Kisah Sang aku

pukul 00.57 di sudut taskbar layar laptop merah maroon ku. mata ini masih belum menampakkan tanda tanda akan terlelap. entah kenapa malam ini, suasana melankolis merasuk ke dalam jiwa. aku menyeka butir butir bening di sudut mataku. tanpa ku tahu kenapa sesak di hati ini begitu bergejolak. seolah ada berjuta perasaan yang telah membuncah ingin keluar dari peraduannya, dan dilihat oleh dunia.

butir butir bening ini masih belum berhenti, mengalir saja tenang melintasi tiap jengkal wajahku. kali ini tak ku seka. ingin aku teriak malam ini, tapi apa nanti kata saudara saudara ku yang telah lelap di lautan kapuk. apa juga kata tetangga, di kira ada maling nantinya.

mungkin semua bertanya tanya, kenapa sang aku jadi begitu galau. lagi patah hati? atau mungkin kehilangan sesuatu? atau? jangan menduga duga, nanti malah jadi su’udzhan. tidak baik dan menimbulkan fitnah nantinya. lebih baik segera tanya sang aku. kenapa ia tak henti menitikkan air mata, ada apa wahai aku?

kalau kalian berpikir aku patah hati ya begitulah aku. hati ku hancur berkeping saat ini. bukan karena ada akhwat yang menolak ku mentah mentah, tapi karena saudara ku ternyata sempat salah menempatkan cinta nya, salah mengambil jalan dalam mengimplementasikan rasa sayang nya pada seseorang. aku patah hati, karena saudariku terlalu sibuk mengejar cinta semu nya, terlena dengan janji janji yang melayangkan jiwa. aku patah hati, karena banyak yang hilang arah, galau duluan sebelum jelas siapa jodoh yang akan datang. aku patah hati sobat, oleh mereka yang menodai makna cinta yang telah Allah beri.

aku juga kehilangan, kehilangan kekasih katamu? afwan wal sorry. bukan itu wahai sahabatku, aku kehilangan cinta yang hakiki, cinta hamba pada Penciptanya, cinta umat pada Rasulnya, cinta sahabat dalam ukhuwahnya, cinta anak pada orang tuanya, bahkan sudah cukup banyak yang kehilangan cinta pada dirinya, zhalim pada dirinya sendiri. aku kehilangan itu semua,

malam ini aku membaca beberapa status teman teman yang tak sengaja hadir di halaman depan jejaring sosial biru putih ku ini. sudah cukup banyak yang galau akan siapa yang akan hadir menemani dirinya, ribut dengan ikhwan mana yang akan menikahinya, ramai dengan akhwat siapa yang akan hadir menghiasi sudut hati, seru dengan segala problema cinta yang sepele dan itu itu saja. lagi lagi aku menangis lembut, nyaris tanpa suara.

sang aku juga menyimpan rasa takut yang cukup mendalam. ia tak tau, dan tak akan pernah tau apakah ia akan selalu bisa Istiqomah, bertahan dalam remang remang hati yang iman nya dengan mudah jungkir balik. bisakah ia menjadi Fatimah Az Zahra yang tetap tenang dalam diam menanti sang pangeran datang? atau ia akan seperti Ali Ibn Abi Thalib Radiyallahu Anhu, yang turun langsung ke medan cinta, tanpa banyak oceh dan janji janji gombal.

#Wallahu’alam
30 oktober 2012
menyekap segala kecewa dalam dada

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s