renungan di pinggir jalan

Kamis, 11 oktober 2012

Hari ini aku di minta untuk mengantar dea ke sekolahnya. Mama yang biasa nya “melalukan” dea ke sekolah hari ini harus merelakan dea aku antar karena ada pertemuan penting di Sekolah tempat beliau mengajar. Papa pun hari ini tidak mengajar juga, pagi ini beliau juga pergi ke kampung. Jadi lah aku yang mengantar dea. Tau aku yang mengantar ribut lah si kecil ini, karena reputasi ku dalam membawa kendaraan yang “cukup kencang”. Begitu banyak wanti wanti dea padaku, seperti biasa aku hanya tersenyum dan mengangguk angguk syahdu dengan ekspresi yang dipahampahamkan.

Berangkat lah kami pukul 06.10 waktu Bukittinggi. Karena ada dea dibelakang ku maka kecepatan maksimal yang bisa ku capai Cuma sekitaran 60 KM / jam. Kalau lebih dari itu, otomatis dea memukul kepala ku, Alhamdulillah ada helm yang melindungi.

Tidak ada kejadian yang begitu menarik, dan saat sampai aku di sekolah dea pun sama saja. Nah, ketika aku sudah melewati jalan sukarno-hatta, tepatnya dekat simpang by pass ada seorang anak SMA yang memakai pakaian olahraga juga mengendarai motor, tanpa menggunakan helm. Padahal “helm itu bukan untuk gagah gagahan tapi untuk keselamatan, kalau kepala sudah lebih keras dari campuran aspal jalan ya gak apa apa lah gak pakai helm”,itu lah kata seorang sahabat padaku. Apalagi jalanan pada hari ini berada pada kondisi kepadatan yang cukup tinggi karena cuaca mendung. Jalanan tidak terpapar matahari langsung, sehingga tingkat muai dan plastisitas aspal pada jalan jadi rendah.

Aku berada tidak jauh dari anak SMA tadi,  tepatnya di belakangnya. Tau tau ada sepeda motor matic mendahuluiku mendekat ke arah si anak yang tidak berhelm tadi. Ternyata pak polisi. Ia kemudian menyalip si anak SMA dan meminta untuk berhenti. Wah, sarapan pagi nih pikirku, Astagfirullah, ntah kenapa aku begitu cepat berprasangka pada petugas pengayom masyarakat itu. Tau apa yang terjadi ternyata pak polisi tersebut hanya memberi nasehat pada anak tersebut. Si anak membawa helm namun tidak di pakainya itu yang di perintahkan sang polisi tersebut kepada si anak, agar helm itu tidak di gantung, tapi di pakai. Setelah itu pak polisi itu berlalu.

Ah, aku jadi merasa begitu bersalah, pandanganku begitu buruk pada sang polisi, padahal Ia hanya melakukan tugas yang sesungguhnya, mengayomi masyarakat. Ah, kawan ada pelajaran penting yang aku dapat pagi ini. Mungkin tidak sedikit petugas di luas sana yang tidak amanah dengan seragamnya, dengan sumpah jabatannya. Tapi bukan berarti semua nya yang ingkar akan sumpahnya. Masih ada di luas sana, petugas petugas yang tetap setia dengan amanah yang di tumpukan pada pudak mereka. Dan jangan terlalu cepat su’udzhan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
“Artinya : Waspadalah kalian dari berprasangka, karena sesungguhnya prasangka itu sedusta-dusta perkataan…” HR Al-Bukhari (5/1976, 2253 no. 4849 dan 5717, 6/2474 no. 6345), Muslim (4/1985 no. 2563), dan lain-lain, dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

Wallahu’alam

#muraja’ah diri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s