keadilan tak selalu menyetarakan timbangan yang berat sebelah

di luar sana masih hujan, tidak terlalu lebat namun cukup untuk membuatmu menukar pakaianmu yang basah olehnya. oleh tetesan-tetesan kecil yang kupandangi dari balik visor helm putihku. aku masih mengejar jarak, agar bisa segera sampai di tempatku biasa berteduh dan melelapkan mata. agar tak terlalu lama bercengkrama bersama tetesan-tetesan kecil yang sewaktu-waktu dapat membuncah bagai air bah dari langit.

entah kenapa aku teringat sesuatu hal. ada ikhwan yang kini terbaring sakit di kostnya, dan besok juga ada wisuda, beberapa ikhwan, Alhamdulillah turut dalam agenda itu. aku teringat haruskah aku datang ke kostnya dengan buah tangan memantau keadaan dan sakitnya ? haruskah aku datang pada wisuda mereka ?

pertanyaan itu tak lantas hadir begitu saja. itu pertanyaan konyol yang harusnya tak perlu dipertanyakan. saudara sakit kenapa harus ditanya untuk membesuknya. saudara wisuda mestikan di tanya apakah akan hadir jua. ada suatu hal yang melatarbelakangi kenapa pertanyaan macam itu mesti terlontarkan. beberapa hari yang lalu aku sakit. berjuang hampir 4 minggu menahan rasa sakit. tak ada dari mereka yang hadir melihat kondisiku. hanya cukup dari sms dan telpon. dan aku juga sudah melakukan hal yang sama. kenapa mesti aku kunjungi mereka ?tak kala aku wisuda, hampir 2 bulan yang lalu. tak sempet mereka hadir dengan segala kesibukan mereka. lantas kenapa mesti aku hadir ?

sungguh, egoisme keakuanku pun mencapai titik jenuhnya. fahamku tak terima dengan hal yang timpang ini. timbangan berat sebelah, maka sudah sewajarnya untuk di sejajarkan. dengan tidak hadir ? dengan tidak menemani mereka disaat mereka butuh senyuman saudaranya ? hati kini berontak. ia tak terima juga apa yang ia terima harus dirasakan oleh yang lain juga. ini bukan keadilan, tapi balas dendam !

terkadang keadilan tak selalu menyetarakan timbangan yang berat sebelah, adakalanya di satu sisi ia tetap berat namun ada kelapangan hati yang membuat sisi yang kekurangan dapat menerima bahkan melebihkan sisi yang sudah berlebih. segala usai dengan indah. kini apakah adil jika mereka tidak hadir lantas aku tidak hadir ? apakah adil jika mereka tidak datang membesuk lalu aku pun begitu ? jika dilihat dari sisi timbangan maka hal itu adil. namun hidup tak hanya menimbang dari apa yang tampak dan apa yang dapat dihitung. masih ada sisi hati yang menjadi juri dalam penilaian keadilan ini. masih ada nilai dan norma yang menjadi landasannya. dan masih ada Ad-din yang menjadi pengaturnya. tak hanya berkiblat pada egoisme yang tak terima di diperlakukan tak sesuai dengan pinta.

terasa betapa pedihnya jika berada pada posisi yang mengharapkan kehadiran, kesepian, dan butuh bahu untuk menyandarkan keluh, lalu tak menemukan itu dengan segala alasan yang terkadang ada kesan mengada-ada. lalu cukuplah hanya segelintir orang yang merasa. tak perlu menambah daftar panjang mereka yang tertoreh luka berharap. apalagi sebelumnya mereka belum pernah merasa. kini akan jauh lebih adil jika kita melapangkan hati dan menerima sikap selayaknya pemenang yang berjiwa besar. jadikan pedih yang pernah dirasa sebagai sebuah pembelajaran bahwa hal-hal menyakitkan ini cukuplah hanya segelintir orang yang merasakan. ini jauh lebih adil daripada semakin memperpanjang rantai kekecewaan itu. maka tak ada alasan untuk melanjutkan balas dendam berkedok keadilan.

hujan masih sama, tak terlalu lebat, namun cukup rapat. dan aku masih melaju menuju peraduanku. ada janji yang mesti ku tepati esok.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s