Ruhiyah Recharging

sesekali mata melirik ke sudut kanan bawah LCD laptop merah maron itu
siap siaga, jika daya pada baterai sampai pada titik kritis
takutnya ia mati seketika
biasanya ada peringatan, ketika tenaga yang tersisa sudah tak seberapa
agar segera charger tercolok pada port yang seharusnya

baterai jiwa

begitu juga jiwa ini, ruh ini
ia bagai baterai pada tubuh ringkih kita
lihat jika ia penuh akan energi positif, banyak kebaikan bisa terlaksanakan
perhatikan jika sudah kosong, alih-alih melakukan sesuatu, hidup pun tidak tenang rasanya

tentu butuh adaptor untuk me recharge kembali baterai yang kosong
kita ini lemah tak ada daya, hanya sebuah hardware ringkih
yang tanpa kekuatan Yang Maha Daya, tak lebih dari sesuatu yang tiada guna
maka kita butuh adaptor yang menghubungkan energi maha dahsyat dari sisi Sang Pemilik ‘Arsy
bagai adaptor untuk menghubungkan energi listrik sekian ratus volt menjadi energi siap pakai yang hanya puluhan atau belasan volt
lantas untuk diri ini apakah adapter itu ?
bukan benda elektronik pastinya, tapi segala amalan-amalan kebaikan kita di dunia
shalat, tilawah, shadaqoh, atau bahkan hanya memberi senyum yang tulus pada mereka disekililing kita
itu adapter untuk meraih tenaga maha dahsyat dari sisi Allah Subhanahu Wata’ala
agar baterai jiwa kita selalu pada level terbaiknya…

Iklan

Andai ia tahu betapa aku mencintainya

sejak awal aku begini karena aku peduli padamu
walau engkau meresponnya dengan tatapan tajam dari sudut matamu

bukan aku tak mengerti akan pilihanmu
silahkan engkau rangkai langkahmu sendiri, hanya jangan sampai melesat menjauh dari Sang Ilahi

aku tahu, langkahku kelam dulu
tapi bukan berarti bisa jadi hujjah bagimu untuk mengeja cara yang salah

aku takut dunia menjauhkanmu dari Ar-Rahman
aku terlalu takut untuk hal itu

sebut aku paranoid
panggil aku posesif
silahkan bilang aku over protektif dan sok ngatur
tetap doa dan sedikit nasehat tak kan henti dari bibirku

hanya saja, aku ingin engkau tahu
aku begini, karena aku mencintaimu
Ya Rabb, andai ia tahu betapa aku mencintainya

This My Choise #1

aku tak tahu harus mulai dari mana,
lidah ini terlalu kelu, bahkan sekedar untuk berkata ya dan tidak
sudah terlalu lama gumpalan perasaan ini aku pendam
mungkin sudah menggunung, beranak pinak di ruang hati yang kian sempit
tiap kali ingin berucap, bibir ini membisu
dan sesekali diselingi oleh senyum palsu

ini pilihanku,
bukan bermaksud tak menghargai
apalagi jadi anak tak berbakti
hanya saja, ini pilihanku
dengan jenggot tipis menggelayuti wajah
dengan celana yang menggantung tepat di mata kaki
atau dengan semua ilmu syar’i yang serba menanggung itu

ternyata benar, berkata benar pada keluarga jauh lebih sulit daripada menyampaikan pada mereka yang hidupnya carut marut bahkan jika keluargamu orang yang berpendidikan tinggi sekalipun.

kata ini, masih membeku dalam qalbu,
aku butuh lebih dari sekedar mampu berkata-kata
agar segala rasa ini bisa berpindah ruang
agar mereka bisa mengerti

INI PILIHANKU !!

Temu Alumni FSI SMANSA BheKaTe

Assalamu’alaikum
InsyaAllah akan ada Silaturrahim “Reuni” Alumni Fsi Smansa Bukittinggi
yang akan dilaksanakan pada SELASA, 6 Agustus 2013 bertempat di Sekretariat FSI Smansa Lanndbouw, pukul 15.30 – selesai dengan tema
“Harmonisasi Langkah Alumni untuk FSI Smansa Hari Ini”…….

ayo ikhwan wal akhwat, brother and sister bisa hadir dalam agenda luar biasa ini !!

dan tunggu dokumentasi kegiatannyapamflet FSI Smansa

Esensi Ramadhan

Esensi Ramadhan bukan hanya sekedar Masjid yang menjelma ramai oleh semua orang. Bapak-Bapak, Ibu-ibu, laki-laki, wanita, orang tua, pemuda pemudi, remaja, anak-anak, bahkan balita pun hadir meramaikan Masjid yang sebelas Bulan sebelumnya hanya penuh ketika shalat Jum’at saja. Tak penting apakah akan ikut shalat Tarawih berjamaah atau sekedar nongkrong saja. Tak penting apakah ikut mendengar  tausiyah atau menyibukkan diri ngobrol dan bergosip ria.

Esensi Ramadhan bukan hanya sekedar tumpahnya penjual Takjil dan pangan pelengkap berbuka. Mulai dari yang panas sampai yang dingin, mulai dari yang digulai hingga yang digoreng. Mulai dari makanan utama sampai makanan penutup, biasanya lengkap tersedia di lokasi pasar Takjil dadakan. Tak penting yang membeli tadinya puasa atau tidak. Tak penting akan dimakan atau tidak atau tak dipikirkan akan kekenyangan dan susah berangkat ke Masjid nantinya.

Esensi Ramadhan bukan hanya tayangan televisi yang sekonyong-konyong berubah haluan. Presenter acara gosip yang berkerudung walau nanggung. Iklan produk yang dihubungkan dengan sajian sahur dan buka. Sinetron yang menambah embel-embel Islam, Pesantren, Jilbab, Taubat, Ramadhan, yang kalau isinya tetap lebih banyak maksiat. Tak penting akan merusak puasa yang menonton. Tak penting acaranya makin menjauhkan masyarakat dari kehidupan Islam sebenarnya.

Baca lebih lanjut

Sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)

Baca lebih lanjut

pengen surga dan takut neraka ? berarti beribadah tidak ikhlas dong ?

Bismillah…
saya pernah memberi sebuah statement di facebook yang isinya kurang lebih seperti dibawah ini :

Yang menjadi salah satu motivasi kita adalah, tentang bonus yang akan kita peroleh setelah ibadah tersebut. Sehingga perasaan berat itu bisa kita minimalisir.

Begini maksud saya, jika kemarin kita lemas saat menjalankan puasa sunnah, misalnya. Maka bayangkanlah bahwa di surga sana, ada seorang bidadari cantik jelita yang akan Allah hadiahkan bagi siapa saja yang ikhlas dalam beribadah. 😀

lantas salah seorang sahabat saya bertanya : berarti beribadah tidak ikhlas dong?

“tidak ikhlas nya dimana ya ? “, saya jadi bertanya tanya

Baca lebih lanjut