Love Back to Asholah

cinta Allah

Mengembalikan keoriginalitasan cinta? Sangat sederhana. Bukan perkara muluk. Tidak bicara perasaan. Apalagi sekedar ucapan sayang.

Ya, sangat sederhana. Sesederhana engkau menikmati tetesan hujan pagi ini. Sesederhana engkau mensyukuri tiap udara dihelaan nafasmu. Sesederhana ucapan Hamdalah ketika lambungmu terisi.

Mengembalikan keoriginalitasan cinta? Kembalikan saja ia pada yang Maha Mencinta. Seperti sifat yang tersemat pada Nya, al-Waduud. Yang menurut tafsir  syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di bahwasanya asal kata nama ini berarti al-mahabbah ash-shaafiyah atau kecintaan yang murni.

Cinta yang murni itu sederhana. Sesederhana seorang hamba yang ingin dicinta Rabb nya dan mencinta Rabb nya

{وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ}

“Dan mohonlah ampun kepada Rabb-mu (Allah ‘Azza wa Jalla) kemudian bertaubatlah kepada-Nya, sesengguhnya Rabb-ku Maha Mencintai hamba-hamba-Nya lagi Maha Pengasih” (QS Hud : 90).

 

Ini Dunia Mereka

Adzan dzuhur berkumandang siang ini dan seperti biasa para jama’ah pun bersiap-siap. Para peserta kajian yang telah berwudhu langsung mengambil posisi di shaf terdepan. Sebagian lagi yang ingin berwhudu bergegas menuju tempatnya. ada kejadian yang cukup lucu ketika mengantri di depan kran air. antrian sebelah saya tiba-tiba diserobot oleh anak kecil kira-kira umur 5 tahunan. Ia langsung berdiri di depan kran air dan memotong giliran bapak di belakangnya.
“Whudu whudu…”, itu saja yang ia ucapkan. Saya dan Bapak tersebut hanya beradu pandang dan tersenyum. tingkahnya tak henti disana saja. Pertama ia membasuh wajahnya, lalu kepala, dan telinga, lalu tangan, dan kembali membasuh telinga dan terakhir membasuh kaki. Saya hanya tersenyum melihatnya. Ditambah lagi ketika membasuh telinga, airnya terbang kemana-mana dan membasahi orang yang di belakang. Setelah itu ia langsung berlari menuju shaf shalat. Melihat adiknya yang berumur 3 tahun juga menuju tempat berwhudu, ia segera menahannya.
“adik gak usah whudu, ntar basah. Sini-sini”, kata sang anak pada adiknya. Ternyata ia tidak langsung menuju shaf shalat, namun berlari-lari dengan sang adik di teras mesjid sembari tertawa lepas. Sedang ayah mereka sudah kusyuk menjalankan perintah shalat.

Ini dunia mereka, maka perlakukan mereka sesuai yang mereka butuhkan.

Baca lebih lanjut

Diamku atau Jawabku

Imam Asy-Syafi’i pernah ditanya suatu soalan, beliau hanya menjawab dengan diam. lantas ditanyakanlah, “Tidakkah engkau menjawab, semoga Allah menyayangimu ?”. Lalu ujar Beliau Rahimullah, “Aku belum akan menjawab hingga kuketahui di mana hal yang lebih utama : dalam diamku ataukah jawabku”

Ulama Sekaliber Imam Asy-Syafi’i Rahimullah pun tak berani menjawab apa yang di dalamnya ada keraguan. Nah, saya ? Nau’dzubillah, kadang tanpa kapasitas yang cukup lidah ini dengan mudahnya memberikan fatwa (nunjuk batang hidung dikaca ! ente siapa sih lang ?!)

kawan, lidah ini nanti akan dipertanggung jawabkan tiap huruf yang mengalir darinya akan menjadi nilai amalan kita. Ah, tapi tak mudah memang menjadikan tiap kata yang terucap bak mutiara. Di coba terus di coba >.<

1 : 11 WIB

selasa, 4 februari 2014

1 : 11 WIB
sebenarnya saya juga tak tahu harus menulis apa, namun nurani berbisik, menulislah. Ini sudah sangat larut malam. Namun mata saya tak kunjung mampu tuk di lelapkan. Ada begitu banyak tanya yang tak terjawab. tentang diri, tentang mimpi, tentang langkah langkah yang ingin ku jejaki.

Sejauh ini yang terjadi masih cukup jauh dari yang dikehendaki, kehendak saya tentunya. justru terlalu banyak kegagalan yang hadir baik itu dipenghujung perjuangan, datang tanpa diundang, ataupun terencana dari awal. Kegagalan dari sudut pandang dan kacamata seorang saya tentunya.

1 : 26 WIB
Mata ini tak kunjung bersahabat. bertambah menjengkelkan ketika tiba tiba air mata mengalir tanpa disengaja. Ada banyak sekali pertanyaan yang tak terjawab selama ini. Malam ini pun begitu. tak banyak juga yang terjawab. justru semakin banyak dan semakin dalam pertanyaan yang hadir. meratapi diri, mengutuki sambil menunjuk-nunjuk batang hidung saya sendiri. Intinya, saya masih tak tahu mesti melangkah kemana dalam hidup ini. Saya sadar, bahwa ada Ar-Rahman, Sang Maha Pengasih yang telah menuliskan skenario drama kehidupan saya. namun sebagai aktor yang handal, mesti ada improvisasi yang mesti saya tonjolkan dan ini yang tetap tak mampu dilakukan. Baca lebih lanjut

Hirup Dalam-Dalam Nafasmu Kawan

hirup nafasmu dalam-dalam kawan
biarkan oksigen memenuhi semua alveolus mu
izinkan eritrosit mengangkut mereka semua
beriringan, menuju tiap jengkal otak mu
hingga impuls-impuls dalam neuron mu berlarian melebihi kilatan cahaya
dan menjelma menjadi imajinasi seluas angkasa
hadir membawa segala mimpi dan asa
menunggu terwujud menjadi sebuah realita
dan menjadi sebuah mahakarya

hirup nafasmu dalam-dalam kawan
dan berlarilah,
berlari hingga mimpimu kan kau dapati…

keadilan tak selalu menyetarakan timbangan yang berat sebelah

di luar sana masih hujan, tidak terlalu lebat namun cukup untuk membuatmu menukar pakaianmu yang basah olehnya. oleh tetesan-tetesan kecil yang kupandangi dari balik visor helm putihku. aku masih mengejar jarak, agar bisa segera sampai di tempatku biasa berteduh dan melelapkan mata. agar tak terlalu lama bercengkrama bersama tetesan-tetesan kecil yang sewaktu-waktu dapat membuncah bagai air bah dari langit.

entah kenapa aku teringat sesuatu hal. ada ikhwan yang kini terbaring sakit di kostnya, dan besok juga ada wisuda, beberapa ikhwan, Alhamdulillah turut dalam agenda itu. aku teringat haruskah aku datang ke kostnya dengan buah tangan memantau keadaan dan sakitnya ? haruskah aku datang pada wisuda mereka ?

pertanyaan itu tak lantas hadir begitu saja. itu pertanyaan konyol yang harusnya tak perlu dipertanyakan. saudara sakit kenapa harus ditanya untuk membesuknya. saudara wisuda mestikan di tanya apakah akan hadir jua. ada suatu hal yang melatarbelakangi kenapa pertanyaan macam itu mesti terlontarkan. beberapa hari yang lalu aku sakit. berjuang hampir 4 minggu menahan rasa sakit. tak ada dari mereka yang hadir melihat kondisiku. hanya cukup dari sms dan telpon. dan aku juga sudah melakukan hal yang sama. kenapa mesti aku kunjungi mereka ?tak kala aku wisuda, hampir 2 bulan yang lalu. tak sempet mereka hadir dengan segala kesibukan mereka. lantas kenapa mesti aku hadir ?

sungguh, egoisme keakuanku pun mencapai titik jenuhnya. fahamku tak terima dengan hal yang timpang ini. timbangan berat sebelah, maka sudah sewajarnya untuk di sejajarkan. dengan tidak hadir ? dengan tidak menemani mereka disaat mereka butuh senyuman saudaranya ? hati kini berontak. ia tak terima juga apa yang ia terima harus dirasakan oleh yang lain juga. ini bukan keadilan, tapi balas dendam !

terkadang keadilan tak selalu menyetarakan timbangan yang berat sebelah, adakalanya di satu sisi ia tetap berat namun ada kelapangan hati yang membuat sisi yang kekurangan dapat menerima bahkan melebihkan sisi yang sudah berlebih. segala usai dengan indah. kini apakah adil jika mereka tidak hadir lantas aku tidak hadir ? apakah adil jika mereka tidak datang membesuk lalu aku pun begitu ? jika dilihat dari sisi timbangan maka hal itu adil. namun hidup tak hanya menimbang dari apa yang tampak dan apa yang dapat dihitung. masih ada sisi hati yang menjadi juri dalam penilaian keadilan ini. masih ada nilai dan norma yang menjadi landasannya. dan masih ada Ad-din yang menjadi pengaturnya. tak hanya berkiblat pada egoisme yang tak terima di diperlakukan tak sesuai dengan pinta.

terasa betapa pedihnya jika berada pada posisi yang mengharapkan kehadiran, kesepian, dan butuh bahu untuk menyandarkan keluh, lalu tak menemukan itu dengan segala alasan yang terkadang ada kesan mengada-ada. lalu cukuplah hanya segelintir orang yang merasa. tak perlu menambah daftar panjang mereka yang tertoreh luka berharap. apalagi sebelumnya mereka belum pernah merasa. kini akan jauh lebih adil jika kita melapangkan hati dan menerima sikap selayaknya pemenang yang berjiwa besar. jadikan pedih yang pernah dirasa sebagai sebuah pembelajaran bahwa hal-hal menyakitkan ini cukuplah hanya segelintir orang yang merasakan. ini jauh lebih adil daripada semakin memperpanjang rantai kekecewaan itu. maka tak ada alasan untuk melanjutkan balas dendam berkedok keadilan.

hujan masih sama, tak terlalu lebat, namun cukup rapat. dan aku masih melaju menuju peraduanku. ada janji yang mesti ku tepati esok.

pagi itu di lorong kampus (sang gadis berkerudung merah muda)

pagi itu di lorong kampus,

“Bro liat cewek yang jilbab pink, eh merah muda itu gak? ntu, yang lagi jalan di lorong”

“liat, mang napa?”

“kebetulan kemaren kita sekelas, ada satu mata kuliah yang sama kelasnya ma dia. waktu ngobrol ma dia asik banget bro, supel banget, beda ma cewek cewek jilbab dalem lain yang, jutek banget”

“oh”

“kok oh doang?”

“lantas saya ma jawab apa?”

“eh bro, elu satu organisasikan sama dia? anak forum kan dia?”

“iya, napa?”

“mintain nomor hapenya dong”

saya nyengir, “dapet mimpi apa lu semalam mau minta nomor dia?”

“yeee, sapa tau jodoh bro”

“ah kalo jodoh mah napa gak lu lamar aja langsung”

“ah, elu main lamar langsung aja, kemaren kita baru ngbrol asik masak langsung lamar aja, Pe De Ka Te dulu napa”

“ah, elu gak jantan dong kalo gitu, jodoh itu nikah bro, temuin noh bapaknya”

“biarin dah gak jodoh gak napa, yang penting nomor hapenya dulu, minimal bisa jadi temen ngobrol dan berbagi rasa gua aja dah, sumpah kemaren gua kerasan ngobrol ma dia”

“bodo dah, elu cari aja ndiri, oh iya by the way lu ada sholat shubuh gak tadi?”

“eh kok tiba-tiba nanya gituan?”

“jawab aja napa, mau nomor kagak?”

“hehe, gua ketiduran semalam bro, kemaren liga Inggris yang main tim kesayangan gua bro, jam 7 baru bangun, langsung siap-siap ngampus”

saya lagi lagi nyengir, “sholat shubuh lu aja lewat, pake mo deketin tu cewek jilbab tadi, dah sekarang lu lurusin dulu dah shalat lo, sapa tau setelah lo bener, Allah mempertemukan elu di jalan yang lebih baik, inget bro, cewek baik cuma buat cowok baik, elu dah baik pa kagak coy?”

dianya cuma garuk-garuk kepala, “tapi bukan begitu bro”

“bukan begitu gimana?”

Baca lebih lanjut