rihlah keluarga besar Ijtihad

“pak, mundur dulu ! ndak nampak jalan sampik ?! manyasak jo lai”, ujar seorang pria dari pinggir jalan pada sopir bus yang kami kendarai. Buya, ya begitu kami memanggil sang sopir, hanya diam saja. cukup wajahnya yang sudah menampakkan luapan emosi menjadi alasan kediamannya.

“mundur mundur !”, perintah pria itu tadi. Aku tak tahu ia tukang parkir di sana, atau memang pemuda setempat yang bersikap pratiotik dalam mengurus lalu lintas di lokasi itu. Masa bodoh, aku tak terlalu memikirkannya, tapi dari cara bicaranya cukup terasa menusuk ke dada.

edit 6

Baca lebih lanjut