Pelangi yang (tak lagi) dirindukan

titipannya

TIKAMAN – Tak lagi sekedar luka yang ku torehkan. Tak lagi hanya perih yang kuberikan. Namun tikaman, tepat di hati yang di dalamnya engkau jaga segala kepercayaan. Aku sadar, aku bukan lelaki baik yang pantas engkau pertahankan berkali-kali. Setelah engkau putuskan untuk pergi tanpa menoleh ke belakang lagi, langkah ku makin tak jelas dan tak ada arti. Sungguh ! Telah kucoba namun selalu gagal. Entah karena dosa yang mesti ku tanggung atau karena dari awal aku terlalu hina tuk jadi pangeran berkudamu.


Dan, telah engkau beri maaf itu dari bibirmu, tak ada lagi dendam ujarmu. Namun aku sadar sepenuhnya, tak kan pernah kaca yang pecah kan kembali utuh meski diperbaiki oleh maestronya sekalipun. Apalagi hati jauh lebih rapuh dari kaca bukan ? Dan pintu itu tak kan terbuka untuk kedua kalinya, benarkan ?

Namun, karena naifku sampai detik ini harapanku masih kan selalu sama. Aku masih nengharapkan pelangi yang sama yang menaungi langit redup setelah hujan lebat dalam hidupku. Meski langkah ku kini kian tertatih, harapku masih tetap kan sama. Meski kata pasti kian memudar, tapi harapku masih tak kan berubah. Sampai benar-benar ada langit lain yang ingin engkau naungi pelangi… Dariku untuk para lelaki yang salah dalam mengambil langkah…

1 : 11 WIB

selasa, 4 februari 2014

1 : 11 WIB
sebenarnya saya juga tak tahu harus menulis apa, namun nurani berbisik, menulislah. Ini sudah sangat larut malam. Namun mata saya tak kunjung mampu tuk di lelapkan. Ada begitu banyak tanya yang tak terjawab. tentang diri, tentang mimpi, tentang langkah langkah yang ingin ku jejaki.

Sejauh ini yang terjadi masih cukup jauh dari yang dikehendaki, kehendak saya tentunya. justru terlalu banyak kegagalan yang hadir baik itu dipenghujung perjuangan, datang tanpa diundang, ataupun terencana dari awal. Kegagalan dari sudut pandang dan kacamata seorang saya tentunya.

1 : 26 WIB
Mata ini tak kunjung bersahabat. bertambah menjengkelkan ketika tiba tiba air mata mengalir tanpa disengaja. Ada banyak sekali pertanyaan yang tak terjawab selama ini. Malam ini pun begitu. tak banyak juga yang terjawab. justru semakin banyak dan semakin dalam pertanyaan yang hadir. meratapi diri, mengutuki sambil menunjuk-nunjuk batang hidung saya sendiri. Intinya, saya masih tak tahu mesti melangkah kemana dalam hidup ini. Saya sadar, bahwa ada Ar-Rahman, Sang Maha Pengasih yang telah menuliskan skenario drama kehidupan saya. namun sebagai aktor yang handal, mesti ada improvisasi yang mesti saya tonjolkan dan ini yang tetap tak mampu dilakukan. Baca lebih lanjut