Minang dibuang kabau disayang

rumah gadang

Indonesia merupakan salah satu dari negara-negara di dunia yang memiliki banyak keunikan, mulai dari segi geografis, panorama alam, dan terutama kebudayaannya. Didukung dengan bentuk archipelago, indonesia memiliki ratusan ciri khas dan keunikan pada tiap-tiap suku bangsanya yang tentunya mempengaruhi setiap kebudayaan. contohnya kebudayaan batak, jawa, dayak,melayu, asmat, bugis, dan minangkabau.

Dengan kebudayaan yang beragam ini indonesia rentan terhadap serangan-serangan budaya asing yang berusaha mengenyampingkan budaya indonesia itu sendiri, dan bahkan ada beberapa negara yang berani mencuri, mendeklarasikan, dan mencetuskan hak paten atas kebudayaan indonesia. Sebuah aib yang sangat memalukan bagi bangsa ini. Fenomena ini sudah mulai merebak ke daerah-daerah, tak terkecuali Sumatera Barat dengan kebudayaan minangkabaunya. Berbicara tentang minangkabau tentu akan lebih baik jika kita mengenal Minangkabau itu secara langsung.

Sebuah kebudayaan yang tunbuh dan berkembang di daerah Sumatera Barat tepatnya di daerah Luhak nan Tigo (Agam, Tanah Datar, dan Limapuluh Kota). Menurut tambo atau legenda rakyat, Minangkabau mulai berkembang pada saat ”gunuang marapi sagadang talua itiak” (gunung merapi sebesar telur itik) dimana menurut tambo, seorang putra mahkota dari raja Zulkarnaen yang bernama Maharaja Diraja yang mengembara dan membuka pemukiman baru disana yang menjadi cikal-bakal minangkabau dan semakin berkembang hingga pada saat ini.

Kebudayaan minangkabau hidup ditengah-tengah masyarakat yang sangat menghargai alam. Bukan hanya itu, masyarakat minangkabau juga selalu belajar pada alam, ini tertuang dalam falsafat mereka yang berbunyi ”alam takambang jadi guru” (alam terkembang dijadikan guru) oleh karnanya banyak sekali falsafat-falsafat mereka yang mencerminkan kehidupan dan sifat alam, masyarakat minangkabau juga memiliki keteraturan sosial yang tinggi, seperti sistem pemerintahan dan kepemimpinannya dan juga rasa sosial antar sesama yang tinggi, sehingga terbentuk suatu kesatuan susunan masyarakat yang solid, ditunjang dengan akidah dan ketauhidan mereka yang selalu berpedoman kepada Kitabullah (Kitab Allah SWT) yang dengan tegas terdapat dalam falsafat sekaligus pedoman hidup masyarakat minangkabau, ”adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah” (adat bersendi agama, agama bersendi Al-qur’an) sebuah ideologi yang membuat diri setiap orang di minangkabau menjadi pribadi yang berhati-hati, memikirkan berkali-kali apa yang akan dilakuka, karena akan banyak sekali resiko yang tidak diinginkan jika terjadi pelanggaran walaupun hanya sebesar debu.

Antara adat dan agama (Islam) selalu berjalan berdampingan menjadi sebuah pedoman hidup yang tak terbantahkan lagi bagi manusia-manusia minangkabau. Namun semua hal di atas takkan bertahan lama, dengan semakin kencangnya badai globalisasi di tanah air membawa dampak buruk bagi seluruh kebudayaan di indonesia dan khususnya minangkabau, budaya ini tidak terlalu kuat untuk menghadapi terpaan globalisasi ditambah lagi masyarakat yang sudah terhipnotis dengan budaya asing dan seolah-olah tak mengenal lagi budayanya sendiri. Banyak sekali orang-orang berprediket suku bangsa minangkabau namun berperilaku menyimpang dari ketentuan adat minangkabau itu sendiri, sebuah pembuktian bahwa kekalahan budaya minangkabau di medan peperangan melawan serangan budaya asing.

Jika dilihat secara kasat mata, memang kebudayaan kita tidak terlalu diusik selain dari bentuk-bentuk pengenyampingan budaya minangkabau, namun jika kita telaah lebih jauh ada makna terselubung dari balik ini semua, memang budaya asing yang masuk belum terlalu represif dengan melakukan propaganda langsung untuk memboikot budaya minangkabau, namun lebih bersifat kooperatif dengan taktik yang perlahan-lahan membunuh dari belakang, lambat tapi pasti. Jika hal ini terus berlanjut lagi, bukan tidak mungkin jika kita kehilangan minangkabau di tanah kelahirannya sendiri. Kenapa? Dengan semakin matinya perasaan orang-orang akan rasa kepemilikan budaya ini membuka sebuah celah bagi negara lain untuk mengambil alih budaya minangkabau, contohnya negara tetangga kita, Malaysia. Tetapi, bukan hal mudah untuk bisa kembali menimbulkan kembali kesadaran akan rasa memiliki ini, paling tidak butuh waktu minimal lima tahun, karena jiwa nasionalisme telah terkikis oleh arus zaman modernisasi yang merubah pola pikir para remaja bahwa kebudayaan daerah tidak memiliki suatu keuntungan jika di pelajari atau dilakukan. Globalisasi yang membuka jalan untuk kemajuan bangsa malah menjadi momok sendiri bagi kebudayaan di indonesia terutama minangkabau. Namun harapan masih ada untuk kembali membuka kesadaran para kaum muda untuk kembali mencintai budaya minangkabau seperti pembudayaan program ”baliak ka surau” (kembali ke mesjid), peningkatan mutu pembelajaran budaya alam minangkabau (BAM) di sekolah-sekolah, kembali memasyarakatkan pendidikan berbasis adat dan syarak, memaksimalkan pemakaian bahasa daerah, dan lomba-lomba yang bertemakan kebudayaan minangkabau dan masih banyak hal lainnya yang bisa membangkitkan jiwa patriotisme terhadap budaya minangkabau. Bukan hal itu saja, pemerintah juga harus berperan aktif dalam penanggulangan masalah ini, dengan cara memfilter budaya asing yang masuk ke indonesia dan khususnya sumatera barat, dan berusaha membangkitkan kembali pesta-pesta budaya yang menjadi trade mark budaya minangkabau.

Jika kesadaran kita tidak datang dari hati masing-masing individu, maka semua hal di atas juga akan menjadi percuma, mulai saat ini mari kita bertekad menjadi masyarakat minangkabau sejati yang cinta pada kebudayaan minangkabau dan bertekad untuk menjaga dan melestarikannya, dan jangan pernah berpikir untuk mencintai budaya asing walau itu indah, jangan  sampai kita menjadi individu minangkabau yang membuang minangnya dan hanya mencintai kabaunya tanpa berpikir resiko yang akan menanti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s