Diamku atau Jawabku

Imam Asy-Syafi’i pernah ditanya suatu soalan, beliau hanya menjawab dengan diam. lantas ditanyakanlah, “Tidakkah engkau menjawab, semoga Allah menyayangimu ?”. Lalu ujar Beliau Rahimullah, “Aku belum akan menjawab hingga kuketahui di mana hal yang lebih utama : dalam diamku ataukah jawabku”

Ulama Sekaliber Imam Asy-Syafi’i Rahimullah pun tak berani menjawab apa yang di dalamnya ada keraguan. Nah, saya ? Nau’dzubillah, kadang tanpa kapasitas yang cukup lidah ini dengan mudahnya memberikan fatwa (nunjuk batang hidung dikaca ! ente siapa sih lang ?!)

kawan, lidah ini nanti akan dipertanggung jawabkan tiap huruf yang mengalir darinya akan menjadi nilai amalan kita. Ah, tapi tak mudah memang menjadikan tiap kata yang terucap bak mutiara. Di coba terus di coba >.<

Iklan

pengen surga dan takut neraka ? berarti beribadah tidak ikhlas dong ?

Bismillah…
saya pernah memberi sebuah statement di facebook yang isinya kurang lebih seperti dibawah ini :

Yang menjadi salah satu motivasi kita adalah, tentang bonus yang akan kita peroleh setelah ibadah tersebut. Sehingga perasaan berat itu bisa kita minimalisir.

Begini maksud saya, jika kemarin kita lemas saat menjalankan puasa sunnah, misalnya. Maka bayangkanlah bahwa di surga sana, ada seorang bidadari cantik jelita yang akan Allah hadiahkan bagi siapa saja yang ikhlas dalam beribadah. 😀

lantas salah seorang sahabat saya bertanya : berarti beribadah tidak ikhlas dong?

“tidak ikhlas nya dimana ya ? “, saya jadi bertanya tanya

Baca lebih lanjut