selamat datang di ruang hati (lagi !)

DSC_2879

kelam, pengap, berdebu, sarang laba-laba dimana-mana. bahkan di langit-langitnya bergelantungan mata-mata merah yang menghambur keluar ketika pintu ruangan ini kubuka. yaaa… begitulah kira-kira keadaan blog ini. saking lamanya tak pernah singgah di ruang ini lagi, aku bahkan hampir tak mengenali interface dari blog ku sendiri. benar-benar beda. andai ruang ini mampu berkata, mungkin ia sudah mengeluarkan sumpah serapahnya.

“untuk apa kau kesini lagi? bukannya kau tak butuh lagi aku? bukannya kau tak lagi peduli denganku? sana ! kembali dengan dunia busukmu. sana ! kembali dengan gundahmu”.

untung saja ia tak mampu berkata, tapi rasa bersalah itu tetap menelusuk ke dada. ruang yang dulu ku hampiri kala kepala penuh masalah, ruang yang dulu jadi tempat berbagi kisah kala tubuh tak lagi ada gairah, ruang yang dulu jadi tempat berbagi rasa, kala hati gundah gulana. lalu, ku menjauh darinya. atau lebih adil jika aku katakan, aku yang membuang dan meminggirkannya.

maafkan aku. kali ini aku kembali. dan janji aku tak kan pergi lagi. berat mungkin untukmu terimaku lagi. tapi lihatlah, aku disini. kembali berjuang menggores bait bait kata penuh cinta disini, tepat di ruang hati. perlahan-lahan kau juga akan sadar betapa kesungguhanku memperjuangkan tiap kata ini.

selamat datang kembali di ruang hati. selamat datang lagi goresan kata yang membias warna pelangi mengukir dibalik gerimis kehidupan ini

Iklan

This My Choise #2

7 september 2013, sore itu

seolah ada kekuatan baru yang mendorongku untuk berdiskusi dengan papa
mencoba membahas ke arah mana aku kan berjalan
lebih tepatnya mempertahankan arah yang kini sudah aku jalani
aku buka dengan meminta izin beliau atas niatku bergabung dalam sebuah lembaga amil zakat professional di kota Padang
tidak mampu aku bendung lagi, semua pikiran yang membuatku tidak tidur tadi malam, padahal esoknya aku akan diwisuda…

entah kenapa pembicaraan kami kembali menjurus pada akhlak dan pilihan ku dalam ber-Islam
melihat tingkah lakuku yang tidak biasa, seperti berjenggot, celana semata kaki, cara shalat, caraku memahami hadits, dan lainnya membuat beliau cemascemas kalau kalau anaknya salah jalan
mungkin itu pemahaman yang selama ini beliau pahami, Allahu a’lam
menurut ku tak juga salah, hanya saja kurang bijak dalam menyikapi perbedaan idelisme ini

aku juga sudah dewasa kataku pada beliau, bukan lagi bocah ingusan yang tak berpikir untuk masa depannya kelak
aku juga punya rencana hidup sendiri
ah, Alhamdulillah semua bisa ku sampaikan dengan air muka yang cukup jernih dan intonasi selembut mungkin

sayang, sore itu harus berakhir cepat
karena beliau harus segera berangkat ke Bukittinggi
aku diminta pulang ke rumah
untuk berdiskusi lebih jauh mengenai ini
diskusi yang cukup panjang rasanya