Sekeping Tanggung jawab (Pelajaran dari Lapangan)

13886509_10206913307774393_7811111438911006548_n Tentu bukan perkara mudah bagi banyak anak muda yang telah menginjakkan kaki di umur 20-an ketika harus mulai meninggalkan masa masa penuh drama dalam hidupnya. Masa masa dimana petualangan begitu diagungkan, saat saat pencarian jati diri selalu jadi dalih, dan waktu dimana masalah rasa begitu konyol dalam memainkan perannya. Well, sebagian akan dengan gagah melangkah meninggalkan saat saat itu semua, namun tak sedikit yang terperangkat dalam idealisme yang fana. Ingin tetap bebas mengarungi hidup, selalu berusaha mencari pembenaran bukan kebenaran.
Di titik ini, sa
at usia sudah menunjukkan angka 23, 24, 25, bahkan lebih. Harusnya ada satu hal utama yang jadi prioritas dalam kehidupan ke depannya, tanggung jawab. Tanggung jawab pada Rabb mu, mulai menyadari bahwa Allah Azza Wa Jalla tak butuh kita, justru diri yang membutuhkan Rahmat dari Nya. Tanggung jawab pada diri sendiri, dengan mulai meluruskan langkah dan berbenah, tidak lagi ikut ikutan dalam tindakan tak tahu arah. Tanggung jawab pada keluarga, mulai memikirkan dan bertindak demi perasaan orang tua, adik adik dan semua sanak saudara. Tanggung jawab pada lingkungan, tak lagi apatis terhadap orang sekitar, berani mengambil tugas yang berkaitan dengan hajat orang banyak. Dan tanggung jawab pada cinta, tak lagi mengumbar rasa dengan mudahnya, jika serius mulailah berikhtiar dengan serius juga, mulai memperbaiki diri, menyiapkan materi, dan temui sang wali. Perjuangkan jika itu benar cinta dengan menjadikan pasangan yang sah.

Ketika tanggung jawab telah berani engkau nikmati, maka selangkah demi selangkah kedewasaan itu semakin dekat engkau raih. Aku ? Aku sungguh masih belajar menjemput tanggung jawab ini sobat…

Bagi Mereka yang Bernama “Haters”

saya sudah sering melihat mereka mereka yang pada dirinya kini, melekat julukan “haters”. tidak lain tidak bukan mereka yang juga turut serta berdiri pada garda depan pergerakan jamaah Hizb ini. karna suatu hal ihwal kehilangan kemesraan dengan wajihah dakwahnya. mundur dari jama’ah. menepi dari lapangan perjuangan dan memberikan kritik dari tribun penonton. tidak salah jika mereka mimilih berjalan di luar dan memberikan kritikan ke dalam. yang saya anggap lucu adalah efek timbal balik dari kedua kubu ini. dari kubu yang masih di jamaah merasa mereka yang siapapun yang keluar dari jamaah dianggap tidak loyal dengan dakwah — dalam kasus ini saya tidak berbicara keseluruhan namun ada beberapa oknum yang bertindak begitu. yang di luar pun merasa mereka yang masih teguh sudah melenceng dari qur’an dan sunnah. nah lo ? lingkaran setan ini yang tetap terjaga hingga kini.

mereka yang dulu konsisten menjadi kritikus jamaah, lama lama menjadi panas bagaimana tidak, tanggapan dari mereka yang di dalam begitu menyakitkan. pun yang di dalam, menanggapi kritikan dari alumni jamaah seperti serangan yang tidak memahami gerakan dakwah itu sendiri. padahal lihat kan faktanya? yang memberikan kritik terkadang mereka yang sudah pernah jadi asatidz dakwah ini. pada akhirnya karena roda ini selalu berputar dan menimbulkan gesekan. dimana kita tahu gesekan antar dua bidang yang keras akan menimbulkan panas. nah, lama lama kritikus menjurus menjadi haters, sibuk memberikan kritik tanpa solusi pasti dan terkesan menjatuhkan bukan membangun sedangkan jamaah sibuk mencounter diri tanpa melihat cacat yang dimiliki

Baca lebih lanjut