Ini Dunia Mereka

Adzan dzuhur berkumandang siang ini dan seperti biasa para jama’ah pun bersiap-siap. Para peserta kajian yang telah berwudhu langsung mengambil posisi di shaf terdepan. Sebagian lagi yang ingin berwhudu bergegas menuju tempatnya. ada kejadian yang cukup lucu ketika mengantri di depan kran air. antrian sebelah saya tiba-tiba diserobot oleh anak kecil kira-kira umur 5 tahunan. Ia langsung berdiri di depan kran air dan memotong giliran bapak di belakangnya.
“Whudu whudu…”, itu saja yang ia ucapkan. Saya dan Bapak tersebut hanya beradu pandang dan tersenyum. tingkahnya tak henti disana saja. Pertama ia membasuh wajahnya, lalu kepala, dan telinga, lalu tangan, dan kembali membasuh telinga dan terakhir membasuh kaki. Saya hanya tersenyum melihatnya. Ditambah lagi ketika membasuh telinga, airnya terbang kemana-mana dan membasahi orang yang di belakang. Setelah itu ia langsung berlari menuju shaf shalat. Melihat adiknya yang berumur 3 tahun juga menuju tempat berwhudu, ia segera menahannya.
“adik gak usah whudu, ntar basah. Sini-sini”, kata sang anak pada adiknya. Ternyata ia tidak langsung menuju shaf shalat, namun berlari-lari dengan sang adik di teras mesjid sembari tertawa lepas. Sedang ayah mereka sudah kusyuk menjalankan perintah shalat.

Ini dunia mereka, maka perlakukan mereka sesuai yang mereka butuhkan.

Baca lebih lanjut

Iklan

This My Choise #1

aku tak tahu harus mulai dari mana,
lidah ini terlalu kelu, bahkan sekedar untuk berkata ya dan tidak
sudah terlalu lama gumpalan perasaan ini aku pendam
mungkin sudah menggunung, beranak pinak di ruang hati yang kian sempit
tiap kali ingin berucap, bibir ini membisu
dan sesekali diselingi oleh senyum palsu

ini pilihanku,
bukan bermaksud tak menghargai
apalagi jadi anak tak berbakti
hanya saja, ini pilihanku
dengan jenggot tipis menggelayuti wajah
dengan celana yang menggantung tepat di mata kaki
atau dengan semua ilmu syar’i yang serba menanggung itu

ternyata benar, berkata benar pada keluarga jauh lebih sulit daripada menyampaikan pada mereka yang hidupnya carut marut bahkan jika keluargamu orang yang berpendidikan tinggi sekalipun.

kata ini, masih membeku dalam qalbu,
aku butuh lebih dari sekedar mampu berkata-kata
agar segala rasa ini bisa berpindah ruang
agar mereka bisa mengerti

INI PILIHANKU !!