This My Choise #2

7 september 2013, sore itu

seolah ada kekuatan baru yang mendorongku untuk berdiskusi dengan papa
mencoba membahas ke arah mana aku kan berjalan
lebih tepatnya mempertahankan arah yang kini sudah aku jalani
aku buka dengan meminta izin beliau atas niatku bergabung dalam sebuah lembaga amil zakat professional di kota Padang
tidak mampu aku bendung lagi, semua pikiran yang membuatku tidak tidur tadi malam, padahal esoknya aku akan diwisuda…

entah kenapa pembicaraan kami kembali menjurus pada akhlak dan pilihan ku dalam ber-Islam
melihat tingkah lakuku yang tidak biasa, seperti berjenggot, celana semata kaki, cara shalat, caraku memahami hadits, dan lainnya membuat beliau cemascemas kalau kalau anaknya salah jalan
mungkin itu pemahaman yang selama ini beliau pahami, Allahu a’lam
menurut ku tak juga salah, hanya saja kurang bijak dalam menyikapi perbedaan idelisme ini

aku juga sudah dewasa kataku pada beliau, bukan lagi bocah ingusan yang tak berpikir untuk masa depannya kelak
aku juga punya rencana hidup sendiri
ah, Alhamdulillah semua bisa ku sampaikan dengan air muka yang cukup jernih dan intonasi selembut mungkin

sayang, sore itu harus berakhir cepat
karena beliau harus segera berangkat ke Bukittinggi
aku diminta pulang ke rumah
untuk berdiskusi lebih jauh mengenai ini
diskusi yang cukup panjang rasanya

Papaku, Ayah no 1 dihatiku…..

siluet-orang3-250x205

Pagi ini kemarin, ya baru kemarin, ringtone HP ku kembali bergema, mengalun mengisi segala ruang peristirahatan di wismaku tercinta, namun belum sempat aku meraih si HP, deringnya tak terdengar lagi, senyap.

Kulihat siapa yang tadi menelpon, di layar si android mungil ini, tertulis tulisan, “1 missed call, PAPA”

ah, Papa ternyata yang menelpon, ada rasa su’udzhan terlintas di benak, mencemari hati. ah, kabar kecelakaan dan kerusakan motorku mungkin sudah dibawa angin, hingga beliau tahu, ah itu cuma prasangka belaka, ya memang, aku telah bercerita pada mama, 2 hari sebelumnya, bahwa aku membutuhkan dana yang cukup besar, untuk mereparasi motorku, yang telah mengalami kecelakan di Padang Panjang beberapa hari yang lewat, aku memohon pada mama, agar hal papa tidak mengetahui hal ini. Aku tidak ingin menambah kepanikan dan beban berat beliau sebagai Imam dalamm keluarga ku, namun tidak akan selamanya mama bisa menutupi hal ini, karena hanya akan ada kedustaan yang akan terjadi jika tetap bersiteguh menyembunyikan ini, aku jadi takut apakah beliau sedih, kecewa, panik, atau marah besar atas keteledoran sikap ku, Ini yang membuatku mengurungkan niat untuk menelpon kembali, ditambah lagi aku juga memang kere, tidak ada pulsa.

Baca lebih lanjut