Shubuh Yang Istimewa

Jangan-Tidur-Selepas-Solat-Subuh

pukul 04.10 WIB adzhan shubuh berkumandang di langit Surabaya. Yah, awalnya tak ada hal yang unik. Hanya semangat pagi ini begitu menggebu-gebu. bahkan tak lupa ku lontarkan senyuman pada purnama yang menemani langkahku menuju masjid. Tiap shalat shubuh adalah hal istimewa. karena tidak semua orang bisa menikmatinya. Alhamdulillah, Allah Azza Wa Jalla masih memilihku untuk mencicipi nikmat diawal hari ini. Dari awal takbir shubuh hingga ditutup dengan salam dengan ditemani surat Al-A’la pada rakaat pertama dan tiga surat terakhir Al-Baqorah pada rakaat kedua.

Ada hal yang lebih luar biasa lagi yang kutemui ba’da shubuh ini. ketika semua jama’ah kusyuk berdzikir dan melafadzkan doa, ada seorang pemuda yang duduk di sampingku juga tak kalah kusyuknya. Aku tak kenal siapa dia. Yang mengusik rasa penasaran diriku adalah ketika ia mulai menangis dan tersedu-sedu. Tangannya menengadah ke langit, begitu pasrah. air mata tak henti mengalir dari kedua matanya. penuh isak ia begitu dalam meminta. Aku jadi terdiam melihatnya. Beberapa detik mungkin, mataku tak henti memandang wajahnya. Dan tiba-tiba juga ada air mata yang mengalir di pipiku. Seolah aku tahu apa yang ia minta pada Allah. Seolah aku paham makna di balik air matanya. Ada sebuah pinta yang ku sampaikan dalam doaku pagi ini, karena teringat akan sebuah Hadits,

Dari Abu Ad-Darda’ dia berkata Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.” (HR. Muslim no. 4912)

Dan, pagi ini begitu Istimewa. Karena air mata yang tumpah tak selalu tanda kelemahaan. air mata ukhuwah ataukah air mata yang menguatkan langkah di hari ini.

Sungguh, pagi ini ada shubuh yang istimewa.

Iklan

Bagi Mereka yang Bernama “Haters”

saya sudah sering melihat mereka mereka yang pada dirinya kini, melekat julukan “haters”. tidak lain tidak bukan mereka yang juga turut serta berdiri pada garda depan pergerakan jamaah Hizb ini. karna suatu hal ihwal kehilangan kemesraan dengan wajihah dakwahnya. mundur dari jama’ah. menepi dari lapangan perjuangan dan memberikan kritik dari tribun penonton. tidak salah jika mereka mimilih berjalan di luar dan memberikan kritikan ke dalam. yang saya anggap lucu adalah efek timbal balik dari kedua kubu ini. dari kubu yang masih di jamaah merasa mereka yang siapapun yang keluar dari jamaah dianggap tidak loyal dengan dakwah — dalam kasus ini saya tidak berbicara keseluruhan namun ada beberapa oknum yang bertindak begitu. yang di luar pun merasa mereka yang masih teguh sudah melenceng dari qur’an dan sunnah. nah lo ? lingkaran setan ini yang tetap terjaga hingga kini.

mereka yang dulu konsisten menjadi kritikus jamaah, lama lama menjadi panas bagaimana tidak, tanggapan dari mereka yang di dalam begitu menyakitkan. pun yang di dalam, menanggapi kritikan dari alumni jamaah seperti serangan yang tidak memahami gerakan dakwah itu sendiri. padahal lihat kan faktanya? yang memberikan kritik terkadang mereka yang sudah pernah jadi asatidz dakwah ini. pada akhirnya karena roda ini selalu berputar dan menimbulkan gesekan. dimana kita tahu gesekan antar dua bidang yang keras akan menimbulkan panas. nah, lama lama kritikus menjurus menjadi haters, sibuk memberikan kritik tanpa solusi pasti dan terkesan menjatuhkan bukan membangun sedangkan jamaah sibuk mencounter diri tanpa melihat cacat yang dimiliki

Baca lebih lanjut

Bukan Jamaah Malaikat

jejak langkakahku di pasir senja

Bismillahirrahmanirrahim…

Lucu juga, seorang mahasiswa yang berusaha mendekatkan diri dan mengenal Islam secara kaffah dan memutuskan bergabung di jamaah dan harokah dakwah selalu dikaitkan dengan seseorang yang luar biasa alim, ahli ibadah, dan lagi tahu segala hal ihwal tentang Islam secara gamblang. Tidak juga kawan.  Maaf, bukan menyangsikan ikhwah wa akhwat fillah yang menggabungkan diri kedalam jamaah dakwah ini, tapi semuanya memiliki proses yang sangat panjang. Jika harus jujur,  yang bergabung dalam jamaah ini bukan selalu seseorang yang berlatar pesantren, Tsanawiyah, Madrasah, atau berbagai macam lembaga pendidikan Islam lainnya. Dan mayoritas manusia yang ingin bergabung bukanlah mereka yang didasari ilmu agama yang kokoh, tapi segilintir orang yang telah dikirimi Allah SWT hidayah serta rahmat dan kekuatan hati untuk menolong agama Allah. Mereka yang terkadang masih buta akan keindahan Islam dan masih awan akan masalah dakwah. Mereka yang dulunya canggung dengan ibadah, tapi dengan sebuah proses tarbiyah, bisa berubah jadi manusia yang lebih manusiawi lagi. Seperti seseorang yang ana kenal, seseorang yang dulunya preman kelas hiu, tidak pernah mengenal hijab, dan shalat wajib masih sangat sering bolong bolong. Kini, menjadi motor penggerak aktivitas dakwah di kampusnya, ibadah sunnah jarang sekali terlewatkan, apalagi yang wajib. Padahal jika kita tanya latar pendidikannya tidak ada satupun jenjang pendidikan yang bernuansa Islam yang pernah beliau cicipi. Subhanallah. Tapi ada suatu ketika si ikhwah melakukan suatu kesalahan yang cukup fatal. Langsung saja, sebuah penghakiman datang kepadanya. Sebuah judge yang kurang ahsan mengingat si ikhwah bukan seorang yang ammah.

Ikhwah yang menjadi contoh kita tersebut bukan langsung terlahir luar biasa seperti itu, banyak rintangan serta cobaan yang menemani jalannya dalam menuju kekaffahan. Semua butuh proses dan waktu dalam pencapaian itu semua, dan seringkali dalam proses itu kita tersandung kerikil kerikil dunia yang membelokkan langkah kita, keluar dari haluan dakwah. Kerikil yang menjadi penguji sampai dimana azzam kita dalam berubah menuju manusia yang lebih baik, kerikil yang membuat kita berbuat khilaf dan salah. Kerikil yang membuat kita bisa bertindak tidak benar dan keliru, dan bahkan futur. Kerikil kerikil yang menghancurkan nilai ukhuwah, kerikil kerikil yang mematikan ghirah dakwah, dan berbagai kerikil lainnya.

Nah, terkadang ada satu hal yang utama yang luput dari ingatan kita. Kita berada dijamaah manusia, bukan jamaah malaikat. Kita adalah jamaah yang bisa dan harus mentolerir segala macam kerikil yang menghadang. Kita bukan malaikat, yang bahkan tidak akan mempertanyakan apa apa jika Allah memerintahkan untuk mencabut nyawanya sendiri. Kita manusia yang memiliki akal dan juga nafsu. Sehingga ada saatnya jiwa kita mengikuti akal dan terkadang malah mengikuti nafsu. Dan berada pada titik terendah dari keimanan kita. Naudzubillah mindzalik.

Baca lebih lanjut