Bukan Aku Tak Peka Akan Rasa

smoke heart

“Bukan aku tak peka akan rasa”

Sungguh, sejak awal aku tahu bahwa memang aku yang engengkau tuju. Tak muluk aku berkata begitu, karena memang jauh berbeda sikapmu padaku berbanding terbalik kepada para ikhwan lain. Bukan aku terlalu percaya diri atau merasa aku yang luar biasa, pun naïf rasanya jika ku nafikan caramu mengenalku. Padahal diriku, apalah yang ada di diriku ini, tak ada yang bisa di banggakan. Berbeda dengan ikhwan lain yang mungkin sudah mengharapkanmu sejak dahulu. Mereka punya hal yang bisa membuat derajat mereka lebih dari diriku, ketampanan mereka, kekayaan mereka, ruhiyah dan ibadah mereka, serta posisi mereka yang jauh dari kata bisa saja. Aku tak punya semua itu, tapi kenapa harus aku?

“Bukan aku tak mengerti akan hati”

Teringat, betapa perhatiannya dirimu padaku. Disaat aku khilaf engkau mengingatkan ku, walau dengan sindiran pedih. Disaat aku belum makan karena kesibukan agenda engkau memberitahuku ada nasi sisa peserta yang bisa aku nikmati. Disaat aku salah dalam bertindak, engkau menohok ku dengan kata kata tajam saat rapat. Atau saat engkau harus menelponku pukul 11 malam hanya untuk marah marah karena tidak becus mengurusi anggota. Dan masih banyak lagi memori aneh tentang sikapmu padaku yang tersimpan rapi dibenakku. Aku tak tahu, apakah memang begini sikap mu pada seluruh ikhwan? Karena memang bukan pekerjaanku memperhatikan tingkah lakumu. Aku juga tak tahu seberapa tinggikah hijab hatimu sehingga semua itu tak menjadi gejolak dijiwamu. Tapi yang aku sadari, itu semua cukup mengusikku. Aku hanya pemuda yang masih lemah hatinya, masih rapuh ruhiyahnya, masih rendah ibadahnya. Dan sindiranmu, kata tajammu, atau kemarahanmu tak lebih dari sebuah perhatian bagiku. Jika hanya sesekali tak masalah, seperti yang biasa dilakukan saudaramu yang lain. Namun berbeda jika acap kali engkau melakukan itu. Dengan momen dan waktu yang kadang ku rasa kurang tepat. Tegakah engkau membuat saudara mu terjatuh pada lembah yang di nistai Allah ?

“Bukan aku tak ingin akan dimengerti”

Terlalu rasanya jika hanya dirimu yang kusalahkan. Sesekali diriku juga serta memberi celah celah untuk syaitan beraksi. Terlalu rasanya jika aku menafikan gejolak diri ini. Ya, hatiku bergejolak kuat menahan segala takut akan murka dari Dzat yang nyawaku ada dalam genggamanNya. Dan juga gejolak akan hati yang ingin merasa hangat rasa yang datang.

Ukhti, bukankah sudah terlalu sering kita dengar dalam tiap daurah yang engkau hadir didalamnya. Urusan hati memang bukan hal mudah untuk lari darinya. Karena fitrahnya manusia memang merasakannya. Namun dalam menjalaninya pernahkah terlintas bahwa yang terkadang kita tempuh bukanlah jalan yang benar? Bukanlah jejak yang di Ridhoi Allah?

Cobalah untuk memahami, rasa tak harus engkau sampaikan dengan fakta dan bentuk nyata. Karena diammu lebih jauh mulia ketimbang kau beri aku celah celah rasa yang berujung nestapa.

Maaf, bukan aku tak peka akan rasa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s