LIHATLAH BAMBU ITU


Lihatlah bambu itu, beberapa lama aku perhatikan rerumpun pohon bambu di depan rumah. ketika angin berhembus begitu kencang tak ada dari mereka yang turut serta jatuh bersama dedaunannya. tidak dengan batang buat pokat di samping rumah. yang justru rubuh dihembus angin kencang dan hampir menimpa diriku, padahal angin saat itu tak jua bisa disebut badai.

Lihatlah bambu itu, derik suara nya yang mencekam mengalun seirama gerakan lembutnya tak kala diterpa angin. begitu rendah ia menunduk seolah berbisik pada angin, “aku tak kan melawanmu, pun ku tak kan kalah darimu”. dan benar, ia kembali berdiri kokoh kala tiupan angin mereda. kembali mengayun mesra tak kala angin membelainya manja.

Lihatlah bambu itu, ia menatapku nanar yang berdiri di bawahnya. “nak, aku dicipta Tuhan juga untuk jadi pelajaran bagimu”, ia berkata pelan. aku tertegun. benar, selama ini aku bak pelaut yang selalu menantang badai. sesekali mungkin kita juga ikut masuk dan berhimpun bersama pusaran badai itu sendiri. seperti bambu yang tak pernah melawan angin dan tak pula mengalah lemah hingga terpatah. “terima kasih”, bisikku padanya.

Lihatlah bambu itu, ia yang kokoh berdiri di depan rumah sederhana ini. tapi mengajarkan begitu banyak arti.

‪#‎AmpekAngkek‬, Agam ( 25 juli 2015)
menghitung hari kembali melangkah ke tanah rantau

Bukittinggi : Rindu yang Menggebu

antara payakumbuh-bukittinggi-padang

antara payakumbuh-bukittinggi-padang

Ketika dari kejauhan Bandara Internasional Minangkabau muncul dan membayang di balik jendela pesawat. Ada perasaan yang tak mampu di ucap oleh kata. Darah seolah berdesir kencang mengisi tiap ruang pembuluh darah dalam tubuh. Bak seseorang yang menemukan mata air di tengah padang pasir. Ya, padang pasir kerinduan lebih tepatnya. Memang tak lama, baru juga tujuh bulan tak menginjakkan kaki di nagari pinggir barat Pulau Sumatera ini, tapi sungguh ada berjuta rasa yang tersimpang olehnya. Bahkan tak ada lagi kata-kata yang bisa di eja untuk mencurahkan betapa rindu itu menggebu dalam hati.

Apalagi setelah kaki menginjak tanah kota Bukittinggi. Ah, segala rasa bergejolak dalam dada seolah ingin terlontar kelangit bagai kembang api di malam-malam ramadhan ini. Kota kecil yang penuh kenangan. Kota kecil yang penuh cerita panjang. Rekaman dari sekian panjang perjalanan. Andai berwujud sudah tentu ia kupeluk. Tapi Bukittinggi terlalu indah untuk ku dekap sendiri.

Sejauh-jauhnya melangkah, sejauh-jauhnya mengejar cita akhirnya akan selalu kembali ke kota kecil ini. Tak lebih mewah memang, tapi jauh lebih menenangkan. Selalu mampu mencuri rindu, selalu mampu membuat untuk kembali lagi, dan bahkan menahan tuk lebih lama lagi disini.

Dan kini, ketika kesibukan dan rutinitas kembali mengisi hari, rindu ini akan tetap menggebu. Untuk terus kembali ke Bukittinggi. Terus hingga nanti.

Inilah kami FSI Smansa Bukittinggi !!

upgrading harau

Upgrading FSI Smansa (SMAN 1) Bukittinggi, bertempat di Lembah Harau, Lima Puluh Kota dan diteruskan di Kelok Sambilang menuju Riau. Sebenarnya agenda nya sudah cukup lama terselesaikan, pertengahan 2013 silam. Hanya saja hari ini kesempatan itu datang untuk berbagi.

Pinta dan harap, mereka yang dengan senyumnya hadir di sini, selalu diberi Hidayah oleh Allah Subhanahu Wata’ala. dan yang lebih utama, mereka tetap menjadi mujahid mujahidah yang akan menegakkan kalimat Tauhid di muka Bumi ini….

karena kami “FSI SMANSA BUKITTINGGI”

Memori Daun Bambu

Subhanallah, pagi ini  dea ngamuk-ngamuk depan kamar tidurku di lantai 2, minta di antarkan ke sekolah… agak lebay juga sih bilang dea ngamuk-ngamuk, padahal cuma teriak-teriak minta cepar cepat di antar. tapi tak apalah dea gak tau isi blog ini. jangankan membaca isi blog saya, me-akses ke sini saja belum tentu dia tau… dea agak gaptek ketimbang abang-abangnya… (afwan adikku)

pukul 06.45 pagi, setelah rintik rintik shubuh tadi mulai berhenti, aku dan dea melaju dengan motor biru yang selalu setia menemaniku ke mana saja selama in. misinya satu, ngantar dea ke sekolahnya di daerah panorama. ah, tiap jengkal roda-roda menjejak aspal, kembali mengingatkanku diriku akan masa-masa beberapa tahun yang lalu. selama di dalam perjalanan, kenangan kenangan itu kembali terngiang dengan jelas.  rasanya baru kemarin aku berdiri menunuggu angkutan umum tiap pagi di tepian jalan garegeh ini… sekarang sudah tamat kuliah pula…

tak kan hilang semua kenangan di kota nan sejuk ini, meski begitu banyak kisah baru yang menimpanya di dalam pikiran ini.

seperti dedaunan bambu di depan rumahku… walau banyak tunas tunas kisah baru yang muncul, namun sang bambu tua tetap akan tegar berdiri menaungi kenangan-kenangan lalu itu…

This My Choise #2

7 september 2013, sore itu

seolah ada kekuatan baru yang mendorongku untuk berdiskusi dengan papa
mencoba membahas ke arah mana aku kan berjalan
lebih tepatnya mempertahankan arah yang kini sudah aku jalani
aku buka dengan meminta izin beliau atas niatku bergabung dalam sebuah lembaga amil zakat professional di kota Padang
tidak mampu aku bendung lagi, semua pikiran yang membuatku tidak tidur tadi malam, padahal esoknya aku akan diwisuda…

entah kenapa pembicaraan kami kembali menjurus pada akhlak dan pilihan ku dalam ber-Islam
melihat tingkah lakuku yang tidak biasa, seperti berjenggot, celana semata kaki, cara shalat, caraku memahami hadits, dan lainnya membuat beliau cemascemas kalau kalau anaknya salah jalan
mungkin itu pemahaman yang selama ini beliau pahami, Allahu a’lam
menurut ku tak juga salah, hanya saja kurang bijak dalam menyikapi perbedaan idelisme ini

aku juga sudah dewasa kataku pada beliau, bukan lagi bocah ingusan yang tak berpikir untuk masa depannya kelak
aku juga punya rencana hidup sendiri
ah, Alhamdulillah semua bisa ku sampaikan dengan air muka yang cukup jernih dan intonasi selembut mungkin

sayang, sore itu harus berakhir cepat
karena beliau harus segera berangkat ke Bukittinggi
aku diminta pulang ke rumah
untuk berdiskusi lebih jauh mengenai ini
diskusi yang cukup panjang rasanya

jejak jejak kenangan

menapaki jejak jejak memori 5 tahun yang lalu,

malam ini kuputuskan tidak langsung pulang ke rumah, pukul 21.05 di layar androidku, aku melangkah menjauh dari lokasi proyek, beranjak dari daerah Baso yang tenang dan sepi, tepatnya dari aia katik, sungai janiah. niatnya ingin langsung ke rumah karena dingin nya malam ini begini menusuk, disisakan oleh hujan lebat senja tadi, agar bisa cepat bergelung dengan sang selimut yang akan menghangatkanku di kelanjutan malam ini, ku starter motor supra X 125D cantikku, bergerak tidak terlalu kencang. yaaa, cuma 80-100 KM/jam an lah dan mengarah pasti ke garegeh.

Namun keinginan hati mengarahkan laju motorku menjauh dari rumah, simpang pendakian ke arah STAIN Bukittinggi hanya ku tatap nanar dalam keremangan malam, hanya ku lewatkan. dan kususuri jalan sukarno-hatta menuju daerah pasar bawah, lalu ke jalan sudirman, ku teruskan ke arah kanan menuju belakang balok, ya daerah blaba, dimana banyak waktu yang ku habiskan disini bersama sama kawan kawan seperjuangan di SMP silam.

Baca lebih lanjut

Bingkai wajah antara Bukittinggi – Padang

assalamu’alaikum
kalo jalan jalan mang banyak yang keliatannya bagus untuk di abadikan, ini saya take ketika dalam perjalanan rutin Bukittinggi-Padang, dari kampung halaman menuju kota perantauan

banyak yang terlewatkan, padahal masih banyak hal hal yang luar biasa yang bisa di abadikan, mungkin di lain waktu, InsyaAllah