rihlah keluarga besar Ijtihad

“pak, mundur dulu ! ndak nampak jalan sampik ?! manyasak jo lai”, ujar seorang pria dari pinggir jalan pada sopir bus yang kami kendarai. Buya, ya begitu kami memanggil sang sopir, hanya diam saja. cukup wajahnya yang sudah menampakkan luapan emosi menjadi alasan kediamannya.

“mundur mundur !”, perintah pria itu tadi. Aku tak tahu ia tukang parkir di sana, atau memang pemuda setempat yang bersikap pratiotik dalam mengurus lalu lintas di lokasi itu. Masa bodoh, aku tak terlalu memikirkannya, tapi dari cara bicaranya cukup terasa menusuk ke dada.

edit 6

Baca lebih lanjut

KETIKA KE-TSIQOH-AN DIPERTANYAKAN

Assalamu’alaikum akh, af1 ana bsa mnta tlong akh, ana bru plng les akh, dn sdah gk ad angkot lg k pondokan, antm bsa jmput ana? tlong akh, plis

Aku melirik jam di handphone pabrikan korea milikku, jam sepuluh lewat lima menit. Tugas masih menumpuk, berkutat di depan ku dalam layar laptop dengan kelir berwarna merah maron. Ah, ini tantangan ukhuwah, tugas bisa menanti. Mouse pad nya ku sentuh mengarahkan cursor ke arah simbol silang di sudut kanan atas program Auto Cad 2007 yang tengah terbuka menunggu untuk ku mainkan.

Laptop itu pun aku shut down. Aku lihat ada satu SMS lagi yang masuk,

Akh, ana tnggu d smpng gdung RRI y akh. Sykran jzk

Setelah merasa laptop ku aman untuk di tinggalkan, aku beranjak untuk berkemas, lebih tepatnya sekedar memakai jaket. Ku ambil jaket berwarna hitam dengan logo mesjid di bagian punggung nya. Aku keluar kamar menuju kamar sebelah, meminjam motor rencananya.

“assalamu’alaikum akh, sibuk ndak malam ini?”, sambil berdiri di depan pintu kamar, aku buka rencana peminjaman dengan sedikit basa basi,

“ndak bang, Cuma bikin laporan, mau ngetik nih, eh ana boleh pinjam mesin tik nya bang?”, eh, beliau malah balik minjam. Mungkin ada yang bertanya tanya, mesin tik? ya beginilah nasib kami, tipikal anak teknik di kampus ku yang tugasnya luar biasa membunuh, di jaman yang canggih dimana input access sudah memakai layar sentuh, kami masih di perintahkan membuat tugas dengan laptop jaman baheula ini, canggih nya abis ngetik langsung  nge print.

“tafadhal, ambil aja di kamar bang. Eh abang bisa minjam motor antum gak?”, mulai masuk serangan awal.

“hmmm, mau kemana bang?”, aku sedikit di introgasi, wajar harus jelas dan transparan jika ingin meminjamkan sesuatu, apalagi ini motor.

“mau jemput bang danil, kemalaman pulas les, gak ada angkot lagi, bisa gak akh?”, aku meyakinkannya, serangan kedua.

“tafadhal bang, hati hati aja, masih gerimis di luar, ana baru dari warung”, ia mengaruk kantong celana dasarnya, “ini kuncinya bang”

“syukran akh, InsyaAllah bang hati hati”, mission complete, motor bebek dengan warna dominan biru akhirnya berpindah tangan, tapi Cuma sementara waktu.

Aku pun mengeluarkan motor dari rumah, di luar masih gerimis. Setengah jam yang lalu hujan lebat dan masih menyisakan sisa tangisan langit Nya. Jaket ku cukup tebal. Rasanya cukup menaham hujaman rasa dingin di sekujur tubuhku, oleh lambaian lembut angin malam. Helm sudah terpasang, starter motor, dan cabut. Aku menyusuri jalan malam kota Padang di bawah temaran lampu jalan dan rintik rintik hujan. Jalanan basah membuat ku mesti ekstra hati hati dalam memainkan tarikan motor. Karena pada saat hujan lapisan asphaltin pada jalan yang terdapat di dalam bitumen bisa saja keluar dan menambah licinnya jalan, begitu ilmu yang kudapat dari bangku perkuliahan.

Singkat cerita, aku sampai di depan gedung RRI. Lihat lihat sebentar aku menemukan orang yang membutuhkan bantuan ku. Motor ku arahkan ke sampingnya. Baca lebih lanjut

Dakwah itu cinta !

Dakwah adalah cinta - Semangat

“Jika dakwah tidak bersama antum, maka ia akan berada dengan orang orang lain yang memperjuangkannya, namun jika antum tidak bersama dakwah, dengan siapa antum akan menepi ?

(gubahan : gilang eka putra z “ravent”)

Pertanyaan di atas memang sudah tidak asing dan sudah terlalu sering kita dengar, Memang seperti itu dakwah, dia akan berada selalu dengan orang orang yang di berkahi Allah Azza Wa Jalla, dan orang orang ini adalah orang orang yang di naungi cinta karena Dakwah adalah cinta. sewajarnya cinta akan meminta semuanya dari dirimu. gerakmu, lisanmu, hatimu, pikiranmu, perhatianmu. Berjalan, duduk, dan, berpikir, berbicara, dan tidurmu. dan bahkan hingga di tiap detik mimpi mimpi kita dakwah akan selalu ada, ada dengan cinta pada umat yang mencintainya

jangan mengeluh, sudah sewajarnya dan “harus” begitu, ketika Dakwah meminta untuk mengorbankan energimu hingga tulang belulangmu luluh, otot otot mu yang mereot, Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu cabik. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret,  Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.

Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban lebih dahulu karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah SWT pada Beliau, seperti kecintaan Beliau pada umatnya.

Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz Rahimullah. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yang bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Baca lebih lanjut