Bukan Jamaah Malaikat

jejak langkakahku di pasir senja

Bismillahirrahmanirrahim…

Lucu juga, seorang mahasiswa yang berusaha mendekatkan diri dan mengenal Islam secara kaffah dan memutuskan bergabung di jamaah dan harokah dakwah selalu dikaitkan dengan seseorang yang luar biasa alim, ahli ibadah, dan lagi tahu segala hal ihwal tentang Islam secara gamblang. Tidak juga kawan.  Maaf, bukan menyangsikan ikhwah wa akhwat fillah yang menggabungkan diri kedalam jamaah dakwah ini, tapi semuanya memiliki proses yang sangat panjang. Jika harus jujur,  yang bergabung dalam jamaah ini bukan selalu seseorang yang berlatar pesantren, Tsanawiyah, Madrasah, atau berbagai macam lembaga pendidikan Islam lainnya. Dan mayoritas manusia yang ingin bergabung bukanlah mereka yang didasari ilmu agama yang kokoh, tapi segilintir orang yang telah dikirimi Allah SWT hidayah serta rahmat dan kekuatan hati untuk menolong agama Allah. Mereka yang terkadang masih buta akan keindahan Islam dan masih awan akan masalah dakwah. Mereka yang dulunya canggung dengan ibadah, tapi dengan sebuah proses tarbiyah, bisa berubah jadi manusia yang lebih manusiawi lagi. Seperti seseorang yang ana kenal, seseorang yang dulunya preman kelas hiu, tidak pernah mengenal hijab, dan shalat wajib masih sangat sering bolong bolong. Kini, menjadi motor penggerak aktivitas dakwah di kampusnya, ibadah sunnah jarang sekali terlewatkan, apalagi yang wajib. Padahal jika kita tanya latar pendidikannya tidak ada satupun jenjang pendidikan yang bernuansa Islam yang pernah beliau cicipi. Subhanallah. Tapi ada suatu ketika si ikhwah melakukan suatu kesalahan yang cukup fatal. Langsung saja, sebuah penghakiman datang kepadanya. Sebuah judge yang kurang ahsan mengingat si ikhwah bukan seorang yang ammah.

Ikhwah yang menjadi contoh kita tersebut bukan langsung terlahir luar biasa seperti itu, banyak rintangan serta cobaan yang menemani jalannya dalam menuju kekaffahan. Semua butuh proses dan waktu dalam pencapaian itu semua, dan seringkali dalam proses itu kita tersandung kerikil kerikil dunia yang membelokkan langkah kita, keluar dari haluan dakwah. Kerikil yang menjadi penguji sampai dimana azzam kita dalam berubah menuju manusia yang lebih baik, kerikil yang membuat kita berbuat khilaf dan salah. Kerikil yang membuat kita bisa bertindak tidak benar dan keliru, dan bahkan futur. Kerikil kerikil yang menghancurkan nilai ukhuwah, kerikil kerikil yang mematikan ghirah dakwah, dan berbagai kerikil lainnya.

Nah, terkadang ada satu hal yang utama yang luput dari ingatan kita. Kita berada dijamaah manusia, bukan jamaah malaikat. Kita adalah jamaah yang bisa dan harus mentolerir segala macam kerikil yang menghadang. Kita bukan malaikat, yang bahkan tidak akan mempertanyakan apa apa jika Allah memerintahkan untuk mencabut nyawanya sendiri. Kita manusia yang memiliki akal dan juga nafsu. Sehingga ada saatnya jiwa kita mengikuti akal dan terkadang malah mengikuti nafsu. Dan berada pada titik terendah dari keimanan kita. Naudzubillah mindzalik.

Namun sebagai seseorang yang diikat persaudaraan dengan talian terkuat akidah, tentu bukan hal yang terlalu menakutkan jika tiba tiba kefuturan mulai menjakit kedalam diri. Karna kita memiliki saudara yang siap mengingatkan kita dan memacu kembali ghirah kita. Karna hakikatnya seorang muslim itu diwajibkan untuk saling menasehati.

“ kecuali orang orang beriman dan mengerjalan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran “ ( Q.S Al-‘Ashr : 3 )

Jangan lantas karena ada sebuah kesalah kecil yang dilakukan seorang saudara lalu kita merasa kecewa berat dan merasa dakwah bukan jalan yang baik karena ada orang orang yang berbuat salah. Oh, tidak bisa kawanku. Kita manusia, bukan malaikat yang tak pernah salah. Tidak sepantasnya ketika dalam jalan ini kita menemukan satu hal yang tidak sesuai dengan konstitusi dakwah yang kita kenal, lantas kita mundur begitu saja? dan merasa kecewa bukan kepalang?

Tanyakan lagi dalam diri kita, apa niat kita menginjakkan kaki dijalan dakwah ini? Karena Allah SWT kah? Atau karena seseorang? Atau karena sesuatu hal? Jika jawabannya karena Allah SWT tentu kita tak akan pernah merasa kecewa dengan apapun yang terjadi karena hakekatnya kita mengejar ridho Allah bukan yang lainnya. Tapi jika jawaban kita melenceng karena seseorang dan karena sesuatu dan lain hal. Maka wajar jika kita menemukan kekhilafan di jalan ini langsung merasa kecewa dan bahkan memutuskan untuk keluar dari jalan dakwah ini.

Dari amirul mukminin Abi Hafsh Umar bin Khattab ra. Berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,

                “ Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya (akan diterima) sebagai hijrah karena Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa hijrahnya karena dunia yang ia cari atau karena wanita yang ia nikahi, maka ia akan mendapatkan apa yang ia tuju. “

( diriwatkan oleh dua imam ahli hadist : Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al-Bukhari dan Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairy An-Naisaburi, di dalam kedua kitabnya yang merupakan kitab hadist yang paling shahih )

Oleh karena itu niat kembali menjadi satu hal pokok dalam menghadapi kekecewaan ini, jika kita berniat karena Allah dan Rasul-Nya, maka Allah dan Rasul-Nya yang ia akan temukan dalam perjalanan dakwah ini, tapi jika karena dunia dan seseorang, maka hanya kekecewaan lah yang akan dia temui sejauh ia melangkah di jalan dakwah.

Maka luruskan kembali niat, perbaharui lagi tujuan kita, dan bulatkan azzam kita, Insyaallah akan banyak kemanisan yang akan kita temukan dijalan ini. Ingatlah, kita tidak berada di barisan malaikat yang sempurna dan tidak memiliki nafsu tapi kita berada di barisan manusia yang jauh dari kata cukup dan sempurna, maka ukhuwah dan kebersamaan kita dalam jamaah ini lah yang membuat kita jadi solid dan mampu menutupi kekurangan kita.

Wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s