LIHATLAH BAMBU ITU


Lihatlah bambu itu, beberapa lama aku perhatikan rerumpun pohon bambu di depan rumah. ketika angin berhembus begitu kencang tak ada dari mereka yang turut serta jatuh bersama dedaunannya. tidak dengan batang buat pokat di samping rumah. yang justru rubuh dihembus angin kencang dan hampir menimpa diriku, padahal angin saat itu tak jua bisa disebut badai.

Lihatlah bambu itu, derik suara nya yang mencekam mengalun seirama gerakan lembutnya tak kala diterpa angin. begitu rendah ia menunduk seolah berbisik pada angin, “aku tak kan melawanmu, pun ku tak kan kalah darimu”. dan benar, ia kembali berdiri kokoh kala tiupan angin mereda. kembali mengayun mesra tak kala angin membelainya manja.

Lihatlah bambu itu, ia menatapku nanar yang berdiri di bawahnya. “nak, aku dicipta Tuhan juga untuk jadi pelajaran bagimu”, ia berkata pelan. aku tertegun. benar, selama ini aku bak pelaut yang selalu menantang badai. sesekali mungkin kita juga ikut masuk dan berhimpun bersama pusaran badai itu sendiri. seperti bambu yang tak pernah melawan angin dan tak pula mengalah lemah hingga terpatah. “terima kasih”, bisikku padanya.

Lihatlah bambu itu, ia yang kokoh berdiri di depan rumah sederhana ini. tapi mengajarkan begitu banyak arti.

‪#‎AmpekAngkek‬, Agam ( 25 juli 2015)
menghitung hari kembali melangkah ke tanah rantau

Seperti Dedaunan Bambu di Depan Rumahku

tadi sore, ketika sedang menyapu dedaunan bambu yang merimbun di halaman, ada sebuah pelajaran mengenai hati yang bisa ku petik,
aku berguman, halaman itu bagaikan ruang hati, dan dedaunan yang gugur pada masanya bagaikan dosa yang menutupi halaman hati ini,
serajin apapun membersihkannya, sang daun kering kan kembali menghiasi tiap jengkal halaman itu, di tambah hembusan angin sore yang membuat para daun2 itu kembali ke posisinya masing2 setelah disapu,
seperti itu lah kiranya, dosa yang hadir di halaman jiwa, akan selalu hadir lagi, terkadang ada angin keenggenan dan maksiat yang membuat dosa kembali walau sudah disapu dengan lidi taubat,
oleh karenanya jangan lelah atau bosan menyapu daun2 dosa di hati, dengan ibadah, dzikrullah, dan amal2 baik dalam bermuamalah…
semakin banyak daun yang gugur, makin kencang angin berhembus maka harusnya makin giat kita menyapu halaman hati dan jiwa dengan ibadah2 yang kusyuk dan semakin mendekatkan diri pada Allah Azza wa jalla, harusnya begitu…

Allahu’alam bi shawab

Memori Daun Bambu

Subhanallah, pagi ini  dea ngamuk-ngamuk depan kamar tidurku di lantai 2, minta di antarkan ke sekolah… agak lebay juga sih bilang dea ngamuk-ngamuk, padahal cuma teriak-teriak minta cepar cepat di antar. tapi tak apalah dea gak tau isi blog ini. jangankan membaca isi blog saya, me-akses ke sini saja belum tentu dia tau… dea agak gaptek ketimbang abang-abangnya… (afwan adikku)

pukul 06.45 pagi, setelah rintik rintik shubuh tadi mulai berhenti, aku dan dea melaju dengan motor biru yang selalu setia menemaniku ke mana saja selama in. misinya satu, ngantar dea ke sekolahnya di daerah panorama. ah, tiap jengkal roda-roda menjejak aspal, kembali mengingatkanku diriku akan masa-masa beberapa tahun yang lalu. selama di dalam perjalanan, kenangan kenangan itu kembali terngiang dengan jelas.  rasanya baru kemarin aku berdiri menunuggu angkutan umum tiap pagi di tepian jalan garegeh ini… sekarang sudah tamat kuliah pula…

tak kan hilang semua kenangan di kota nan sejuk ini, meski begitu banyak kisah baru yang menimpanya di dalam pikiran ini.

seperti dedaunan bambu di depan rumahku… walau banyak tunas tunas kisah baru yang muncul, namun sang bambu tua tetap akan tegar berdiri menaungi kenangan-kenangan lalu itu…