pagi itu di lorong kampus (sang gadis berkerudung merah muda)

pagi itu di lorong kampus,

“Bro liat cewek yang jilbab pink, eh merah muda itu gak? ntu, yang lagi jalan di lorong”

“liat, mang napa?”

“kebetulan kemaren kita sekelas, ada satu mata kuliah yang sama kelasnya ma dia. waktu ngobrol ma dia asik banget bro, supel banget, beda ma cewek cewek jilbab dalem lain yang, jutek banget”

“oh”

“kok oh doang?”

“lantas saya ma jawab apa?”

“eh bro, elu satu organisasikan sama dia? anak forum kan dia?”

“iya, napa?”

“mintain nomor hapenya dong”

saya nyengir, “dapet mimpi apa lu semalam mau minta nomor dia?”

“yeee, sapa tau jodoh bro”

“ah kalo jodoh mah napa gak lu lamar aja langsung”

“ah, elu main lamar langsung aja, kemaren kita baru ngbrol asik masak langsung lamar aja, Pe De Ka Te dulu napa”

“ah, elu gak jantan dong kalo gitu, jodoh itu nikah bro, temuin noh bapaknya”

“biarin dah gak jodoh gak napa, yang penting nomor hapenya dulu, minimal bisa jadi temen ngobrol dan berbagi rasa gua aja dah, sumpah kemaren gua kerasan ngobrol ma dia”

“bodo dah, elu cari aja ndiri, oh iya by the way lu ada sholat shubuh gak tadi?”

“eh kok tiba-tiba nanya gituan?”

“jawab aja napa, mau nomor kagak?”

“hehe, gua ketiduran semalam bro, kemaren liga Inggris yang main tim kesayangan gua bro, jam 7 baru bangun, langsung siap-siap ngampus”

saya lagi lagi nyengir, “sholat shubuh lu aja lewat, pake mo deketin tu cewek jilbab tadi, dah sekarang lu lurusin dulu dah shalat lo, sapa tau setelah lo bener, Allah mempertemukan elu di jalan yang lebih baik, inget bro, cewek baik cuma buat cowok baik, elu dah baik pa kagak coy?”

dianya cuma garuk-garuk kepala, “tapi bukan begitu bro”

“bukan begitu gimana?”

Baca lebih lanjut

Dialog selepas Zhuhur

siang ini, ba’da zhuhur, aku melepas penat dengan bersantai di depan halaman mesjid Nurul Iman, Pondok, lalu, salah seorang sahabat yang menyertaiku perjalananku menuju jembatan siti nurbaya, turut duduk di sampingku, ia pun entah kenapa bertanya, sebuah pertanyaan yang tak terhitung lagi jumlahnya, hampir bosan ku dengar belakangan ini, “kenapa kamu tidak mencoba seperti mereka?” “mereka siapa?”, jawabku

“ya… mereka yang sama seperti mu, katanya sedang memperdalam agama Islam, aktif di organisasi Islam di kampus, tapi…”, ia menggantung kalimat terakhirnya “tapi apa?”, aku penasaran “tapi mereka tetap begitu lincah dalam pergaulan, hmmm… maksudnya begini, mereka bisa pegang pegangan tangan dengan lawan jenisnya, ketawa ketawa, hang out bareng… sedangkan kamu?”, ia menghela napas panjang aku hanya tersenyum, bukan sebuah pertanyaan asing lagi mengejutkan, aku sudah terlalu sering ditanyai begitu… “apa salah?”, aku membuka jawaban “ya gak sih, tapi aneh saja”, ia menjawab seadanya

Baca lebih lanjut

Rapat (dakwah) cuma formalitas saja ?

tulisan ini, hadir sebagai feedback, dari tulisan seorang sahabat, yang menurut saya, memiliki judul yang cukup kontroversial “Rapat (dakwah) cuma formalitas saja”. Saya begitu tertarik  menanggapi dan membahas mengenai kebiasan rapat di kalangan aktivis dakwah kampus (ADK) yang lain dalam berbagai hal, baik itu sisi teknis rapat, maupun pengambilan keputusan, dan ruh yang menjiwai rapat itu sendiri.

dalam tulisannya sahabat ana menyampaikan bahwa rapat dikalangan aktivis dakwah bukanlah segalanya. Kreatifitas dalam komunikasi harus di salurkan lebih luwes lagi ketimbang cara sekarang yang menurut pendapatnya, banyak menghambat kreatifitas komunikasi kader, beliau juga menekankan bahwa penyampaian secara langsung kepada pihak yang dituju (seperti ketua, koordinator,dll) jauh lebih efisien ketimbang harus menunggu rapat.

Memang tidak ada yang salah dengan menyampaikan langsung pendapat dan pemikiran kepada mas’ul (penanggung jawab pria), atau mengeluarkan ide ide terbaik kita pada mas’ulah (penanggung jawab wanita). Namun kalau memang hanya cukup begitu saja, dengan begitu rapat tak perlu digelar lagi atau memang benar rapat dakwah cuma  formalitas saja ditengah kita saat ini ? dan  kenapa harus di adakan juga ? toh, bisa saja kita nge-BBM atau pakai WhatsApp menyampaikan ide pada ketua atau kaputnya , dan whatever mereka mau nanggapi apa.

Baca lebih lanjut

Kisah Sang aku

pukul 00.57 di sudut taskbar layar laptop merah maroon ku. mata ini masih belum menampakkan tanda tanda akan terlelap. entah kenapa malam ini, suasana melankolis merasuk ke dalam jiwa. aku menyeka butir butir bening di sudut mataku. tanpa ku tahu kenapa sesak di hati ini begitu bergejolak. seolah ada berjuta perasaan yang telah membuncah ingin keluar dari peraduannya, dan dilihat oleh dunia.

butir butir bening ini masih belum berhenti, mengalir saja tenang melintasi tiap jengkal wajahku. kali ini tak ku seka. ingin aku teriak malam ini, tapi apa nanti kata saudara saudara ku yang telah lelap di lautan kapuk. apa juga kata tetangga, di kira ada maling nantinya.

mungkin semua bertanya tanya, kenapa sang aku jadi begitu galau. lagi patah hati? atau mungkin kehilangan sesuatu? atau? jangan menduga duga, nanti malah jadi su’udzhan. tidak baik dan menimbulkan fitnah nantinya. lebih baik segera tanya sang aku. kenapa ia tak henti menitikkan air mata, ada apa wahai aku?

Baca lebih lanjut

kembali ke masa itu

Sahabatku, bolehkah aku, ah aku terlalu rapuh untuk mengatakannya. Kalimatku tak sempat ku sudahi. Aku terlalu takut, takut jika aku harus menyakiti perasaanmu lebih dari yang biasanya aku terima, lebih dari yang pernah engkau tau. Tapi, jika tak kuselesaikan maka aku akan selalu diselimuti rasa penasaran yang amat dalam. Jadi sekali lagi. Rabbi-shrahli shodri wayassirli amri wa-hlul ‘uqdata-mmi-llisani ya-fqahu qauli.

Bolehkah aku. Maaf, maksudku, maukah engkau menemaniku? Ah, tentu engkau akan bertanya kemana? Aku ingin engkau menemaniku menjelajahi waktu, mengenang kembali kisah kisah yang pernah kita rajut di awal perjalanan kita.

Baca lebih lanjut