Pelangi yang (tak lagi) dirindukan

titipannya

TIKAMAN – Tak lagi sekedar luka yang ku torehkan. Tak lagi hanya perih yang kuberikan. Namun tikaman, tepat di hati yang di dalamnya engkau jaga segala kepercayaan. Aku sadar, aku bukan lelaki baik yang pantas engkau pertahankan berkali-kali. Setelah engkau putuskan untuk pergi tanpa menoleh ke belakang lagi, langkah ku makin tak jelas dan tak ada arti. Sungguh ! Telah kucoba namun selalu gagal. Entah karena dosa yang mesti ku tanggung atau karena dari awal aku terlalu hina tuk jadi pangeran berkudamu.


Dan, telah engkau beri maaf itu dari bibirmu, tak ada lagi dendam ujarmu. Namun aku sadar sepenuhnya, tak kan pernah kaca yang pecah kan kembali utuh meski diperbaiki oleh maestronya sekalipun. Apalagi hati jauh lebih rapuh dari kaca bukan ? Dan pintu itu tak kan terbuka untuk kedua kalinya, benarkan ?

Namun, karena naifku sampai detik ini harapanku masih kan selalu sama. Aku masih nengharapkan pelangi yang sama yang menaungi langit redup setelah hujan lebat dalam hidupku. Meski langkah ku kini kian tertatih, harapku masih tetap kan sama. Meski kata pasti kian memudar, tapi harapku masih tak kan berubah. Sampai benar-benar ada langit lain yang ingin engkau naungi pelangi… Dariku untuk para lelaki yang salah dalam mengambil langkah…

Iklan

Fokus

Tatap saja yang lebih penting. Tak usah pusingkan diri dengan melirik sana dan sini. Tak juga berarti mengenyampingkan hal lainnya. Justru dengan itu berusaha proporsional dan adil dalam membagi peran dan perhatian. Karena adil tak selalu sama rata, bisa saja mengedepankan suatu hal yang lebih banyak manfaatnya. Toh, jika memang benar dia, siapa yang bisa berkata tidak oleh jalan takdir-Nya?

Jika suar pikiran telah lurus ke depan, namun hati bersikap bak perahu di atas samudera? Itu wajar, karena hati tak sepenuhnya kita yang pegang kendali. Ada Yang Maha Membolak-balikkan segumpal daging ini, yang olehnya jadi tolak ukur baik buruknya pribadi. Jadi, pintakanlah atas Nya agar hati selaras dengan pikiran, agar konsentrasi tak lagi bercabang. Agar fokus bisa terealisasi, dan segala hal baik dalam mimpi bisa kan didapati.

Pada titik ini segalanya kan lebih berat lagi. Pada langkah yang di awali awan gelap masa lalu. Pada gerak yang ditemani segala haru. Pada niat yang terhenti, tak pernah bertemu dengan sang amal yang diam terpaku. Dan pada hati yang selalu terbias akan wajahmu.

Olehnya, seperti memutuskan rantai baja yang mengikat raga. Olehnya, seperti menghancurkan gunung, jelmaan sang hawa nafsu. Olehnya, seperti menarik keluar diri yang terhisap lumpur maksiat kelabu.

Maka fokus seolah keniscayaan belaka, seolah fana tak kan mungkin tercipta. Tapi apa daya? Jika diri tak kau paksa, siapa lagi yang bisa melakukannya semua? Ah, diakah? Yang telah pergi atau yang tak tau kan kembali, atau yang sama sekali tak sempat dikenali?

Aaaargh ! Tak usah ada banyak tanya lagi. Cukup kembali fokus dan melangkah lagi. Walau darah dan air mata yang kan menemani…

Perjalanan

Sepanjang perjalanan banyak yang datang menghampiri dan tak sedikit yang akhirnya pergi dari sisi.
Begitupun dengan diri, hari ini datang pada satu hati dan esok atau lusa bisa kembali berjalan meninggalkan kenangan dalam sanubari.
Bisa saja melekat erat dalam ingatan atau seperti angin yang hadirnya kadang terlupakan.
Kadang menjadi sumber energi dan gelak canda atau justru jadi musibah dan tangisan menghiba.
Bisa saja kehadiran kita dinantikan atau justru kepergian kita begitu diharapkan

Disepanjang perjalanan. Akankah seperti dedaunan yang berserak di sepanjang jalan? Banyak namun tak diindahkan?
Akankah seperti kerikil tajam? Yang menggores tungkai dan memperlambat langkah?
Atau seperti bongkah batu besar? Yang diam tak bergeming memaksa memutar haluan?
Atau laksana telaga kecil ditepi setapak? Yang hadirnya dinanti tempat melepaskan penat di hati?

Tapi satu hal yang tak kan pernah berubah dalam perjalanan ini, Bagaimana mencintai Allah Rabbul Alamin..

Yang mana perjalananmu kawan? Tentang mimpi, pengorbanan, atau cinta di hati?