rihlah keluarga besar Ijtihad

“pak, mundur dulu ! ndak nampak jalan sampik ?! manyasak jo lai”, ujar seorang pria dari pinggir jalan pada sopir bus yang kami kendarai. Buya, ya begitu kami memanggil sang sopir, hanya diam saja. cukup wajahnya yang sudah menampakkan luapan emosi menjadi alasan kediamannya.

“mundur mundur !”, perintah pria itu tadi. Aku tak tahu ia tukang parkir di sana, atau memang pemuda setempat yang bersikap pratiotik dalam mengurus lalu lintas di lokasi itu. Masa bodoh, aku tak terlalu memikirkannya, tapi dari cara bicaranya cukup terasa menusuk ke dada.

edit 6

Aku turun dari bus, dan mulai bertingkah sebagai tukang parkir. Berusaha mengarahkan bus agar bisa mundur beberapa meter kebelakang dan mengambil posisi menepi agar mobil lawan bisa melaju. Alhamdulillah, kendaraan lain telah mengantri beberapa meter di belakang bus sehingga tak menyulitkan bus untuk mundur. Ruang kosong di tepi jalan sangat sedikit, karena telah di jadikan lahan parkir. Wajar, tiap hari libur kota Bukittinggi selalu padat akan wisatawan, baik dari dalam maupun luar kota. Namun sayang, tidak di dukung dengan sarana dan prasarana yang memadai, contohnya lahan parkir publik.

Bus telah menepi, lalu lintas mulai berjalan lagi, namun benar benar padat dan mobil mobil itu hanya mampu merayap pelan. Bus kami masih berdiri tegap menahan sesak di pinggir jalan. Belum ada nampak ruang untuk maju, pun mundur apalagi. Lelaki di atas bus yang lain juga mulai ikut turun. Mereka turut serta mengambil posisi mengarahkan jalannya bus agar keluar dari jebakan macet. Sebagian lainnya maju kedepan dan berusaha menghambat lalu lalang kendaraan dari arah berlawanan. Sayang, tak semua kendaraan mau bersikap kooperatif. Mereka tetap berusaha “mancucuak” terus ke depan tanpa perduli ada bus besar di hadapannya. Untungnya sopir bus kami benar benar cekatan, dengan keadaan  demikian padatnya tetap bisa melajukan busnya walau dengan kecepatan yang begitu rendah. Sekarang giliran akhwat yang turun, aku bingung perjanjiannya kita akan ke Panorama ngarai sianok, tapi kenapa turun disini. Ah, fokusku hanya satu saat ini, bagaimana bus ini bisa lepas dari jalanan sempit di depan Bank Nagari, Pasar Atas.

Alhamdulillah, dengan ikhtiar semuanya dan berkat rahmat Allah Azza wa Jalla, bus berhasil lepas dari jebakan macet. Aku lalu naik kembali ke atas bus. Ternyata tak semua akhwat yang turun. Masih ada tiga orang lagi di atas bus yang tersisa. Aih, makin ribet jadinya. Aku berdiskusi dengan Buya. Kemana sebenarnya rombongan akan bergerak. Namun sebelumnya kami harus menemukan tempat parkir yang pas agar tidak mengganggu lalu lintas lainnya. Ah, benar benar sorenya yang luar biasa. Mengarahkan bus keluar dari macet, dan di sangka benar benar tukang parkir oleh para pendatang yang melewati jalanan sekitar macet tadi

“dek, masih ada tempat parkir ke arah sana?”, sembari menunjuk ke arah Hotel rocky.

Aku jawab sesuka ku, “udah penuh pak, dah padat di sana, mending coba cari lokasi lainnya pak”.

Alhamdulillah, bus kami mendapat tempat parkir di depan pedagang tahu sumedang, di bawah jembatan Limpapeh, yang kata dosenku ia yang merancang bangun strukturnya. Dan lucunya kami sekelas begitu saja percaya. Di atas bus hanya tinggal Buya, istrinya, dua orang anaknya serta aku dan tiga orang akhwat yang entah kenapa tidak turun dari tadi.

Buya turun dari bus, dan melangkah menuju pedagang tahu sumedang, beliau bilang segan numpang parkir di depan orang berdagang tapi tidak membeli, jadi beliau istirahat di sana sekaligus mengisi perut. Begitu pun keluarganya.

Aku bingung, karena rombongan lain entah kemana rimbanya. Ah, ini bukan rimba ini kota, jadi aku tak tahu dimana kotanya, ikwan dan akwat lainnya. Apalagi akhwat yang bertiga ini, mungkin jauh lebih bingung. Aku hubungi fadhlan yang juga tadi sudah turun.

“Assalamu’alaikum akh, dima antum kini?”, nada suaraku cukup panik ketika bertanya pada fauzan, dimana posisi rombongan lainnya.

“oh, di mesjid Nurul Falah. Yo lah ana ka sinan lai,” aku jawab sekenanya, lalu ku putus percakapan kami via galaxy young ku dan melangkah menuju lokasi yang di sampaikan.

Aku pamit pada buya, sopir bus yang sedari tadi menemani perjalanan rihlah kami hari ini. Di belakang ku menurut tiga orang akhwat yang buta arah di kota ini. Setahu ku begitu, karena tak ada satupun dari mereka yang kutahu pernah berdomisili di kota wisata ini. Beda denganku, yang setiap jengkal kota ini adalah kenangan bagiku. Ku susuri jalanan kampung cina beranjak dari bawah jembatan limpapeh, dimana bus kami berhasil di parkirkan.

Ah, benar benar perjalanan luar biasa, yang kami mulai dari pagi tadi, dan direncanakan jauh jauh hari oleh kami, ya kami, Ijtihad.

Berawal dari pagi ini, kamis 6 juni 2013, rihlah forum ukhuwah angkatan 2010 Forsipol di mulai. Rencana awalnya berangkat pukul 08.00 pagi. Namun ada ikhwan yang ngaret (termasuk ana sendiri ^_^) jadinya terlambat dan resmi bus kami menapaki jalanan aspal kira kira pukul 09.00 menuju beberapa lokasi di kabupaten Agam dan Bukittinggi….

(to be continued….)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s