Esensi Ramadhan

Esensi Ramadhan bukan hanya sekedar Masjid yang menjelma ramai oleh semua orang. Bapak-Bapak, Ibu-ibu, laki-laki, wanita, orang tua, pemuda pemudi, remaja, anak-anak, bahkan balita pun hadir meramaikan Masjid yang sebelas Bulan sebelumnya hanya penuh ketika shalat Jum’at saja. Tak penting apakah akan ikut shalat Tarawih berjamaah atau sekedar nongkrong saja. Tak penting apakah ikut mendengar  tausiyah atau menyibukkan diri ngobrol dan bergosip ria.

Esensi Ramadhan bukan hanya sekedar tumpahnya penjual Takjil dan pangan pelengkap berbuka. Mulai dari yang panas sampai yang dingin, mulai dari yang digulai hingga yang digoreng. Mulai dari makanan utama sampai makanan penutup, biasanya lengkap tersedia di lokasi pasar Takjil dadakan. Tak penting yang membeli tadinya puasa atau tidak. Tak penting akan dimakan atau tidak atau tak dipikirkan akan kekenyangan dan susah berangkat ke Masjid nantinya.

Esensi Ramadhan bukan hanya tayangan televisi yang sekonyong-konyong berubah haluan. Presenter acara gosip yang berkerudung walau nanggung. Iklan produk yang dihubungkan dengan sajian sahur dan buka. Sinetron yang menambah embel-embel Islam, Pesantren, Jilbab, Taubat, Ramadhan, yang kalau isinya tetap lebih banyak maksiat. Tak penting akan merusak puasa yang menonton. Tak penting acaranya makin menjauhkan masyarakat dari kehidupan Islam sebenarnya.

Esensi Ramadhan bukan hanya sekedar bersolek menyambut Idul Fitri. Toko-toko pakaian yang mulai memasang diskon. Bersih-bersih rumah yang nantinya banyak di kunjungi sanak saudara dan teman-teman. Kue, biskuit , cemilan khas lebaran yang sudah siap semenjak awal Ramadhan. Tak penting demi berjualan dan berbelanja ibadah jadi ketinggalan. Tak penting apakah benar-benar menjadi orang yang menang di awal bulan syawal.

Esensi Ramadhan bukan hanya sekedar menahan lapar. Bukan hanya menahan haus. Lebih lebih dari itu menahan diri adalah yang utama.

Sebagian ulama salaf berkata,“Puasa yang jelek adalah jika saat puasa hanya meninggalkan minum dan makan saja.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 277). Itulah yang hakiki, mempuasakan tiap jengkal tubuh dari maksiat dan segala keburukan serta murka Allah, seperti  yang di sampaikan Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, “Jika engkau berpuasa, maka puasakanlah pendengaran, penglihatan dan lisanmu dari dusta dan perkara yang diharamkan. Jangan sampai engkau menyakiti tetanggamu. Juga bersikap tenanglah di hari puasamu. Jangan jadikan puasamu seperti hari-hari biasa.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 277). Tak penting apa kata orang, tak penting sedikit nikmat dunia yang terenggut. Sejatinya Allah Azza wa Jalla akan menggantikan nikmat itu jauh lebih besar dari yang kita bayangkan.

wallahu a’lam bishowab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s