Bagi Mereka yang Bernama “Haters”

saya sudah sering melihat mereka mereka yang pada dirinya kini, melekat julukan “haters”. tidak lain tidak bukan mereka yang juga turut serta berdiri pada garda depan pergerakan jamaah Hizb ini. karna suatu hal ihwal kehilangan kemesraan dengan wajihah dakwahnya. mundur dari jama’ah. menepi dari lapangan perjuangan dan memberikan kritik dari tribun penonton. tidak salah jika mereka mimilih berjalan di luar dan memberikan kritikan ke dalam. yang saya anggap lucu adalah efek timbal balik dari kedua kubu ini. dari kubu yang masih di jamaah merasa mereka yang siapapun yang keluar dari jamaah dianggap tidak loyal dengan dakwah — dalam kasus ini saya tidak berbicara keseluruhan namun ada beberapa oknum yang bertindak begitu. yang di luar pun merasa mereka yang masih teguh sudah melenceng dari qur’an dan sunnah. nah lo ? lingkaran setan ini yang tetap terjaga hingga kini.

mereka yang dulu konsisten menjadi kritikus jamaah, lama lama menjadi panas bagaimana tidak, tanggapan dari mereka yang di dalam begitu menyakitkan. pun yang di dalam, menanggapi kritikan dari alumni jamaah seperti serangan yang tidak memahami gerakan dakwah itu sendiri. padahal lihat kan faktanya? yang memberikan kritik terkadang mereka yang sudah pernah jadi asatidz dakwah ini. pada akhirnya karena roda ini selalu berputar dan menimbulkan gesekan. dimana kita tahu gesekan antar dua bidang yang keras akan menimbulkan panas. nah, lama lama kritikus menjurus menjadi haters, sibuk memberikan kritik tanpa solusi pasti dan terkesan menjatuhkan bukan membangun sedangkan jamaah sibuk mencounter diri tanpa melihat cacat yang dimiliki

ini semua berawal dari satu kesalahan fatal yang menurut hemat saya adalah penerimaan dan cara penyampaian. penerimaan sebagai kritikus yang dianggap hanya jadi penghina. penerimaan sebagai yang dikritik dianggap tak mau menyadari kesalahan. kita tidak butuh mereka yang lupa beda antara mengkritik dan menghina. teriak teriak tanpa kontribusi nyata dalam memberi perubahan kearah kebaikan dan kita tidak juga butuh anggota jamaah yang yang pasang muka tembok tak mau tahu akan cela yang kita bawa.
kita sibuk menyerang yang patutnya kita jadikan kawan. tak ada kata terlambat untuk memperbaiki ini.

lalu bagi saya pribadi, lantas keluar jadi jawaban ? tidak sampai detik ini belum terniat untuk keluar, kalau keluar, kesempatan meluruskan hal hal yang tidak tepat ini jadi kian sempit. inginnya, bisa berbicara langsung dan bertanya pada Asatidz dakwah jamaah ini. kalau keluar dan teriak teriak, kesempatan untuk memberikan nasehat dengan baik jadi hilang, Hizb ini tetap butuh kritikus kritikus tajam dalam mempertahankan langkah mereka. menegarkan azzam mereka dan mengingatkan ketika sudah mulai melupa. namun kita tidak butuh mereka yang lupa beda antara mengkritik dan menghina. teriak teriak tanpa kontribusi nyata dalam memberi perubahan kearah kebaikan.

teruslah memberikan kritikan sahabatku yang membangun tentunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s