kembali ke masa itu

Sahabatku, bolehkah aku, ah aku terlalu rapuh untuk mengatakannya. Kalimatku tak sempat ku sudahi. Aku terlalu takut, takut jika aku harus menyakiti perasaanmu lebih dari yang biasanya aku terima, lebih dari yang pernah engkau tau. Tapi, jika tak kuselesaikan maka aku akan selalu diselimuti rasa penasaran yang amat dalam. Jadi sekali lagi. Rabbi-shrahli shodri wayassirli amri wa-hlul ‘uqdata-mmi-llisani ya-fqahu qauli.

Bolehkah aku. Maaf, maksudku, maukah engkau menemaniku? Ah, tentu engkau akan bertanya kemana? Aku ingin engkau menemaniku menjelajahi waktu, mengenang kembali kisah kisah yang pernah kita rajut di awal perjalanan kita.

Ayolah, sebentar saja. Aku rindu masa masa itu sahabatku. Aku rindu ketika lantunan takbir kita bergema bersama, saat kita melangkah kemalaman ba’da daurah, saat malam malam dingin kita menegakkan tahajud sedang yang lain asik berdengkuran, saat air mata kita mengalir menyadari dosa dosa lalu yang telah terukir, saat alunan suaramu merdu bersama nasyid nasyid perjuangan. Saat irama tilawahmu membaur dengan tangis haru, saat dirimu menguatkan ku meninggalkan masa lalu yang kelabu, saat kau yakinkan bahwa cinta akan datang di saat yang tepat, asalkan aku menyiapkan diri untuk sang bidadari yang akan menemani, saat lingkaran kecil itu menjadi sebuah pertemuan yang menenangkan kalbu, saat…

Ah, terlalu banyak kenangan indah bersamamu kawan. Terlalu banyak untuk kulukiskan satu per satu dalam damai perjalanan ini, tapi kenapa? Kenapa engkau pergi?
kenapa engkau melalaikan tiang tiang agamamu kini? Terlalu sibukkah?

Kenapa engkau mengejar cinta fana? Ragukah engkau dengan janji Allah Azza Wa Jalla atas jodohmu kelak?
kenapa irama tilawahmu tak lagi bisa kunikmati di tiap hariku? bukankah engkau berjanji minimal 2 juz perhari ?
kenapa malam malam mu begitu sunyi? Dimana tahajudmu? Dimana waktumu berdekatan dengan penciptamu?
kenapa gerakmu kini kian kaku? Menghilang begitu saja tanpa tau rimbanya?
kenapa dirimu begitu kelam? Dimana akhlak muliamu yang menerangi mu? Dimana kata kata indah yang selalu menyemangati diri sekitarmu?
kenapa alunan nada merapuhkan jiwa yang menemanimu? Mana murrotalmu? Mana nasyid nasyid perjuangan yang biasa engkau dendangkan?
kenapa engkau pergi sahabatku?

Kembali lah sabahabatku, kembalilah pada jalan suci perjuangan ini, jalan yang di ridhoi Allah, jalan yang ujungnya jannah Allah, jalan yang dahulu kita tempuh bersama, dan pada saat itu terjadi. Aku janji tak akan melepasmu lagi, akan kupeluk erat dirimu. Erat dalam dekapan ukhuwah.

#muraja’ah diri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s