederhana, sesederhana rasa syukur yang menyebar di sanubari, berharap esok kan ada hal baru lagi

Bahagia itu sederhana, sesederhana kita menyikapi dan menikmatinya

 

Sungguh, Bahagia itu sederhana

Love Back to Asholah

cinta Allah

Mengembalikan keoriginalitasan cinta? Sangat sederhana. Bukan perkara muluk. Tidak bicara perasaan. Apalagi sekedar ucapan sayang.

Ya, sangat sederhana. Sesederhana engkau menikmati tetesan hujan pagi ini. Sesederhana engkau mensyukuri tiap udara dihelaan nafasmu. Sesederhana ucapan Hamdalah ketika lambungmu terisi.

Mengembalikan keoriginalitasan cinta? Kembalikan saja ia pada yang Maha Mencinta. Seperti sifat yang tersemat pada Nya, al-Waduud. Yang menurut tafsir  syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di bahwasanya asal kata nama ini berarti al-mahabbah ash-shaafiyah atau kecintaan yang murni.

Cinta yang murni itu sederhana. Sesederhana seorang hamba yang ingin dicinta Rabb nya dan mencinta Rabb nya

{وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ}

“Dan mohonlah ampun kepada Rabb-mu (Allah ‘Azza wa Jalla) kemudian bertaubatlah kepada-Nya, sesengguhnya Rabb-ku Maha Mencintai hamba-hamba-Nya lagi Maha Pengasih” (QS Hud : 90).