Aku Pulang

“ Bandara Soekarno Hatta… “, batinku. Dari kejauhan tampak jelas bandara tujuanku. Betapa bahagianya aku ketika bayangan bandara terbias dibola mataku. Menembus retina, menjalar ke tiap syaraf otakku.

Akhirnya SUV pabrikan jepang yang kutumpangi masuk ke area bandara setelah hampir lima jam berkendara dari Depok. Melelahkan, karena harus terjebak macet beberapa kali. Tapi tak lama lelah itu merasuk. Semua hilang berganti dengan euphoria kebahagian.

“Kita sudah sampai Raf”, ucapan Om Rahman mmbuyarkan lamunanku. “Oh… Ya Om”, jawabku sedikit terbata. “Kamu melamun ya Raf ?”, Tante Salwa menimpali. Spontan  ku menatap wajah Tante Salwa yang begitu tenang.

“Nggak kok Tan. Aku tadi kepikiran, rasanya bandara ini jadi lebih indah dari biasanya”, jawabku dengan tersenyum.

“Ah, kamu ada-ada aja Raf”, ucap Om Rahman lalu tertawa kecil. Lalu Ia mematikan mesin mobil yang telah terparkir rapi. Aku langsung membuka pintu, turun dan berlari ke belakang mobil menuju bagasi.

“Raf, hati-hati. Jangan tergesa-gesa begitu”, ucap Tante Salwa. Sedikit cemas melihatku begitu tergesa-gesa seperti anak kecil.

“gak apa-apa kok Tan. Aku sudah nggak sabar mau pulang, aku ingin cepat-cepat menyampaikan kabar ini pada Ayah dan Ibuku”, Jawabku .

“Ya tapi jangan seperti itu”. Lalu Tante Salwa ikut turun dari mobil. Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Tante Salwa.

“Om bisa minta tolong bukain bagasinya ?”

“ Ya tunggu”, jawab Om Rahman dari dalam mobil. Lalu secara otomatis pintu bagasi terbuk. Kuraih tas ranselku yang tak terlalu besar karena aku berniat untuk pulang tidak terlalu lama. Om Rahman juga telah turun dari mobil dan berdiri di samping istrinya. Aku mendekat.

“Om, Tante. Terima kasih ya”,ucapaku

“Loh, terima kasih buat apa ?”, walaupun wajah Om Rahman tenang seperti air namun tetap terlihat raut heran di wajahnya.

“Hmmm… Aku sudah banyak membuat repot Om dan Tante, gara-gara kepulanganku Om dan tante jadi repot. Om sampai gak masuk kerja pula”.

Tante Salwa dan Om Rahman tersenyum. Om Rahman mendekatiku dan menepuk lembut pundakku.

“Raf, Raf… ini belum seberapa dibanding apa yang Ayah kamu lakukan buat Om. Om merasa berhutang budi pada beliau. Dan bagi Om, ayahmu sudah Om anggap abang Om sendiri. Berarti kamu anak Om juga. Jadi jangan terlalu berlebihan lah”

“Iya Raf. Kamu anak tante juga kok, gak Cuma anak om saja”, Tante Salwa menambahkan. Kami pun tertawa bersama, namun tiba tiba raut wajah tante Salwa berubah serius “Lagipula rasanya kamu kok jadi aneh gini ya Raf. Kok ngomongnya seperti itu”.

“Gak kok Tan, aku Cuma merasa kurang enak aja. Terima kasih banyak ya Om, Tante. Kalau begitu Rafli pamit dulu.”

“Hati-hati ya Raf. Apa gak apa-apa sampai sini saja ?”. tanya om Rahman. “Nggak apa-apa kok Om, aku bisa sendiri kok, ntar om makin lama ke kantornya. Oh ya, salam buat Denita ya Tan. Bilangin rajin-rajin belajar selama aku pergi”.

“Tante bakal sampein kok. Dia pasti kehilangan kamu Raf, sayang dia gak bisa ikut nganterin kamu. Ada ujian katanya”. “Ah Tante, aku kan pulangnya gak lama. Kok begitu banget sih ?” jawabku sambil tersenyum.

“Dan jangan lupa salam Om dan Tante buat Ayah dan Ibu kamu. Awas kalau tidak kamu sampaikan”, nada Om Rahman sedikti mengancam tapi tetap diselingi senyum. “Insyaallah Om. Dah ya Om, Tan. Rafli berangkat dulu. Assalamu’alaikum “. “Wa’alaikumussalam”. Sahut mereka kompak.

Aku lalu melangkah gontai menuju terminal keberangkatan. Tak terasa air mataku mulai menggenang di sudut mataku. Sudah hampir empat tahun aku bersama mereka. Ya, dan sudah hampir empat tahun juga aku tidak bertemu orang tuaku.

Mereka tetap menatap lekat tiap langkahku, hingga aku menghilang dari pandangan mereka. Hilang ditelan keramaian Bandara. Mereka baru bisa berniat untuk pulang. “Ayah, aku merasa ada yang lain dengan Rafli kali ini. Tidak biasanya dia begitu Yah”, Tante Salwa mengutarakan apa yang menyesak didadanya pada sang suami. Om rahman hanya diam, terbungkam oleh keadaan. Ia hanya menatap lekat mata istrinya, dengan aba aba anggukan mereka kembali melangkah ke arah mobil dan tetap saja, mereka ternyata masih diliputi perasaan kehilangan. Begitupun dengan diriku. Padahal lima menit yang lalu kami masih tertawa bersama.

Kini aku bisa duduk santai di bangku yang telah tercantum didalam tiketku. Aku beruntung mendapat bangku di samping jendela, jadi masih bisa melihat-lihat sedikit pemandangan bandara. Tapi setelah semua perpisahan tadi, bandara ini jadi lebih hambar. Tak ada keindahan yang kurasa saat ku datang tadi. Tapi sekawanan burung pipit yang bermain di alang-alang di balik pagar bandara membuat senyumku merekah kembali. Aku kembali teringat ayah dan ibu yang sudah lama sekali tak jumpa denganku.

Sepuluh menit lagi pesawat akan take off. Dan seperti biasa, seorang pramugari yang cukup cantik, – ya kalau tidak mau dibilang biasa biasa saja, memberi instruksi dan penjelasan mengenai apa yang terjadi pada pesawat dan apa saja yang harus kita lakukan. Dan akhirnya pesawat meluncur dan mengudara. “selamat tinggal Jakartaku yang gersang. Nantikan lagi kedatanganku”, tanpa sadar aku melambaikan tangan ke jendela.

Pesawat telah menginjak ketinggian 20.000 kaki. Tinggi sekali. Setinggi kegembiraan yang ku bawa pulang ke Padang untuk kusampaikan. Pikiran ku melayang jauh mengingat alasan ku untuk segera pulang. Padahal satu minggu lagi aku akan sidang kompre, dua jam yang menentukan kelanjutan studiku, wisuda atau tidak. Benar benar semester terakhirku di kampus. Namun aku bersikeras untuk pulang. Ini berawal ketika aku dipanggil untuk menghadap  pembantu dekan I di ruangannya. Aku merasa sangat terkejut karena hanya ada dua alasan seorang mahasiswa menemuinya. Pertama dari sisi baiknya, segala masakah akademik dan yang berhubungan dengan kampus dan yang kedua yang terburuk, jika umurmu di Universitas ini sudah tak lama lagi, drop out. Dan ditambah reputasinya sebagai dosen yang bisa memakan orang sudah tersebar kemana-mana. Tentu beliau tak makan orang sungguhan. Cuma jika engkau berhadapan dengan beliau, kurang lebih itu yang akan engkau rasakan. Itu yang kudengar dari gosip-gosip mahasiswa tak jelas di kampus, yang pernah berurusan dengan beliau, terutama ketika bimbingan.

Dan betapa bersyukurnya aku. Setelah lama berbincang dingin bertanya tentang srikpsi dan, suhu beliau berubah hangat dan beliau menanyai tentang proposal beasiswa yang aku ajukan, aku jelaskan sedetil mungkin, dan beliau hanya manggut manggut. Lalu mengenai hasilnya, ini yang membuatku tegang. Saat ini aku baru tersadar, hasil pengumuman beasiswa ke negeri sakura akan disampaikan oleh PD I langsung kepada sepuluh orang penerimanya, dan itu hari ini !

“saya salut dengan prestasi anda selama ini. Saya rasa tidak akan salah jika memberi kesempatan emas ini pada anda”. Sembari menyodorkan beberapa helai kertas dan sebuah amplop besar padaku. “Segera setelah anda menamatkan gelar strata satu anda disini anda akan melanjutkan gelar strata dua anda di Jepang. Tepatnya University of Tokyo, dari sekian ratus mahasiswa yang berminat dengan beasiswa ini, anda beruntung menjadi salah satu penerimanya, jadi jangan sia siakan”.

Aku tidak bisa mengucapkan kata sepatah apapun. Lidah ku kelu. Aku kehilangan kesadaranku. Merasa seperti orang pertama yang menginjakkan kaki ke bulan dan Neil Armstrong bukanlah siapa-siapa. Aku masih tak percaya apakah ini mimpi atau hal nyata. Segera kuraih sadarku dan akupun bersujud, sujud mengucap doa dan rasa syukurku. Segala pujian dan rasa syukur ku ungkapkan dalam hati kepada Ar-rahman yang maha pengasih. Setelah itu ku salami beliau dan berterima kasih telah mempercayakan beasiswa ini padaku.

Dan satu hal yang kuketahui, sang dekan ternyata memiliki rasa humor yang tinggi di balik wajah singanya yang garang, ketika aku melangkahkan kaki keluar ruangan beliau berkata, “saudara Rafli”, ujar beliau. “Ya pak”. “ada satu hal yang membuatmu belum bisa berangkat ke Jepang”, aku terkejut,”apa itu pak?”, Beliau menghela napas, aku penasaran, sangat penasaran. “skripsimu, selesaikan sripsimu tepat waktu”. Beliau tersenyum, “baik Pak, Insyaallah secepatnya. Saya permisi dulu Pak, Assalamu’alaikum”. Aku bergegas keluar ruangan.

Kini, dalam rangka menyampaikan kabar luar biasa ini, kabar yang membuatku jadi tidak bisa tidur nyenyak semalam. Aku bergegas pulang ke Padang, karena tak kan puas rasanya jika hanya memberi kabar lewat surat, telepon, apalagi SMS. Yang terbayang olehku hanya satu. Senyum bahagia dari kedua orangtuaku. Aku teringat sesuatu dan langsung merogoh saku celana hitam dasarku yang sudah mengusam. Dengan hati-hati aku mengeluarkan sebuah belati kecil yang kujaga selalu. Halus mengkilap dan memiliki ukiran-ukiran Al-Qur’an pada setiap sisinya. Kenang-kenangan dari Ayah sebelum aku berangkat ke Jawa untuk menuntut ilmu. Memori yang masih sangat jelas tercetak dibenakku.

Malam Senin, ketika baru selesai shalat isya aku duduk di beranda depan sambil menatap Adenium ibuku yang berjejer rapi dalam pot cantik berwarna merah muda. Tak sadar, ayah telah berdiri di sampingku dan terbatuk kecil. Aku tersentak. Beliau pun duduk di depanku.

“Raf, Ayah boleh bicara sebentar nak ?”,ucap ayah datar. “Iyo yah. Ada apa Ayah ?”, jawabku penasaran. Ayah menarik nafas panjang. “Sebentar lagi Rafli akan berangkat jauh. Pulau Jawa itu bukan tempat yang dekat nak”. Aku tertuduk.

“Dan Rafli harus tahu, Ayah ndak punya apa-apa”. Aku semakin tertunduk. “kamu tahu, ayah Cuma pegawai negeri biasa. Gaji ayah ndak banyak do nak”. “Satu hal yang bisa merubah hidup Rafli. Ilmu, Cuma ilmu”. Nada ayah sedikit meninggi.

“Ayah, rafli tahu Yah. Rafli berangkat kesana untuk belajar. Tak kurang dan tak lebih”. Ayah tersenyum. Aku tak dapat menangkap arti senyum ayah tadi. Terlalu dalam bagiku.

“Jaga dirimu disana. Jangan pernah berhenti untuk bekerja keras, dan jangan pernah lupa untuk selalu bertawakkal pada Allah nak. Karena tanpa itu dirimu tak kan pernah mencapai kesuksesan. Dan jangan pula kamu berputus asa di tiap kerikil yang menghadangmu. Ingat, putus asa Cuma perilaku tercela nak”. “Oh, tunggu disini sebentar. Ayah punya sesuatu untukmu”.

Aku jadi penasaran. Apa yang akan ayah beri padaku. Ternyata Ayah memberiku sebuah belati cantik berwarna perak keemasan yang memiliki ukiran lahfadz Al-Qur’an di kedua sisinya. Tanpa gores sama sekali.

“ini memang bukan barang yang sangat mahal. Tapi ada kisahnya yang membuat belati ini jadi sangat berharga”. Ucap Ayah.

“Rafli boleh tahu yah ?”. Namun Ayah Cuma menggeleng lembut. Belum waktunya nak. Nanti jika mimpi dan cita-citamu sudah kamu raih ayah akan ceritakan semuanya”.

Sudah hampir empat tahun belati ini menemani hari-hariku, dan menjadi pembela diriku.  Namun tak pernah ada rasa bosan yang menghiggapiku. Rasanya menyenangkan melihat tiap jengkal bagian belati ini. Seakan mengembalikan ingatan tentang ayah dan segala kisah yang telah di janjikannya.

“Permisi Pak”, seorang pramugari telah berdiri di samping bangkuku. Aku terkejut karena aku tengah melamun. Sempat kutatap wajahnya sekilas, namun aku segera tertunduk, bawaan sama wanita aku memang begini, menjaga hati.

“Anda butuh sesuatu Pak ?”, ucapnya lembut. Aku masih diam, tertunduk. Apalagi setelah melihat wajahnya aku jadi teringat seseorang. Seorang gadis yang dulu pernah kukenali. Maaf ku rasa aku sudah cukup dewasa untuk memikirkan masalah wanita. Pernikahan.

“Maaf, Pak. Apa ada yang bisa saya bantu ?”, suaranya sedikit di perkeras. “Eh, maaf tapi saya belum butuh sesuatu. Terimakasih”, jawabku gugup. “Baiklah, kalau begitu selamat menikmati kembali perjalanan Anda Pak”, Ia tersenyum dan beranjak mengunjungi penumpang lain.

“Oh ya, Mbak”, Ia berbalik kepadaku lagi, dan bertanya. “ada apa Pak ?”.

“Maaf saya belum cukup tua untuk di panggil bapak”, sedikit menklarifikasi. Ia terseyum kaku, dan sebelum pergi Ia berkata, “baiklah… eee… Mas”, Ia sedikitku bingung mau memanggilkan apa.

“Jika ada yang dibutuhkan, kami siap melayani anda. Permisi Mas”, Ia tersenyum lagi dan menghilang menuju kabin lainnya.

Pramugari itu mengingatkanku terhadap Nabila. Teman satu SMA ku. Aku mengenalnya kelas 11 ketika kami sama sama ditugaskan mengikuti sebuah lomba. Dia juara Satu dan aku mendapatkan juara dua. Dari sana awal perkenalan kami karna kami tidak sekelas. Dan subhanallah dia wanita yang luar biasa. Lantas aku terkena virus love at the first sight? Oh tidak kawan. Aku hanya kagum akan akhlak dan ilmu nya yang luar biasa. Ya saat itu hanya itu. Aku kembali bertemu dirinya saat ramadhan 2 tahun lalu di Bogor, walau satu alumni tidak membuatku bisa bertemu dengannya sesering mungkin. Ramadhan tersebut, aku cuma beruntung menjadi instruktur pesantren kilat karena di ajak oleh seorang sahabat yang menetap di Bogor dan dia juga ada disana. Disana perasaanku menjadi aneh. Dia sudah menjelma menjadi wanita yang luar biasa. Astagfirullah jangan su’udzhan. Apa salah aku merasakan ini? Hei kawan.aku Cuma berbagi rasa ini dengan Allah penciptaku Yang Maha Merasa dan sedikit dengan mu. Kini, ia tengah menyelesaikan studinya di Institut Pertanian Bogor, jurusan statistika, semester akhir sama sepertiku. Berarti sebentar lagi wisuda. Dan juga sebentar lagi akan menanti pasangan hidup. Aku berencana akan melamarnya kawan. Hal ini sudah aku bahas dengan orang tuaku sejak beberapa bulan yang lalu, setelah lama berdiskusi via telepon aku mendapat persetujuan, dan di Jakarta aku juga sudah menemui ustadz kenalanku untuk konsultasi, dan tentu yang utama diskusi dengan Allah, melalui shalat malam dan istiqorah.dan itu salah satu tujuanku pulang, menemui orang tuanya. Semoga barakah, Amin.

Sudah hampir empat tahun aku berkuliah, masih belum ada yang bisa menggantikannya. Dan kini bermodal cinta, harapan, pantang putus asa, dan sedikit nekat aku mencoba untuk menyatakan kesungguhan ku pada orang tuanya. Karena aku tidak ingin ada yang menganjal pikiranku ketika menuai ilmu di Jepang nanti, sekalipun Nabila. Makanya doakan aku teman.

“Kyaaaaaa !”. Ada goncangan hebat yang dirasakan oleh semua penumpang. Mereka terpekik panik, cemas jika terjadi kecelakaan. Karena bukan hal baru jika di Indonesia sering terjadi kecelakaan lalu lintas pada transportasi udara. Tapi masalahnya, kenapa harus terjadi pada pesawat yang aku tumpangi ?

Pramugari sibuk menenangkan penumpang yang mulai panik. Dan menunjukan hal yang harus dilakukan di saat keadaan darurat. Namun tetap ada sedikit goncangan-goncangan kecil yang terasa. semua penumpang semakin panik karena keadaan yang tidak jelas ini. Apakah pesawat akan mendarat dengan selamat atau akan jatuh ? aku beristighfar sebanyak mungkin, aku tahu Allah bisa saja menakdirkan aku mati disini. Namun aku belum mau menghadapinya. Bukan karena takut, tapi karena masih banyak mimpi yang belum kuraih. Dan kabar ini belum sempat aku sampaikan.

Pesawat terasa sedikit oleng. Namun Pilot mengambil keputusan yang cukup kontrofersif. Terbang hingga padang. Pramugari mengabarkan bahwa kami telah berada di atas langit Sumatera Barat. Ada sedikit rasa lega pada seluruh penumpang. Tak terkecuali diriku. Namun ketika pesawat telah menuju Bandara Internasioanal minangkabau, kerusakan mesin semakin parah. Ada letusan pada mesin sebelah kanan. Lalu mesin kanan pun mati total. Akhirnya pesawat kehilangan tenaga dan menukik tajam menuju bumi,sang pilot masing berusaha mengendalikan pesawat agar bisa mendarat darurat. Semuanya mulai kabur. Namun aku tetap berusaha untuk bertakbir dan mengucapkan kalimat syahadat. Para penumpang lain pun tak henti-hentinya beristighfar. Sampai akhirnya semua putih dan putih. Aku tak tahu lagi berada dimana.

 

“pasien korban kecelakaan pesawat Lion Air jurusan Jakarta – padang yang masih selamat ada di paviliun melati”, ucap seorang perawat lantang. Keluarga Rafli segera menyusul sumber suara. Mereka menuju Rumah Sakit M.Djamil Padang setelah mendengar kecelakaan yang dialami pesawat itu dari radio. Beruntung pesawat tersebut jatuh 2 KM dari bandara. Dan dari berita dari radio itulah mereka mengetahui anak mereka Rafli menumpangi pesawat itu.

Dengan perasaan cemas dan penuh harap Ayah dan Ibu Rafli menuju pavilliun melati, mereka takut jika ternyata disana tidak ada Rafli, anak mereka. Namun dengan hati yang tegar. Mereka masuk kedalam ruangan itu. Satu persatu para korban yang selamat mereka susuri. Mereka jalan dengan perlahan agar tidak ada satu dipanpun yang terlewatkan. Makin keujung makin  kaecil harapan mereka. Dan benar setelah di lihat beberapa kali memang tidak ada Rafli disana. Ibu Rafli tak bisa menahan air matanya lagi. Ia menangis meratapi anaknya. Sang Ayah yang berusaha tegar akhirnya menitikkan air matanya juga begitu juga dengan semua kerabat yang menyertai. Mereka masih tidak percaya Rafli telah tiada.

Lalu diambang pintu pavilliun itu telah berdiri seorang pemuda. Tubuhnya penuh luka-luka dan kepalanya juga diperban, dan bajunya yang telah koyak memerah karena darah yang belum mengering.

Dia Rafli. Pemuda tegar itu ternyata selamat dari kecelakaan maut yang hampir menelan nyawanya. Dan jadi satu-satunya penumpang yang menderita luka paling ringan. Ibunya yang tadi meratapi anaknya kini Cuma terisak. Ada kebahagiaan yang terlukis di wajahnya. Ayahnya telah berhenti menitikkan air mata, dan menghela napas kelegaan. Bibirnya komat kamit mengucap rasa syukur, dan sebagian kerabat yang lain langsung tersujud menyampaikan rasa syukur pada Allah. Ayah Rafli berjalan mendekati rafli, beliau tersenyum melihat anak laki-laki satu-satunya ternyata masih hidup.

Rafli berjalan cepat menuju kerumunan keluarganya. Langkahnya lemah. Dan akhirnya tangisnya meledak setelah memeluk kedua orang tuanya. Begitu pula dengan Ayah dan Ibunya. Mereka seakan tidak percaya bahwa yang ada di pelukan mereka adalah anaknya. Mereka semua berpelukan erat sekali dan tak ingin melepaskan pelukan masing-masing.

“Ayah… Ibu… “, Rafli masih terisak-isak

“Rafli… Pulang… “.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s