Papaku, Ayah no 1 dihatiku…..

siluet-orang3-250x205

Pagi ini kemarin, ya baru kemarin, ringtone HP ku kembali bergema, mengalun mengisi segala ruang peristirahatan di wismaku tercinta, namun belum sempat aku meraih si HP, deringnya tak terdengar lagi, senyap.

Kulihat siapa yang tadi menelpon, di layar si android mungil ini, tertulis tulisan, “1 missed call, PAPA”

ah, Papa ternyata yang menelpon, ada rasa su’udzhan terlintas di benak, mencemari hati. ah, kabar kecelakaan dan kerusakan motorku mungkin sudah dibawa angin, hingga beliau tahu, ah itu cuma prasangka belaka, ya memang, aku telah bercerita pada mama, 2 hari sebelumnya, bahwa aku membutuhkan dana yang cukup besar, untuk mereparasi motorku, yang telah mengalami kecelakan di Padang Panjang beberapa hari yang lewat, aku memohon pada mama, agar hal papa tidak mengetahui hal ini. Aku tidak ingin menambah kepanikan dan beban berat beliau sebagai Imam dalamm keluarga ku, namun tidak akan selamanya mama bisa menutupi hal ini, karena hanya akan ada kedustaan yang akan terjadi jika tetap bersiteguh menyembunyikan ini, aku jadi takut apakah beliau sedih, kecewa, panik, atau marah besar atas keteledoran sikap ku, Ini yang membuatku mengurungkan niat untuk menelpon kembali, ditambah lagi aku juga memang kere, tidak ada pulsa.

Setelah aku tunggu beberapa saat, HP ku pun berbunyi tidak. Ah, ini membuatku bersemangat untuk tidak menelpon balik.

-+-+-+-

Pukul 04.55, Alhamdulillah aku telah menyelesaikan sunnah sahurku, menjelang shubuh dari beberapa kamar, Sayup sampai, sudah terdengar alunan ayat suci Al-Qur’an, aku pun berniat mengikuti juga, sebagian lain memilih berwhudu dan melaksanakan shalat sunnah fajar. Belum sempat aku memulai, HP ku bergetar lembut tanpa nada, ada telpon masuk , Mama kiranya Aku angkat telpon itu, “assalamu’alaikum ma”, aku membuka percakapan.

”wa’alaikumsalam wr wb, udah sahur nak?” “Alhamdulillah baru selesai ma, mama gimana?”

”iya, disini juga baru selesai, gimana keadaan maag nya? Apa sudah mendingan?” “Alhamdulillah, udah ma.

Berkah puasa, maaf ma ada apa.telpon shubuh begini, apalagi bentar lagi shubuh?”

”nanti susah nelpon nya lagi, mama cuma mau nanya, kok telpon papa kemaren tidak di angkat? Papa cemas kemaren, dengar berita di tipi, di radio ada gempa di Padang, papa mau nanya kabar nak?” Aku terdiam, jadi ini tujuan Papa menelpon, lidahku mulai kelu.

“oh, kemaren hape terletak di.kamar saja ma, jadi telat mengangkatnya. Maaf ma, boleh bicara dengan papa ma?”

“sebentar”, lalu mama memindahkan HP beliau ke tangan papa.

“assalamu’alaikum”, suara serak basah, penuh wibawa mengalir dari speaker HP ku. Entah kenapa mata ku mulai berat, namun ku tahan dalam dalam rasa sesak di dada ini, ku jawab dengan lembut ucapan salam beliau,

”wa’alaikumsalam wr wb, sehat pa?”, ucapku penuh basa basi. “Alhamdulillah sehat, gimana kabar nya kemaren nak? Aman? Ada terasa gempa kemarin?”, aku diberondong pertanyaan bertubi tubi dari papa. Suaranya tenang namun tidak dipungkiri ada rasa cemas pada dirinya. “aman pa, Alhamdulillah. Maaf pa, ndak ada terasa gempa kemaren pa, mungkin ndak kuat kali”

”Alhamdulillah, ndak terasa? Ya sudah lah, ndak apa apa kan? kapan pulang nak?”

”belum tahu juga pa, karena sebantar lagi ada kuliah lapangan, jadi harus melapor ke lokasinya dulu”

”usahakan cepat, baju lebaran belum kan?” Ya Allah Ya Rabbi, dadaku bergemuruh, mataku tak disadari telah menetes bulir bulir bening, baju lebaran? Itu kata beliau. Ah, aku masih di anggap anaknya yang masih ingusan yang masih harus dimanja. Jadi itu alasan Papa menelpon kemarin, dan di segala kesibukan beliau, masih terlintas untuk membelikan baju baru untuk anaknya yang telah menginjak umur 20 tahun lebih. Cukup lama aku terdiam, menguasai diri agar beliau tidak tahu kondisiku di seberang telpon.

”udah besar begini kok masih, dibelikan juga pa, ndak usah lah, ndak apa apa. Kan liburnya juga belum jelas kapan nya”, aku mencoba berkilah.

”yang penting kalau dah libur, cepat pulang”

”iya pa, InsyaAllah”

“dah adzan disini nak, udah dulu lah, Assalamu’alaikum”

”wa’alaikumsalam wr wb”, telpon di.putus. Aku tidak bisa membendung air mataku, di shubuh ini aku meratapi diri, meratapi hal yang terkadang sering terkhilafkan, merusak batin, mencencang jiwa, yakni belum sempat memberikan yang terbaik untuk kedua orang tuaku tercinta Ah, aku takut aku belum bisa membuat papa tersenyum bahagia penuh bangga pada anak anak nya. Terutama pada diriku, andai kata pun hanya air mata yang kan ada mengalir pada pipi nya, aku. berharap itu adalah air mata, bahagia. birrul walidain, maafkan aku papa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s